
Rio, Sadam dan Reiner saling menatap satu sama lain, mereka heran dan mulai berdiri.
"Mengapa seolah-olah dokter itu tahu akan kejahatan kita Rei?"
Tanya Rio pada kedua sahabatnya itu.
"Entahlah, aku juga tidak tahu?"
Reiner pun sedikit takut dan khawatir akan semua kabar yang dr Rafi sindiran kepada mereka.
Sadam pun coba Menenangkan kedua sahabatnya itu dengan memberi alasan,
"Mungkin bisa jadi dr Rafi yang menemukan jasad Sukma dulu, tapi dia tidak tahu jika kalian yang telah melenyapkannya, jadi tenanglah semua akan baik-baik saja"
Sadam tidak cemas seperti kedua sahabatnya, karena mang dia tidak terlibat akan kejahatannya kepada Sukma, jadi dia tidak bisa merasakan ketakutan kedua sahabatnya itu.
Rio pun dengan lantang dan nada keras meminta Sadam untuk diam.
"Diam, jika kamu tidak bisa merasakan apa yang kita rasakan, maka diam lah, nasihatmu tidak ada artinya"
Jawab Rio.
Diantara hubungan persahabatan ketiganya, Sadam memang dikenal cukup baik, meski dia selalu bersama Reiner dan Rio, namun dia tidak mengikuti jejak kejahatannya,
Sadam mungkin selalu ikut minum bersama mereka, namun untuk niat kejahatan yang pernah kedua sahabatnya lakukan kepada Sukma, dia tidak tahu sama sekali, karena pada saat itu, Sadam sedang berada di Malaysia untuk urusan pekerjaannya.
Tapi meskipun Sadam tahu jika kedua sahabatnya terlibat kasus pelenyapan Sukma, namun dia tidak tega untuk menjebloskan keduanya kedalam jeruji besi, karena dia sudah menganggap kedua sahabatnya seperti keluarga sendiri.
...
Dan disaat itu pula Dara kembali ke ruang pak Dirga,
"Maaf dok, kapal saya bisa menemui suami saya?"
Tanya Bu Siska yang terlihat sangat cemas dengan semua air matanya.
Dara pun mengatakan jika mereka bisa menemui pak Dirga setelah beliau di pindahkan ke ruang pasien.
"Sebentar lagi ya Bu, kami akan segera memindahkan pak Dirga ke kamar pasien".
Jawab Dara dengan senyumnya yang manis dan cantik.
__ADS_1
Entah kenapa, Reiner pun tak bisa berpaling dari tatapannya menuju dr Dara, dia terus menatapnya dengan sangat dalam, sehingga Reiner sendiri tidak mengerti apa yang terjadi padanya.
"Apa ini, mengapa aku terus ingin melihat dokter cantik itu? Kecantikannya begitu sangat menggodaku"
Pikir Reiner dalam hati saat menatap dr Dara.
Dengan sengaja, Dara menyibakkan sedikit rambutnya menyentuh Reiner agar dia bisa terpikat padanya,
Dan rencana awal dr Dara dan dr Rafi pun di mulai, mereka merencanakan sesuatu yang tidak akan pernah Reiner bayangkan.
Pak Dirga pun kini keluar dari ruang operasi menuju ruang pasien,
"Papa, papa"
Bu Siska memanggil pak Dirga dan menemaninya bersama suster lain.
"Rei, kamu bawa tas ibu ya, "
Pinta Bu Siska pada Reiner untuk membawakan tas nya.
Reiner pun tersadar dari semua bayangan kotornya saat rambut dr Dara menyibak dirinya.
"Astaga, apa yang aku pikirkan? Tidak mungkin, mustahil aku bisa berteman dengan seorang dokter cantik seperti dirinya"
Dara pun sedikit cukup puas melihat tingkah Reiner yang mulai berpikir tentangnya dan melihat Rio yang terlihat bingung dengan semua kabar yang dr Rafi sampaikan padanya.
"Ini baru permulaan Rio, Reiner, tunggu saja pembalasanku, aku tidak akan pernah mengampuni kalian"
Kata hati Dara akan semua pembalasan dendamnya kepada semua yang telah menghancurkan kehidupannya dan Amira.
***
Pak Dirga pun kini sudah pindah ke ruang inap kelas VIP, Bu Siska yang melihat para wartawan media yang masih berada di luar pun akhirnya angkat bicara.
"Sebanyak Rei, ibu keluar dulu, kasihan media mereka pasti menunggu seputar kabar papamu"
Ucap Bu Siska pada Reiner yang hendak memberikan kabar seputar suaminya itu.
"Ayolah Bu, sudahlah biarkan saja wartawan diluar, ibu disini saja bersama papa, papa membutuhkan ibu?"
Jawab Reiner tidak menyetujui jika ibunya pergi keluar walau hanya sesaat.
__ADS_1
"Ini penting Rei, ibu harus memberitahu media dulu, ini juga kesempatan ibu untuk menaikan nama ibu agar bisa lebih dikenal masyarakat sebagai ketua LSM "
Reiner pun mengalah, dia tidak bisa memaksa ibunya jika sudah seperti itu,
Akhirnya Bu Siska pun keluar rumah sakit menuju wartawan yang menunggunya.
Dan kebetulan saat hendak menuju keluar, Bu Siska bertemu dengan dr Dara, Bu Siska pun meminta dr Dara untuk menemaninya memberitahu seputar keadaan sang suami kepada media.
*Saya mohon dok, apa bisa dr Dara menemani ibu memberitahu keadaan bapak sekarang? Dr Dara lebih tahu keadaan bapak"
Dengan senang hati, dr Dara pun menyetujui permintaan Bu Siska padanya,
Hingga akhirnya saat keduanya pergi keluar , wartawan langsung menyambutnya dengan seribu pertanyaan khasnya.
"Apa?
Dimana?
Mengapa?
Kapan?
Siapa?
Dan bagaimana keadaannya sekarang?"
Sungguh semua pertanyaan itu adalah khas dari semua wartawan peliput berita.
Bu Siska pun mulai menjelaskan jika keadaan suaminya sekarang sudah lebih membaik,
"Puji syukur berkat doa dari semua masyarakat, kini suami saya sudah berhasil keluar dari mas kritisnya, dan itu juga berkat bantuan dan usaha dei dokter Dara, terimakasih dok, jika tidak ada dokter, maka saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan suami saya"
Ucap terimakasih Bu Siska pada dr Dara lewat media yang terlihat sangat dibuat-buat untuk memikat hati setiap warga agar terkesan kepadanya, dan menganggap dirinya wanita dan istri yang baik bak malaikat tak bersayap.
Dara pun dengan sengaja mendukung semua pencitraan sang ketua LSM agar dia bisa lebih dekat dengannya.
"Ya saya dokter yang menangani pak Dirgantara, dan saya juga yang menemukan pak Dirga di tempat kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya, puji syukur berkat doa semua masyarakat untuk beliau, kini pak dirgantara sudah lebih baik, dan semua itu juga berkat doa yang luar biasa dari sang istri yang sangat mencemaskan dan mencintai suaminya"
Dara tersenyum ke arah Bu Siska yang menandakan jika dirinya kini sedang memuji dirinya dengan semua doa dan harapan yang baik untuk suaminya itu.
Bu Siska pun tersenyum dan merasa tersanjung akan semua pujian yang Dara sampaikan.
__ADS_1
Dara pun akhirnya berhasil membuat Bu Siska menyukainya.
Di tempat lain, dari kejauhan dr Rafi pun memberi jempolnya untuk Dara dengan senyum awal pembalasan mereka.