Air Mata Cinta Dara

Air Mata Cinta Dara
Tatapan Reiner


__ADS_3

Pikiran Dara kini mulai menerka bahwa Reiner tahu jika dia adalah Sukma,


"Dia tidak boleh tahu jika aku Sukma"


Ucap hati Dara meyakinkan dirinya.


"Jadi kamu..."


"Maaf, saya terburu-buru,"


Dara melepaskan genggaman tangan Reiner dengan segera dan langsung berlalu meninggalkan Reiner menuju tempat penyimpanan darah.


Dengan langkahnya yang sedikit berlari, keringat Dara bercucuran, terlebih dia sangat khawatir jika Reiner mengetahui siapa dirinya, karena tataannya memperlihatkan jika dia mengenalnya.


"Aku harus tenang, tenang Dara, tenang, saat ini kamu adalah Dara, anak dari dr Rafi, kamu bukan lagi Sukma, jadi tenang ya"


Ucap Dara berbicara sendiri meyakinkan hatinya untuk bisa berusaha tenang.


Dara membawa darah untuk pak Dirga dengan sangat hati-hati, dia tidak mau sampai darahnya sedikit ternoda atau rusak, diapun segera kembali menuju ruang operasi.


Di depan pintu ruang operasi, Bu Siska dan Reiner masih menunggu keadaan pak Dirga dengan raut wajah mereka yang sangat cemas,


Dara sedikit tersenyum melihat kecemasan di wajah mereka.


"Kenapa aku merasa puas melihat wajah mereka yang sangat cemas dan takut"


Pikir Dara dengan senyum bahagianya.


Dara coba melangkah lebih tenang dari sebelumnya melewati Reiner,

__ADS_1


Reiner pun menatap Dara dengan dalam, ingin sekali dia bertanya tentang keadaan ayahnya, namun sikap Dara yang terkesan terburu-buru membuatnya mengurungkan niat untuk bertanya.


"Sudahlah aku tunggu dokter keluar nanti, biar dia sendir yang memberitahu keadaan papa"


Reiner pun kembali duduk dan berdoa yang terbaik untuk ayahnya.


"Darahnya sudah siap dok"


Ucap Dara pada dr Andre.


Merekapun melanjutkan operasi pak Dirga dengan sangat teliti.


***


Banyak pesan masuk di ponsel Bu Siska yang menanyakan kabar tentang suaminya itu,


Dan disaat genting dimana pak Dirga sedang bertaruh nyawa didalam, Bu Siska dengan tenang nya masih bisa membalas semua pesan masuk dan membuat status menunjukan dirinya sedang sedih.


Dan semua pujian itu membuat hatinya bahagia.


Sementara Reiner masih teringat akan Dara, dia ingat betul jika wanita itu adalah perempuan yang dia tolong kemarin.


"Ternyata wanita itu seorang dokter, tapi kenapa kemarin dia berada di kursi roda?"


Semua pertanyaan itu berputar di kepala Reiner.


Tidak lama kemudian, sebagai sahabat yang baik, mendengar kabar ayahnya kecelakaan, Rio dan Sadam datang menemani Reiner.


"Bagaimana keadaan om Dirga Tante?"

__ADS_1


Tanya Sadam pada Bu Siska yang masih asik dengan gadget nya.


Dengan air mata kesedihannya yang palsu Bu Siska mengatakan jika pak Dirga masih dalam keadaan kritis, Sadam pun memeluk Bu Siska dan memintanya untuk bersabar.


"Yang sabar ya Tante, om Dirga pasti baik baik saja"


Kata Sadam pada Bu Siska.


Meskipun air mata kesedihan Bu Siska palsu, namun dalam hatinya dia memang mencemaskan nya,


Bu Siska takut kehilangan pak Dirga.


Rio yang kini duduk di sampaing Reiner coba bertanya apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa pak Dirga bisa kecelakaan? Dan bagaiman kondisinya?


Belum Reiner sempat menjawab semua pertanyaan Rio, dr Andre dan Dara keluar dari ruang operasi, dengan segera Reiner pun menanyakan kabar papaya.


"Bagaimana keadaan papa saya dok?"


Tanya Reiner dengan semua kecemasannya, Rio dan Sadam pun berdiri tepat di belakang Reiner untuk mendengar kondisi pak Dirga.


"Syukurlah, operasi pasien berjalan dengan lancar, namun saat ini beliau masih belum bisa di jenguk, biarkan pasien istirahat, dan untuk selanjutnya, penanganan akan dr Dara yang lanjutkan, sebab saya harus segera terbang ke Singapura untuk melakukan operasi disana"


Ucap dr Andre dengan kabarnya yang baik, dia pun sekalian pamit kepada Bu Siska, dan memberitahu jika dr Dara yang akan melanjutkan penanganan pada pak Dirga.


"Baik dok, terimakasih untuk semua perjuangan dokter"


"Berterimakasih lah kepadanya, karena jika pak Dirga sampai terlambat 5 menit saja dibawa kesini, maka saya tidak bisa berbuat apa-apa"


Jawab dr Andre menunjuk pada Dara yang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


Dara coba meredam emosinya kala melihat Rio si pembunuh dan 2 sahabatnya yang telah melecehkan adiknya pun berusaha bersikap tenang, agar semuanya terlihat baik baik saja.


Namun tatapan Reiner pada Dara masih sama.


__ADS_2