Air Mata Cinta Dara

Air Mata Cinta Dara
Pak Dirga bisa pulang


__ADS_3

"pak Dirga sore ini bisa di pindahkan ke rumah dengan satu syarat"


Ucap dr Dara membuat semuanya terkejut.


"Apa itu dok?"


Tanya pak Dirga serius.


"Bapak harus menurut dengan saya dan suster ya, minum semua obatnya dan jangan banyak berpikir terlalu keras dahulu, karena itu semua akan menghambat proses penyembuhan bapak sendiri"


Jawab dr Dara dengan tersenyum padanya, sungguh senyum yang membuat hati pak Dirga damai melihatnya.


Pak Dirga pun membalas senyum dr Dara dengan menjawab jika dirinya akan berusaha untuk sembuh kembali dan mematuhi semua perintah dr Dara.


Dr Dara juga berpesan pada Bu Siska dan Reiner untuk menjaga setiap kabar yang hendak akan disampaikan pada pak Dirga, karena kini jantung pak Dirga masih lemah.


"Saya harap ibu dan semua bisa menjaga semua kabar atau apapun yang akan disampaikan pada beliau, usahakan agar pak Dirga tetap tenang dan jangan biarkan berpikir berat terlebih dahulu."


Bu Siska pun mengerti dengan semua pesan dr Dara padanya, Bu siska akan coba menuruti semua pesannya.


Begitupun dengan Reiner, dia masih menatap dr Dara dengan tatapannya yang nakal pada setiap kata yang terucap dari bibirnya yang tipis.


"Menawan...sungguh menawan"


Pikiran kotor nya mulai bereaksi.


Vidia yang menyadari jika Reiner kali ini sedang berpikir tidak baik pun langsung mencubitnya.

__ADS_1


"Ah sakit vid?"


Ucap Reiner pada Vidia.


***


Setelah dirasa cukup, dr Dara pun pamit kembali ke ruangannya.


"Jika ada perlu apa-apa bapak bisa panggil suster ya"


Ucap dr Dara sebelum pamit.


"Baik nak, terimakasih "


Jawab pak Dirga pada dr Dara menyebut nya dengan panggilan nak, dan itu sangat menyentuh hatinya.


Dara pun segera berlalu,


Pak Dirga yang baru menyadari jika dirinya memanggil dr Dara dengan sebutan nak pun berpikir, mengapa dengan spontan mulutnya bisa memanggil Dara dengan sebutan nak?


"Papa apaan sih, mengapa papa panggil dr Dara dengan sebutan nak? Ibu kan jadi malu?"


Kata Bu Siska menegur pak Dirga.


Pak Dirga hanya diam tanpa menghiraukan semua yang istrinya katakan.


Reiner pun heran mengapa ayah nya bisa seperti itu.

__ADS_1


...


Di ruangannya dr Dara menangis, dia coba menyeka air matanya namun tak kunjung berhenti, dia sangat teringat akan kasih sayang pak Dirga padanya dan semua penghianatan nya.


"Aku tidak boleh cengeng, aku tidak boleh menangisi semua ini, aku harus kuat demi keadilan untuk Amira"


Dalam hati Dara menguatkan dirinya sendiri dengan mengingat semua kejahatan mereka kepadanya.


Langkah awal Dara kini mulai tercapai, dengan dipindahkannya pak Dirga dirawat di dalam rumah, akan membuat Dara lebih mudah masuk di kehidupan keluarga Reiner.


"Aku berjanji, aku akan menghancurkan kehidupan kalian satu persatu"


Ucap dendam Dada dengan semua tekadnya untuk menghancurkan semuanya.


Dr Rafi pun datang dan mengajak Dara untuk pulang, karena neneknya akan datang ke rumah.


"Nenek? Tapi ayah, aku tidak mengenal nenek, bagaimana sikapnya, seperti apa dia? Apa dia akan mengenaliku?"


Tanya Dara pada dr Rafi.


Dr Rafi pun menjelaskan jika neneknya adalah seorang wanita yang lembut dan baik hati, dr Rafi pun mengatakan jika Dara tidak perlu khawatir, karena hubungan Dara dengan neneknya sangatlah baik dan dekat.


Sepintas dr Rafi pun melihat ada air mata yang masih membasahi pipinya,


"Jangan katakan kau sudah menangis? Siapa yang melakukan ini padamu?"


Tegur dr Rafi yang tidak suka melihat anaknya menangis.

__ADS_1


Dara pun mengatakan jika dirinya tidak apa-apa, dia hanya teringat akan masa lalunya bersama Amira dan ibunya.


__ADS_2