
Demi menjaga nama baik dan reputasinya,pak Dirga menawarkan pilihan damai kepada Sukma agar dia tidak melaporkan kasusnya kepada polisi,
Bu siska nampak memohon kepada Sukma untuk tidak melaporkan Reiner,
Sedikit merasa kasihan melihat Bu Siska sedih dan terpuruk,Sukma pun membangunkan Bu Siska dan mengepalkan tangannya,meminta maaf pada Bu Siska,
"Maafkan Sukma Bu,Sukma begitu sangat menghormati kalian,tapi Sukma harus melaporkan Reiner dan teman-temannya,agar tidak ada lagi wanita bernasib sama.seperti Amira"
Ucap Sukma pada Bu Siska,
Pak Dirga dan Bu Siska tidak bisa memaksa Sukma untuk menawarkan pilihan damainya,hingga dengan hati yang kecewa mereka pun langsung pergi dari tempat itu dengan penuh amarah yang mereka pendam sendiri,
Sukma pun tidak bisa berbuat apa-apa,tekadnya sudah bulat,dia akan tetap melaporkan Reiner kepada polisi,
...
Sepanjang perjalanan pak Dirga dan Bu Siska menggerutu kesal kepada Sukma,
"Wanita itu sangat angkuh pak,kita tidak bisa memaksanya untuk berdamai,lalu kita harus bagaimana?"
Tanya Bu Siska pada pak Dirga,
"Kamu tenang saja,aku tidak akan membiarkan anak kita sampai di penjara"
Jawab pak Dirga tegas sambil menyetir mobilnya,
Amira yang saat itu mulai terbangun,langsung memeluk Sukma dengan erat kala melihatnya berada tepat di samping tempat tidurnya,
"Kaka,jangan tinggalkan aku,aku takut,jangan tinggalkan aku ka,jangan pergi"
Ucap Amira tak henti menyuruh Sukma untuk tidak meninggalkannya,seperti mempunyai firasat buruk yang akan terjadi pada kakaknya itu.
Sukma pun merasa heran,karena tidak biasanya Amira bertingkah aneh seperti ini,Amira terlihat seperti wanita biasa yang sehat,tidak seperti biasanya yang bertingkah seperti orang tidak waras,
"Kakak tidak akan pergi kemana-mana dek,kamu tenang saja,sebentar lagi kamu akan sembuh "
Ucap Sukma dalam pelukan Amira.
Keduanya pun tersenyum berharap takdir akan berpihak kepadanya.
Dilain tempat Reiner ,Sadam dan Rio sudah mulai merasa tidak tenang dengan ancaman Sukma padanya yang akan menjebloskannya ke penjara.
Rio dan Sadam bertanya kepada Reiner,apa yang akan mereka lakukan sebelum Sukma benar-benar menjebloskannya ke penjara,
Reiner berteriak kencang karena tekanan ini,
__ADS_1
"Ahh".
Semua barang yang ada di sekitar Reiner dia lempar dan banting dengan keras,
"Sukma..."
Tangan Reiner mengepal seakan ingin menghajar Sukma jika ada dihadapannya,
"Kalian juga berpikir dong,aku pusing"
Ucap Reiner dengan penuh amarah dihatinya pada kedua temannya karena mereka tidak memberikan jalan keluar untuk masalah mereka.
Sadam dan Rio sebenarnya juga sangat depresi dan takut dengan ancaman Sukma,sehingga mereka belum bisa berpikir dengan jernih apa yang akan mereka lakukan kepada Sukma.
Sadam pun mulai bertanya siapa teman yang membantu Sukma mencari bukti rekaman cctv itu,Sadam memberikan ide untuk menemuinya dan mengajak dia berkompromi untuk bekerja sama dengannya agar Sukma tidak memberikan bukti dan melaporkannya pada polisi.
Ide Sadam begitu di terima oleh Rio dan Reiner,dengan segera mereka menyuruh anak buahnya untuk mencari informasi siapa teman Amira yang membantu Sukma,
"Aku ingin kamu mencari tahu,siapa yang telah membantu Sukma mencari bukti itu,cepat cari "
Perintah Rio pada anak buahnya.
Reiner pun tak sabar ingin bertemu dengan si penolong Sukma.
Pak Dirga dan Bu Siska juga menyusun siasat untuk menghentikan Sukma melaporkan Reiner dan teman-temannya ke polisi,
"Aku ingin kau menghentikan wanita ini,sebisa mungkin jangan sampai dia pergi ke kantor polisi "
Perintah pak Dirga pada anak buahnya untuk mencari dan menghentikan Sukma.
"Baik pak,"
Jawab anak buah pak Dirga pun segera melaksanakan perintah tuannya itu,
Sukma yang masih berada di rumah sakit jiwa menemani Amira merasa hari ini juga dia harus melaporkan kasus pelecehan yang menimpa adiknya itu,
Sebelum dirinya berubah pikiran karena teringat akan kebaikan keluarga pak Dirga kepadanya,dia langsung menghubungi Vidia untuk menyusulnya ke kantor polisi membawa salinan rekaman cctv yang mereka dapat dari gedung tempat kejadian.
Sebelum berangkat ke kantor polisi,Sukma menyempatkan diri untuk mendatangi makam ibunya terlebih dahulu,
"Amira,kakak pergi sebentar ya,jaga diri kamu baik-baik,kamu jangan khawatir semua suster disini baik kepadamu,Kaka janji,kakak akan kembali lagi dengan cepat"
Ucap Sukma kepada Amira sebelum pergi ke kantor polisi.
Amira menahan langkah Sukma dengan menarik tangannya dengan kencang,dia menggelengkan kepalanya pertanda tidak rela jika Sukma harus pergi meninggalkannya,
__ADS_1
Sukma pun tersenyum dan melepas secara perlahan genggaman tangan Amira kepadanya,
Sukma kembali memeluk erat Amira,begitupun dengan Amira,air matanya menetes sebelum Sukma pergi.
Sukma pun berlalu meninggalkan Amira di rumah sakit,
...
Vidia yang saat itu sedang bersiap menyusul Sukma ke kantor polisi,dibuat terkejut dengan kedatangan dua orang pria bertubuh besar menghadang jalannya menuju kantor polisi,
Vidia yang kala itu naik taksi,ternyata di buntuti dua orang preman dari apartemennya hingga pertengahan jalan,sehingga dua preman itu menyuruh Vidia untuk turun dari taksinya secara paksa.
Karena takut,dia coba hubungi Sukma dan memberitahunya jika dia sedang dalam kesulitan,
Telpon Vidia berhasil terhubung,namun dia belum sempat bicara karena handphone nya jatuh saat kedua preman itu masuk kedalam mobil dan merampas tas Vidia,
"Tolong,...
Apa mau kamu,jangan bawa tas saya"
Teriak Vidia minta tolong pada warga sekitar berharap ada yang menolongnya,
Dua preman itu terus menarik tas Vidia hingga akhirnya Vidia terhempas karena dua preman itu berhasil membawa tas Vidia yang berisi kan laptop dan bukti rekaman itu,
Semua teriakan minta tolong Vidia terdengar jelas oleh Sukma di seberang telpon,
Sukma pun mulai khawatir dan mencemaskan Vidia,
Sukma bersama aparat keamanan menuju tempat kecelakaan Puspa yang dibegal di taksi dengan melacak keberadaanya di ponsel,akhirnya Sukma menemukan posisi Vidia berada,
Suara sirine polisi terdengar jelas menuju tempat Diman vidia terperangkap,
"Vidia Vidia kamu tidak apa-apa"
Tanya Sukma cemas melihat kondisi Vidia yang shock karena pertama kalinya dia menjadi korban begal,itupun di dalam taksi yang menurutnya aman daripada jalan kaki.
Sukma tidak terlalu memikirkan bukti yang dia perlukan,saat itu dia hanya memikirkan kondisi Vidia yang terlihat sangat menghawatirkan,
"Ka Sukma maafkan aku kak?"
Ucap Vidia meminta maaf pada Sukma,dia terus menangis mengingat kejadian yang menimpanya,hingga tas dan seluruh isinya yang penting bagi Sukma,hilang dengan mudah.
"Sekarang kita mau apa lagi ,semua bukti kejahatan mereka ada didalam,dan sekarang semua bukti itu sudah tidak ada lagi,jadi percuma kita lapor ke kantor polis jika tidak ada bukti atau orangtua,
Dalam hati Sukma begitu yakin jika dia akan menyusul beo dengan segala
__ADS_1