
Setelah dirasa cukup, pak Dirga akhirnya pergi meninggalkan Amira dengan beban berat di hati dan pikirannya akan masa depan anaknya Amira nanti.
Pak Dirga terus memikirkan apakah harus dia selamatkan anaknya Amira sesuai dengan permintaannya.
Bu Siska pun bertanya pada pak Dirga, darimana saja dia jam segini baru pulang? Tidak biasanya pak Dirga pulang terlambat, kalaupun ada urusan lain, dia akan langsung menghubunginya agar tidak membuatnya khawatir.
"Bapak darimana saja jam segini baru pulang?"
Tanya Bu Siska pada pak Dirga.
Pak Dirga pun mencari alasan dan menjawab jika dirinya ada meeting mendadak dengan klien dan tidak sempat menghubunginya?, Pak Dirga pun meminta maaf pada Bu Siska karena sikapnya itu.
"Tidak apa-apa pa, mama hanya cemas saja, sebab papa tidak biasanya pergi tanpa pamit dulu pada mama"
Jawab Bu Siska dengan nada lembutnya.
Dalam hati pak Dirga merasa bersalah karena telah membohongi Bu Siska, namun apa boleh buat, jika dia tahu dirinya telah menemui Amira, pasti Bu Siska akan marah besar padanya.
***
Sukma pun kini sedang bersiap di depan cermin untuk membuka perban yang menutupi wajahnya,
Perasaannya pun mulai tidak menentu.
"Kenapa hatiku merasa sesak ya?apa yang sebenarnya hendak terjadi?"
Pikirnya melayang entah kemana?
"Kamu sudah siap Sukma ?"
__ADS_1
Tanya dr Rafi pada Sukma yang sudah duduk menunggunya.
Sukma pun mengatakan jika dirinya sudah sangat siap melihat wajahnya yang baru.
ingatan Sukma pun mulai menerawang teringat akan kebersamaan dirinya dengan sang adik dan ibunya yang sudah tiada.
pergi merantau dari desa bertiga dengan sang ibu, dan adiknya, sungguh sangat mengesankan baginya.
Hidup sendiri, ibunya terpaksa bekerja keras banting tulang hanya untuk membesarkan mereka.
"Ibu tenanglah, sebentar lagi, Sukma akan balaskan dendam Sukma pada pria yang telah menyakiti Amira? Sukma pasti akan mengampuni mereka."
Ucap hati Sukma .
Dr Rafi pun meminta Sukma untuk menarik nafasnya sebelum perban nya di buka.
Sukma pun menuruti permintaan dr Rafi tanpa menolak.
Sukma terus menutup matanya, perban pun perlahan suster buka dengan pelan dan hati-hati agar tidak ada sel kulit yang terluka.
Suster terus membuka perbannya.
"Masih lama ya sus?"
Tanya Sukma pada suster.
Suster pun mengatakan jika semua harus dilakukan dengan baik, agar tidak ada luka di wajahnya.
Sukma sudah tidak sabar, hingga akhirnya dalam hitungan detik, dokter Rafi menghitung mundur.
__ADS_1
"Tiga
Dua
Satu...
Nah, kamu boleh membuka mata kamu "
Ucap dokter Rafi.
Sukma pun membuka matanya secara perlahan, dan betapa terkejutnya dia saat melihat wajahnya di depan cermin.
"Aku...apakah ini aku?"
Tanya Sukma tidak percaya.
Sukma terus menatap wajahnya dan mencubit pipinya sendiri kala melihat wajah barunya.
Dia terus menatap cermin dengan tajam saat melihat wajahnya.
"Tidak mungkin, ini bukan wajahku"
Ucap Sukma terlihat sangat sedih dengan wajah barunya yang sama sekali bukan wajah dirinya.
"Kemana wajahku, ini bukan aku, bukan"
Sambil menangis, Sukma terus melihat dan menampar halus wajah barunya itu.
"Cukup, sudah cukup"
__ADS_1
Dr Rafi pun akhirnya berbicara dan meminta maaf.
"Maafkan saya nak, saat itu kamu sedang benar-benar dalam keadaan kritis, tubuh dan wajahmu sangat rusak parah, saya pun langsung mengambil tindakan ini agar nyawamu tertolong. Sungguh maafkan bapak".