
Berita kecelakaan pak Dirga pun kini mulai tersebar, sebagai ketua dewan tentunya mereka ikut berduka cita atas kecelakaan tragis yang menimpanya.
Sedih dan syok akan berita kecelakaan yang menimpa suaminya, Bu Siska segera menuju rumah sakit dimana pak Dirga dirawat.
"Ayo Rei, kita harus segera ke rumah sakit, sebelum media lebih dulu datang kesana, kita harus lebih dulu berada disana? Apa yang akan mereka katakan jika mereka sampai tahu jika ayahmu kecelakaan karena telah bertengkar dengan ibu"
Kata Bu Siska pasca tersadar dari pingsannya.
Reiner dan Bu Siska pun akhirnya segera menuju rumah sakit dimana pak Dirga di rawat.
...
Di rumah sakit, Dara membantu dokter lain menangani pak Dirga yang detak jantungnya semakin melemah.
Alat x Ray pun mulai mendeteksi keadaan jantung pak Dirga, dan ternyata.
"Gawat dok, jantung pasien terluka, kita harus melakukan operasi secepatnya"
Mendengar salah seorang dokter lain mengatakan jika jantung pak Dirga bermasalah, Dara pun semakin cemas.
"Seharusnya aku bahagia melihat pak Dirga sekarat seperti ini, karena aku tidak harus mengotori tanganku untuk membalaskan semua kejahatannya padaku di masa lalu"
Dara pun mulai bimbang akan perasaannya.
Namun sebagai dokter, jiwanya terpanggil untuk menyelamatkan nyawa pak Dirga bagaimanapun caranya.
...
Diluar rumah sakit, media sudah ramai untuk meliput keadaan terkini dari pak Dirga,
__ADS_1
Bu Siska yang baru saja datang bersama Reiner pun kini mulai tersorot.
Sebagai ketua LSM, tentunya Bu Siska sangat menjaga image nya agar tidak tercoreng sedikitpun.
"Bagaimana keadaan bapak sekarang Bu?"
"Apa penyebab kecelakaan ini terjadi?"
"Dan bagaimana perasaan ibu mendengar kabar suami ibu kecelakaan?"
Semua pertanyaan wartawan kepada Bu Siska membuatnya berniat untuk melakukan pencitraan agar namanya semakin di sanjung masyarakatnya.
Bu Siska mengatakan jika keadaan suaminya masih dalam keadaan kritis, dia juga tidak lupa meminta doa dari semua masyarakat untuk kesembuhan suaminya.
"Saya mohon doanya dari semua masyarakat untuk kesembuhan suami saya"
Sedangkan Reiner hanya tersenyum kecil melihat kelicikan ibunya tersebut, karena dia sudah terbiasa melihat pencitraan ibunya itu.
Setelah selesai di wawancarai, Bu Siska segera masuk kedalam rumah sakit untuk melihat keadaan pak Dirga.
"Maaf Bu, ibu tunggu diluar ya, pasien sedang melakukan operasi"
Ujar seorang suster yang keluar dari ruang operasi pak Dirga.
Mendengar suaminya operasi, perasaan Bu Siska pun mulai tidak karuan, dia sangat cemas, dia takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada suaminya.
Bu Siska tidak bisa diam, dia terus bulak balik dengan semua doa dan harapan yang baik agar suaminya bisa selamat dan segera sadar.
***
__ADS_1
Dara membantu melakukan operasi jantung pak Dirga, suasana pun semakin tegang kala detak jantungnya Semakin menurun.
"Apa stok darah A tersedia?"
Tanya dr Andre pada semua regunya.
"Stok darah A aman dan tersedia dok"
Jawab salah satu suster,
Dara pun dengan segera membawa Dara tersebut di ruang penyimpanan darah.
Namun karena terburu-buru, Saat Dara membuka pintu, dia tidak melihat ada tas besar milik Bu Siska yang tergeletak di bawah kursinya sehingga membuat kaki Dar tersandung dan nyaris jatuh.
untunglah dengan sigap, Reiner menarik tangan Dara tepat pada waktunya, hingga kini Dara berada dalam pelukan Reiner.
Betapa terkejut Dara saat menatap wajah pria yang telah menyelamatkannya.
"Reiner"
ucap hati Dara memanggil si penjahat itu.
Reiner pun sangat mengingat betul wajah Dara yang pernah dia selamatkan saat Dara jatuh pingsan kemarin di kursi roda, karena dia sendiri yang menggendong dan memindahkan Dara dari kursi roda ke tempat tidurnya.
"Kamu..."
Ucap Reiner yang berhasil menatap wajah Dara.
"Astaga, apa jangan-jangan dia tahu jika aku Sukma? "
__ADS_1