Air Mata Cinta Dara

Air Mata Cinta Dara
meninggalnya ibu Sukma


__ADS_3

Langit seakan runtuh,dunia seakan hancur Sukma rasakan,


Sosok perempuan yang selalu ada untuknya setiap waktu kini telah tiada,


Sosok perempuan yang selalu menjadi kekuatannya kini pergi untuk selamanya,


Air mata terus mengalir di pipi nya,


"Tidak mungkin,kau pasti berbohong,ibu"


Teriak Sukma histeris akan kebenaran bahwa ibunya sudah tiada,


Dokter pita pun coba menenangkannya,


Sukma tidak kuasa menahan kesedihan akan kehilangan sosok tercintanya,hingga doain jatuh pingsan,


Dokter pita pun membawa Sukma ke ruang pasien untuk ditangani,


***


Di tempat lain Amira yang kini berada di rumah sakit jiwa sedang menangis histeris tiada henti,tanpa sebab yang jelas dia terus berteriak memanggil ibunya,


"Ibu ibu"


Seakan kontak batin,meski dirinya kini tidak waras,mungkin Amira menyadari bahwa ibunya sudah pergi jauh meninggalkannya untuk selamanya,


Amira menangis histeris,hingga suster harus menyuntikkan obat penenang kepadanya,


"Tenanglah Amira tenang,"


Suster pun berhasil menyuntikan obat penenang kedalam tubuhnya,


Suster Mery salah satu suster yang mengurus Amira pun coba menghubungi Sukma untuk memberitahu keadaan Amira,


Namun ponsel Sukma tidak bisa dihubungi,


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Sukma?mengapa dia tidak menjawab panggilanku"


Tanya suster Mery pada dirinya sendiri,


...


Sukma pun mulai sadar,


"Dimana saya dok?"


Tanya Sukma pada dokter pita,


Dokter pita pun menyampaikan bahwa saat ini Sukma sedang berada di ruang pasien,


"Darahmu sangat rendah Sukma,itu sebabnya kau sangat pusing sekali,"


Jawab dokter pita,


Sukma menanyakan ibunya kembali padanya,sukma pun bangun dan hendak menemui jasad ibunya,


Sukma berjalan sangat lemah,


Bayangan masa kecil bersama ibu dan adiknya menari di aa sangat bagaimana ibunya dengan gigih mengurus dirinya dan Amira tanpa bantuan seseorang ayah,

__ADS_1


Ya menurut ibu Sukma,ayah mereka pergi meninggalkan mereka demi anak lain,


Sukma mengira ayah nya selingkuh dan memilih wanita itu daripada ibu dan adiknya,hingga sampai saat ini,walaupun Sukma tidak mengetahui wajah ayahnya,namun dia sangat membenci ayahnya,


Karena telah meninggalkan ibu dirinya dan Amira,


"Ibu"


Sukma kembali menangis kala melihat jasad ibunya untuk yang terakhir kali,


"Sukma janji Bu,Sukma akan jaga Amira,tak akan ada yang bisa memisahkan kita"


Ucap Sukma berjanji dihadapan jasad ibunya kalau dia akan setia menjaga adik satu-satunya itu.


Ibu Sukma pun di bawa ambulan untuk dikebumikan di pemakaman umum Jakarta timur,


...


"Sukma pamit Bu,doakan aku Bu,agar aku bisa menjaga dan menjadi kakak yang baik untuk Amira"


Ucap Sukma di hadapan makam ibunya,


Setelah selesai pemakaman ibunya,Sukma langsung menemui Amira di rumah sakit jiwa,


Saat dia sampai di rumah sakit jiwa,Sukma melihat adiknya sedang histeris menyiksa dirinya sendiri dengan menjambak rambutnya,


"Mati saja,aku mau mati"


Ucap amira kembali berteriak histeris,


Sukma yang melihat Amira histeris langsung mendekapnya hingga akhirnya tangisnya pun terhenti,


Ucap Sukma tak melepaskan dekapannya pada Amira,


Amira pun mulai luluh,meski saat ini pikirannya sedang tidak stabil,namun Amira sangat mengenal kakaknya,


Setiap Sukma datang Amira langsung mengenalnya,dia selalu memeluk Sukma,dan bicara aneh padanya dengan tatapan kosong


"Aku mau mati saja ka,aku mau bersama ibu"


Deg


Jantung Sukma terasa berdetak kencang kala mendengar ucapan Amira,


Mengapa Amira ingin bersama ibu,apakah dia tahu kalau ibunya telah tiada?padahal Sukma belum memberitahu Amira bahwa ibunya sudah tiada,


"Suster tolong bawa adikku ke kamarnya,sepertinya dia sedang tidak sehat"


Ucap Sukma pada suster yang mengurus Amira,


Sukma tak kuasa mendengar semua yang Amira katakan tentang ibunya,air matanya kembali menetes teringat akan ibunya yang telah tiada,


Sebelum ibu Sukma jatuh sakit,beliau sempat berpesan untuk mencari tahu siapa yang telah membuat adiknya depresi,


Karena itu,mencari tahu siapa yang telah melecehkan Amira dan memberinya keadilan,menjadi tujuan hidup Sukma sekarang,tak ada yang lebih penting dari itu,


Sukma pun pergi ke rumah pak Dirga untuk membawa barang-barang ibunya,


Rasanya tak kuasa Sukma jika harus tetap berada di rumah pak Dirga,

__ADS_1


Sukma tak kuasa jika setiap hari harus melihat bayang-bayang ibunya yang selalu rajin melayani keluarga pak Dirga,


Sukma tidak ingin terus berlarut sedih jika harus tetap tinggal di rumah pak Dirga,


Diapun akan berusaha keras membiayai program kedokterannya yang sebentar lagi akan selesai,


Ya,meskipun Sukma terlahir dari keluarga tidak berada,namun untuk urusan pendidikan Bu Rita selalu memprioritaskan,beliau rela bekerja siang malam untuk membiayai pendidikan kedua anaknya,


Dan sekarang disaat Sukma sebentar lagi lulus menjadi seorang dokter,Bu Rita lebih dulu meninggalkan dunia ini,


"Aku akan berusaha sekeras mungkin untuk bisa menjadi yang ibu harapkan,aku akan lulus menjadi seorang dokter terbaik "


Tekad Sukma meyakinkan dirinya,


...


Sukma pun tiba di rumah pak Dirga dan Bu Siska,


Tak seperti biasa,hari ini keduanya sedang berada di rumah,


Saat Sukma masuk,pak Dirga langsung memanggilnya,


"Sukma,saya turut berduka cita atas meninggalnya ibu kamu"


Ucap pak Dirga menepuk bahu Sukma layaknya seorang ayah yang mencoba membuat anaknya lebih tenang,


Sukma pun tertunduk,dan kembali menitikkan air matanya,dia meminta maaf atas nama ibunya jika selama ibunya bekerja dia sering berbuat salah,


"Saya mohon maaf jika selama ibu saya bekerja disini,ibu saya banyak melakukan kesalahan"


Ucap Sukma pada pak Dirga,


Bu Siska langsung menepis semua perkataan Sukma,


Bu Siska memuji Bu Rita,dia tidak pernah berbuat salah,Bu Rita orang yang sangat baik dan jujur,justru kami lah yang mohon maaf kepada Bu Rita,karena kami sering merepotkan beliau,


Ucap Bu Siska ikut memeluk Sukma,


"Saya juga mohon pamit kepada pak Dirga dan Bu Siska,saya harus pergi dari sini,Amira memerlukan saya"


Sukma meminta ijin untuk pergi dari rumah mereka,


Bu Siska tidak menyetujui,karena dia kasihan kepada Sukma,dia juga sudah menganggap Sukma seperti anaknya sendiri,karena Sukma dan Amira tumbuh besar di rumah mereka meski hanya sebatas anak seorang asisten rumah tangga,


Pak Dirga juga ikut andil dalam membesarkan dan memberi pendidikan pada Sukma dan Amira,


Pak Dirga lah yang selalu menyemangati Sukma agar lebih giat belajar dan semangat mengejar cita-citanya,


Meski terasa berat,Sukma juga harus mengambil keputusan,dia tidak mungkin selamanya akan bergantung pada keluarga pak Dirga dan Bu Siska,dia harus belajar mandiri demi dirinya dan adiknya,


"Saya mengerti,mungkin keputusan saya terlalu terburu-buru,tapi saya berharap bapak dan ibu mengerti dengan keputusan saya,saya ingin belajar hidup mandiri,saya juga tidak akan sampai melupakan kuliahku pak,Sukma janji akan lulus dengan nilai yang baik"


Sukma coba meyakinkan pak Dirga agar dirinya bisa tenang melepaskan Sukma hidup diluar tanpa bantuan mereka,


"Baiklah jika kau memaksa,tapi jika seandainya kau ingin kembali,pulanglah,pintu ini akan selalu terbuka untuk kalian"


Ucap pak Dirga,


Awalnya Bu Siska masih tidak merelakan Sukma pergi dari rumahnya,dia merasa kasihan jika Sukma harus hidup diluar tanpa bantuan mereka,

__ADS_1


__ADS_2