
Seorang suster pun melihat kedatangan Dara dari kejauhan, dia hendak menyapanya, karena sang suster baru kali ini melihat Dara.
Dari kejauhan, Dara yang melihat suster Vita hendak menemuinya langsung tersenyum dan berucap dalam hatinya jika suster Vita ternyata masih sama.
"Suster Vita, ternyata dia masih sama, tetap ramah dan cantik"
Ucap Dara dalam hati memuji suster Vita, suster yang selalu menjaga Amira.
Dara pun tersenyum pada suster Vita dan memeluknya melepaskan semua kerinduannya pada tempat adiknya berada,
Suster Vita pun terkejut, siapa wanita yang memeluknya? Dia tidak mengenal wanita itu? Hingga akhirnya suster Vita mengira jika Dara mungkin pasien sakit jiwa yang kabur dan menyamar dengan memakai pakaian dokter.
"Lepaskan aku, ayo sekarang kamu harus masuk, sekarang waktunya minum obat"
Ujar suster Vita melepaskan pelukan Dara.
Dara pun terkejut dengan ulah suster Vita.
"Maksud suster Vita apa? Suster mengira aku orang gila? Oh astaga... Saya bukan orang gila sus?"
Seketika suster Vita terkejut kala Dara berkata seperti itu.
Dengan rasa malu dan bersalah suster Vita meminta maaf pada Dara akan sikapnya.
"Maafkan saya dok, saya tidak tahu jika ternyata anda seorang dokter beneran"
Dara pun hanya tersenyum melihat suster Vita merasa bersalah padanya,
"Suster Vita memang lucu ya, hihi ya tidak apa-apa sus, saya dr Dara, saya kesini mau bertemu dengan seseorang?"
Jawab Dara pada suster Vita memaafkannya.
Suster Vita pun bertanya, siapa yang hendak dr Dara temui disini? Karena ini kali pertama dr Dara datang ke rumah sakitnya.
__ADS_1
Tanpa menjawab siapa yang hendak Dara temui, Dara pun segera menuju kamar dimana Amira di rawat.
Suster Vita pun mengikuti Dara dari belakang, Dara pun tiba di depan pintu kamar Amira.
Suster Vita terkejut, mengapa dr Dara menuju kamar Amira yang sudah tiada.
Dengan raut wajah yang gembira Dara bertanya pada suster apakah Amira ada didalam kamarnya?
Dan dengan menunjukan hadiah yang dia bawa pada suster Vita untuk Amira, dr Dara pun berucap.
"Amira pasti suka saya bawakan ini sus? Ya kan? Karena saya tahu semua kesukaannya,"
Belum sempat suster Vita menghentikan dr Dara untuk mengatakan jika Amira sudah tiada, dr Dara terburu buru masuk ke kamar Amira untuk bertemu dengannya.
"Tuh... Tuh tunggu"
Suster Vita berusaha menghentikan Dara, namun gagal.
...
Ucap Dara saat masuk kedalam kamar Amira, namun seketika Dara pun terdiam kala melihat wanita yang ada di kamar Amira bukanlah adiknya.
Wanita itu tersenyum ke arah Dara dan coba mendekatinya,
"Kakak hihihi"
Ucap pasien yang sedang dirawat Di kamar Amira.
Dara pun terdiam dan coba berpikir, kemana Amira? Dia bukan Amira?
"Suster Vita, sus ".
Panggil Dara pada suster Vita untuk segera menghampirinya.
__ADS_1
Suster Vita pun mengajak wanita gila itu kembali ke tempat tidurnya,
"Kamu istirahat ya, jangan ganggu orang lain oke, nanti kita main lagi"
Kata suster Vita coba Menenangkan wanita gila itu.
Dara yang terkejut bertanya-tanya kemana adiknya? Apa yang terjadi padanya, dengan segera suster Vita pun menghampiri Dara yang syok dan mengajaknya bertemu Amira.
"Dr Dara ingin bertemu dengan Amira kan ayo ikut saya?"
Ujar suster pada Dara yang masih terkejut karena dia di hampiri wanita gila itu.
Suster Vita pun menuju tempat peristirahatan Amira.
"Loh ko keluar sus? Memangnya Amira dimana? Aa dia sedang menikmati udara luar?"
Tanya dr Dara pada suster Vita, namun suster Vita tidak menjawab pertanyaannya.
Suster Vita membawa Dara ke belakang rumah sakit jiwa dimana Amira dan bayinya di kebumikan.
Perasaan Dara pun mulai tidak karuan dan gelisah dengan semua pikirannya tentang Amira.
Bertambah suster Vita membawanya ke tempat yang membuat pikirannya tidak tenang.
"Amira ada disana?"
Jawab suster Vita sambil menunjuk ka arah makam Amira.
"Maksud suster Amira..."
Ucapnya terhenti dan tidak percaya dengan semua yang dia lihat didepan matanya.
Awan menghitam, Langit Pun seakan runtuh, dan petir seakan menyambar dirinya kala suster Vita mengatakan jika
__ADS_1
"Amira sudah tiada dok, dia tiada saat melahirkan anaknya, keduanya tidak bisa diselamatkan, karena Amira mengalami pendarahan hebat, sedangkan bayinya terlalu lama didalam perut Amira disaat air ketubannya sudah pecah, saya merasa sangat kehilangan dan bersalah kepada Amira, karena di sisa waktunya saya tidak bisa mengabulkan permintaannya untuk menemukan kakaknya yang menghilang, dia sangat ingin bertemu dengan kakaknya"
Suster Vita mulai menangis mengingat Amira.