
Terlebih lagi di dalam lubuk hatinya yang paling dalam,keegoisan Bu Siska ialah,jika Sukma sampai pergi dari rumahnya,siapa yang akan menggantikan ibunya mengerjakan semua pekerjaan di rumahnya,Bu Siska terlalu sibuk untuk mencari asisten rumah tangga baru,terlebih asisten seperti Bu Rita yang baik dan jujur,
Namun karena Sukma tetap memaksa,dan pak Dirga juga telah menyetujuinya,akhirnya Bu Siska pun mengalah dan merelakan Sukma pergi dari rumahnya,
Sukma pun masuk kedalam kamarnya,
Kamar yang selalu menjadi tempat paling tenang jika bersama ibu dan adiknya,
Terlihat jelas bayang-bayang wajah ibu dan adiknya yang sedang tersenyum dan tertawa bercanda bersama diatas kasur mereka,
Sukma pun tersenyum kecil melihat bayang itu,
Seketika Sukma pun kembali tersadar,bahwa semua itu kini tinggallah bayangan dan kenangan semata,
Sukma pun mulai membereskan pakaian nya dan pakaian Amira,
Saat dia membereskan pakaian Amira,dia menemukan selembar kertas bergambarkan 3 pemuda yang Amira beri tanda X di setiap hirup inisial nama mereka,
R - S -R
Inisial huruf yang semua nya Amira beri tanda silang itu,
Sukma pun langsung berpikir,
Mungkin kah ini sebuah pertanda dari Amira,
Tapi apa maksud dari huruf-huruf ini,pikir nya,
Sukma pun membawa kertas itu,
Setelah selesai membereskan semua pakaiannya,Sukma pun langsung keluar kamar dan kembali bertemu dengan pak Dirga dan Siska,
Sukma pamit,
"Aku tidak membawa apapun yang tidak seharusnya aku bawa,tapi apakah boleh jika saya membawa foto bapak dan ibu untuk aku simpan sebagai penyemangat hidupku,karena kalian sudah seperti orangtuaku"
Ucap Sukma sedih memeluk Bu Siska,
Pak Dirga pun tidak keberatan Sukma membawa foto mereka,begitupun dengan Bu Siska,
Kemudian datanglah Reiner,anak semata wayang mereka,
Anak satu-satunya yang selalu mereka bela dan mereka manjakan,
Reiner pulang dari kuliah paginya,
Dia terkejut melihat Sukma akan pergi dari rumahnya,
Hubungan Reiner dan Sukma juga memang bisa dikatakan dekat dan baik,meski status mereka berbeda,namun Reiner tidak malu berteman dengan anak seorang pembantu,
Baginya semua orang sama saja,meski status mereka berbeda,
Reiner menanyakan mau pergi kemana Sukma,
Pak Dirga dan Bu Siska pun coba menjelaskan bahwa Sukma akan pergi dari rumah mereka,
Reiner terkejut dan tidak menyetujui keputusan Sukma,karena bagaimana pun Reiner akan kesepian jika Sukma sampai pergi dari rumahnya,
Sukma pun dibuat pilu dengan kehendak Reiner yang memaksanya untuk tidak pergi,
Namun setelah Sukma menjelaskan semua alasan dan tekadnya,Reiner pun mulai paham dan menerima keputusan nya,
__ADS_1
"Baiklah jika kau memaksa,semoga kau berhasil".
Ucap Reiner tersenyum pada Sukma,
"Reiner minta ijin pak Bu,biar Reiner yang mengantar Sukma"
Reiner ingin mengantar Sukma pergi,merekapun pamit,
Sukma di hantar oleh Reiner menggunakan mobil pak Dirga,
"Kalau kau tidak keberatan,apa kau bisa mengantarkan aku ke rumah sakit jiwa"
Pinta Sukma,
Reiner terkejut,mengapa Sukma memintanya diantarkan ke rumah sakit jiwa,
"Untuk apa kamu pergi ke rumah sakit jiwa"
Tanya Reiner,
"Nanti kau juga akan tahu yang sebenarnya "
Jawab Sukma,
Reiner pun menuruti semua permintaan Sukma untuk mengantarnya ke rumah sakit jiwa,
Sesampainya disana,Sukma mengajak Reiner untuk masuk dan ikut bersamanya menemui seseorang,
"Kamu mau ikut denganku,aku ingin kau bertemu dengan seseorang"
Tanya Sukma pada Reiner,
Awalnya Reiner tidak peduli siapa yang ingin Sukma pertemukan dengan dirinya,
Dan...
"Lihatlah,lihatlah dia"
Sukma menunjuk ke arah Amira yang duduk di kursi roda memandang taman di dampingi kedua suster yang menjaganya,
.
Reiner sangat terkejut melihat Amira,
"Amira,bukannya Amira pergi ke asrama"
Tanya Reiner terkejut dan ketakutan,.
Sukma pun ikut terkejut dengan respon Reiner yang terlalu berlebihan,
Namun dia mengerti,mungkin karena selama ini Sukma dan Bu Rita menyembunyikan kabar duka Amira yang ternyata bukan pergi ke asrama,melainkan dia depresi dan hamil pasca di lecehkan oleh ketiga pemuda yang tega kepadanya
"Aku sangat kasihan sekali pada Amira,nasibnya harus berakhir di rumah sakit jiwa,aku tidak tahan melihat penderitaannya,aku ingin sekali membalaskan dendam nya pada semua pria yang telah melecehkannya,tapi aku tidak tahu siapa mereka,maukah kamu membantuku mencari mereka rei?"
Ucap Sukma pada Reiner,
Dengan kaki yang sedikit gemetar,Reiner menyetujui semua permintaan Sukma padanya,
"Sukma aku tidak bisa lama-lama disini?"
Ucap Reiner pamit kembali ke rumah pada Sukma,
__ADS_1
"Terimakasih karena kamu telah mengantarku sampai kesini,dan oh ya aku mohon kau jangan bicarakan tentang Amira pada ibu dan bapak ,itu saja,salam untuk mereka dariku"
Jawab Sukma tidak mencurigai gelagat Reiner yang ketakutan,
Reiner pun segera kembali ke mobil, dan saat yang sama Amira berbalik ke arah Sukma,namun Reiner berhasil pergi dari pandangan Amira,
Namun saat Reiner melajukan mobilnya,Amira melihat sepintas wajah Reiner dari kaca mobil,
"Ah tidak.jangan,jangan,lepaskan aku,lepaskan"
Amira kembali histeris dan berteriak saat melihat Reiner,
Sukma tidak mengerti mengapa Amira kembali histeris,
Sukma manggil suster dan dokter dengan cemas,
"Suster suster,cepat tolonglah adikku,dia kembali histeris sus "
Ucap Sukma,
Suster pun membawa Amira kedalam untuk diobati,
Amira di beri suntikan pemenang oleh dokter,tapi tentunya obat penenang yang cukup aman untuk bayi yang dikandungnya saat ini,
****
Di tengah perjalanan Reiner melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi,
Dia teringat sepintas wanita yang duduk di kursi roda di rumah sakit jiwa,
Reiner tidak menyangka jika Amira bisa jadi seperti itu,dan semua karena dirinya,dan kedua temannya,
"Maafkan aku Amira,aku tidak bermaksud membuatmu seperti itu"
Ucap hati Reiner ditengah perjalanannya,
Reiner terus teringat wajah Amira,
"Tapi ini tidak bisa dibiarkan,Sukma bilang bahwa dirinya ingin membalaskan dendam pada mereka yang telah melecehkan adiknya,"
Ucap Reiner dalam hatinya,
Reiner pun pergi ke rumah Rio untuk menceritakan semuanya padanya,karena dia juga terlibat dalam pelecehan ini,
Sesampainya di rumah Rio,Reiner terkejut karena disana banyak polisi yang datang ke rumahnya Rio,
Reiner membayangkan jika dirinya di tangkap polisi,
Reiner di jemput paksa oleh polisi dan berganti baju menjadi baju tahanan
Ah pikiran Reiner kalap kala itu juga,membayangkan semua yang kam terjadi jika polisi sampai mengetahui kejahatannya,
Dan ternyata kabar duka menimpa sahabatnya itu,para polisi datang ke rumah Rio untuk ikut berduka cita atas meninggalnya ayah Rio,Brigjen Kamaludin,ayah Rio,
Ayahnya Rio seorang perwira polisi yang cukup dikenal baik di kalangannya,dia meninggal kecelakaan tunggal di jalan tol menuju arah Surabaya,
Reiner mengurungkan kembali niatnya untuk membicarakan tentang Amira kepada Rio,karena ini bukanlah saat yang tepat menurutnya,
Reiner pun masuk kedalam rumah ,disana terbujur kaku jasad Brigjen Kamaludin,
Rio pun nampak terlihat sedih di samping jasad ayahnya itu,
__ADS_1