
Bu Siska pun berangkat sendiri tanpa ditemani supir, karena supirnya sedang pergi menjemput Reiner.
Seperti biasa ibu-ibu pada umumnya, Bu Siska, Bu Sonia dan yang lainnya tampil glamor ala sosialita yang kaya raya.
Bu Sonia pun menanyakan keadaan pak Dirga pada Bu Siska.
"Bagaimana keadaan suamimu sekarang?"
Dengan dramanya, Bu Siska berlaga sangat sedih dengan keadaan suaminya yang masih belum bisa apa-apa.
Bu Siska mengatakan jika pak Dirga masih dalam pemulihan, jadi dia masih belum melakukan aktifitas apapun.
"Kasihan sekali, yang sabar ya jeng, semoga suaminya cepat sembuh"
Doa Bu Sonia akan kesehatan pak Dirga.
Bu Siska pun tersenyum dan kembali membahas agenda tujuan mereka mengadakan pertemuan.
...
Vidia pun akhirnya tersadar dan melihat Reiner ada disampingnya.
Vidia coba membangunkan Reiner, namun Reiner tak kunjung terbangun.
Vidia kembali memikirkan tatapan Amira kepadanya di mobil, Vidia melihat dengan jelas kemarahan Amira padanya.
__ADS_1
"Maafkan aku Amira?"
Gumam Vidia meminta maaf dalam hatinya dengan penuh penyesalan.
Rapat pun selesai,
Meeting pun berjalan lancar dengan hasil akhir jika Bu Siska harus pergi ke Samarinda untuk menyurvei kinerja LSM disana.
"Saya rasa pertemuan kita malam ini sudah cukup, untuk hasil akhir memutuskan jika ketua LSM tiap kota harus melihat sendiri ke lapangan guna melihat kinerja LSM masing-masing"
Ucap Bu Sonia pada semua ketua LSM yang datang malam itu, dan akhirnya Bu Siska menerima semua hasil akhir itu yang meminta dia untuk pergi ke kota lain dalam satu Minggu.
Pertemuan pun berakhir, satu persatu ketua LSM dari perwakilan mereka membubarkan dirinya masing-masing untuk pulang.
"Kami duluan ya Bu Siska "
Bu Siska pun hanya menjawab dengan senyumnya dan sedikit mengangguk.
Setelah semua sudah membubarkan diri, kini Bu Siska hanya bersama Bu Sonia, dia bertanya bagaiman keadaan di tempat yang akan dia datangi nantinya.
Bu Sonia pun mengatakan jika Bu Siska kota yang akan dia datangi memang masih belum seramai kota-kota lainnya, jadi Bu Sonia mengingatkan dirinya untuk berhati hati.
"Warga disana masih minim pengetahuan dasar Bu, jadi alangkah baiknya jika nanti Bu Siska datang kesana, berilah mereka sedikit ilmu pengetahuan agar mereka paham dan mengerti akan pentingnya ilmu, tapi Bu Siska tenang saja, saya meminta Bu Resti dan pak Amir untuk mendampingi Bu Siska disana"
Penjelasan Bu Sonia pada Bu Siska.
__ADS_1
"Baiklah Bu, terimakasih"
Keduanya pun berpamitan dan kembali pulang.
Namun disaat terakhir, Bu Siska merasa jika sedari tadi ada orang yang memperhatikan gerak geriknya.
Bu Siska coba mengamati setiap sudut cafe, namun tidak ada satu orangpun yang dia curigai, namun pandangannya tertuju pada wanita dibalik jendela cafe, dia pun segera keluar untuk melihat siapa wanita itu.
"Hei tunggu"
Teriak Bu Siska coba mengejar wanita yang mengintainya.
Namun wanita itu berlari menghindari Bu Siska yang terus memanggilnya.
Bu Siska pun akhirnya berhenti karena dirinya sudah merasa lelah.
Dengan nafas yang terengah Bu Siska terus melihat ke arah wanita itu dan betapa terkejutnya dia saat wanita itu membalikkan badannya melihat ke arah Bu Siska.
"Hah... Amira tidak, tidak mungkin "
Bu Siska melangkah mundur dari tempat dia berdiri,
Sosok Amira pun menghilang dalam sekejap mata.
Bi Siska pun merasa takut dan tidak tenang,
__ADS_1
"Tidak mungkin, aku pasti mengigau, tidak mungkin itu Amira, dia sudah tiada? Aku sendiri melihat pemakamannya"
Ucap Bu Siska menuju Ke dalam mobil.