Air Mata Cinta Dara

Air Mata Cinta Dara
Tangis dr Dara


__ADS_3

Dara pun kembali ke rumah sakit, dengan perasaan yang hancur akan kenyataan hidupnya jika Amira kini sudah tiada.


Wajah Dara terlihat sangat terpukul, dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya itu.


Hingga saat dia berjalan, dia tidak melihat jika Reiner juga sedang berjalan ke arahnya, Dara pun tak sengaja menabrak bahu Reiner dengan sangat keras, hingga Reiner merasa sedikit kesakitan.


"Astaga, maafkan saya pak"


Ucap Dara yang tidak tahu jika orang yang tidak sengaja dia tabrak adalah Reiner.


"Tidak apa-apa dokter, ITS oke, IM fine, tenanglah"


Jawab Reiner dengan tenang.


Mendengar suara Reiner yang menjawab permintaan maafnya, gejolak api balas dendam di hati Dara kembali memanas.


"Kamu...dasar penjahat "


Dalam hati Dara memanggil Reiner penjahat.


"Mengapa dokter berjalan begitu sangat terburu-buru, kelihatannya dokter juga sedang sedih?"


Tanya Reiner perhatian pada dr Dara yang ternyata semua perhatian Reiner begitu sangat dia benci.

__ADS_1


Dr Dara tidak menjawab semua pertanyaan Reiner, dengan wajah benci dan kesal, Dara berlalu meninggalkan Reiner.


"Kenapa dr Dara? Ada apa dengan dia? Wanita semua memang sama, mungkin dia baru saja putus dari pacarnya, dr Dara dr Dara.. boleh juga, dia sangat cantik dan tubuhnya juga lumayan seksi"


Pikir Reiner tentang dr Dara saat pergi meninggalkannya dengan wajah ketus.


...


Dara masuk ke ruangan dr Rafi, Disana dr Rafi sedang membuka lembaran kertas yang diberikan dr Aliya tentang identitas Sukma dirgantara, bayi adopsinya.


Namun belum sempat dr Rafi melihat, Dara membuka pintu ruangannya dan berlari kearahnya dengan menangis.


Dara memeluk dr Rafi dengan semua kesedihannya akan kematian Amira, adiknya.


Dara menangis tersedu di pelukan sang ayah angkat, dr Rafi pun bertanya apa yang terjadi padanya? Mengapa dia menangis?


"Amira ayah... Amira "


"Ada apa dengan Amira? Bukankah seharusnya kamu merasa senang karena sudah bertemu dengan adikmu? Dimana dia? Bagaimana keadaannya sekarang?"


Jawab dr Rafi menanyakan kabar adiknya.


Mendengar semua pertanyaan dr Rafi padanya mengenai Amira, Dara semakin tidak mampu menjawab semuanya.

__ADS_1


Dr Rafi pun melepaskan pelukannya, dan mengusap air mata Dara yang begitu deras, sehingga membasahi baju dokternya.


Dr Rafi menatap wajah Dara dengan lembut dan penuh kasih sayang, dengan tutur kata yang lembut, dan bahasa yang masuk di hatinya, dr Rafi meminta Dara untuk bicara semua yang terjadi padanya dengan tenang.


Dara pun merasa tenang saat dr Rafi menatap dan mengusap pipinya,


Dara pun mulai membuka suaranya untuk mengatakan jika sebenarnya Amira sudah tiada.


"Amira...


Amira sudah meninggal ayah"


Air mata yang mulai mengering kini kembali menetes.


Mendengar semua pernyataan Dara, sebagai ayah, dr Rafi pun kembali memeluknya, dia tidak ingin anaknya terus bersedih dengan semua yang terjadi pada adiknya.


Dr Rafi tidak tega bertanya kembali mengenai adiknya itu, dia membiarkan Dara sendiri yang bercerita semuanya, agar perasaannya sedikit lebih tenang.


Dan ternyata memang benar, di pelukan sang ayah Dara menceritakan semua yang terjadi pada adiknya itu.


"Amira dan bayinya sudah tiada ayah, mereka tidak selamat, mereka pergi meninggalkan aku untuk selamanya, untuk apa aku hidup sekarang jika orang yang menjadi tujuan hidupku sudah tiada ayah, lebih baik aku mati, aku tidak akan sanggup menjalani semua ini"


Jawab Dara mencurahkan semua isi hatinya pada sang ayah.

__ADS_1


Dr Rafi pun mendengarkan semua curahan Dara, meski hanya diam, namun pelukan dan belaian halus sang ayah mewakilkan jika dirinya akan selalu ada bersamanya apapun yang terjadi.


__ADS_2