
Keesokan harinya, Rio terbangun dari kejadian semalam bersama suster Mery, dia sangat terkejut saat membuka matanya.
"Dimana aku?"
Ucap Rio tersadar dan melihat dihadapannya tertulis nama Amira.
"Hah, Amira"
Rio sangat terkejut karena kini dia sedang berada di depan makam Amira, Rio pun segera bangkit karena takut.
Rio melihat ke sekeliling makam Amira, ternyata dia berada di komplek rumah sakit jiwa tempat dimana Amira dirawat dulu.
"Tidak, tidak"
Sekuat tenaga Rio berlari dari makam Amira dan mencari jalan keluar, namun para suster disana yang mengira Rio adalah salah seorang pasien rumah sakit jiwa yang kabur segera berlari menangkapnya agar dimasukan kedalam ruang pengobatan.
Salah seorang suster pun berhasil menangkap Rio.
"Lepaskan aku, lepaskan aku"
Ujar Rio coba melepaskan diri dari beberapa suster wanita yang sudah terlatih untuk menangani pasien sakit jiwa.
"Kamu lari kemana kamu hah, kamu mau coba kabur dari sini?"
Kata salah satu suster wanita yang perawakannya sangat tinggi dan besar hingga membuat Rio tidak mampu menatapnya.
"Tapi aku bukan orang gila, aku tidak gila"
__ADS_1
Jawab Rio.
"Alah mana ada orang gila mengakui dirinya gila, penuh kali rumah sakit ini jika semua mengaku gila, ya kan, hahaha"
Uster itupun tidak mempercayai Rio, dia terus menarik Rio untuk masuk kedalam ruangan.
Hingga akhirnya karena Rio terus berontak salah satu suster pun menyuntikkan obat penenang pada Rio agar dia tidak bisa berkutik.
"Jangan, jangan, aku tidak gila, aku Rio, aku tidak gila, tolong jangan suntik saya"
Rio memohon pada semua suster namun tidak ada yang mendengarkan, hingga Rio pun akhirnya berhasil mereka tangani dengan suntikan penenang yang diberi pengobatan khusus orang gila didalamnya.
Rio pun melemah dan tidak sadarkan diri, kaki dan tangannya pun mereka ikat diatas pembaringan, karena ditakutkan ketika sadar nanti dia akan kembali berontak.
Sementara di rumah sakit, Vidia yang sudah tersadar coba membangunkan Reiner.
"Kamu kenapa vid?"
Tanya Reiner pada kekasihnya itu.
Vidia pun mengatakan jika semalaman dia sudah berpikir untuk masalah yang sedang dia hadapi saat ini.
"Aku akan menyerahkan diri ke polisi Rei"
"Apa?"
Reiner sangat terkejut mendengar niat Vidia.
__ADS_1
"Apa maksud semua ucapan kamu vid?"
Tanya Reiner serius pada Vidia,
Vidia pun mengatakan jika perasaannya sangat tidak tenang, hidupnya juga selalu di bayangi rasa bersalah pada Amira dan Sukma, itu sebabnya dia ingin menyerahkan diri pada polisi karena sudah terlibat dengan pelenyapan Sukma oleh Rio dan kawan kawannya.
"Gila kamu ya, itu artinya kamu juga akan menyerahkan aku, Rio dan Sadam ke polisi, itu tidak akan terjadi vid, tidak akan"
"Tapi Rei, aku sangat takut sekali, mendengar namanya saja aku sangat ketakutan, aku bersalah, mungkin itu yang membuat aku sangat takut, tidakkah kamu merasa bersalah dengan semua perbuatan kamu pada Amira?"
"Tidak vid, aku tidak akan membiarkan kamu menyerahkan diri ke polisi dengan semua laporan yang akan kamu buat, "
Reiner dan Vidia pun bertengkar dengan semua yang Vidia putuskan untuk menyerahkan diri ke polisi, Vidia bersikukuh ingin menyerahkan diri, namun Reiner tidak akan membiarkan semua itu terjadi.
"Kamu tidak akan bisa menghalangi aku untuk menyerahkan diri ke polisi, karena aku sudah memikirkan semua itu, aku tidak peduli seberapa berat hukumanku nanti, yang jelas aku tidak ingin lagi terbebani dengan semua kesalahanku pada mereka"
Terang Vidia yang masih terbaring di atas pembaringan.
Reiner yang kesal dan marah dengan semua niat dan keinginan Vidia pun segera bereaksi membekap wajah Vidia dengan bantal sekencang mungkin, dia tidak peduli dengan Vidia yang terus berontak minta tolong untuk tidak membekapnya, Reiner terlanjur naik pitam dan takut jika Vidia benar-benar ingin menyerahkan dirinya. Karena itu sama saja menjebloskan dia, keluarga dan kedua sahabatnya, Rio dan Sadam.
Selang beberapa menit Reiner membekap Vidia dengan bantal, dia pun melepaskan tangannya setelah Vidia sudah tidak melawan lagi, dan betapa terkejutnya dia saat melihat wajah Vidia yang sudah putih pucat.
"Vidia Vidia, bangun sayang, bangun "
Reiner sangat terkejut melihat Vidia yang sudah tidak bergerak lagi, nadi nya pun tidak berdenyut bahkan jantungnya tidak berdetak.
"Apa yang aku lakukan, tidak tidak mungkin, dia tidak mati, tidak"
__ADS_1
Teriak Reiner setelah menyadari jika Vidia sudah tiada karena tangannya sendiri.