
Di rumah sakit, dr Rafi coba menyelidiki penyebab kematian Vidia sesuai permintaan Dara, dia coba mengecek rekaman cctv namun tidak ada petunjuk, dia pun bertanya pada petugas disana
"Apa ada seseorang yang datang kesini kemarin ?"
Tanya dr Rafi, petugas pun menjawab jika tidak ada seorang pun selain dia yang masuk ke ruangan ini.
Dr Rafi pun akhirnya memberitahu Dara jika tidak ada petunjuk akan kematian Vidia,
"Baiklah terimakasih ayah, "
Dara pun melanjutkan aktifitasnya mengurus pak Dirga, dan pagi ini dia coba membawa pak Dirga untuk menghirup udara segar di halaman depan rumahnya.
"Bapak bisa coba bangun pelan-pelan ya, jangan takut"
Ucap Dara saat mengurus pak Dirga, sementara Bu Siska masih sibuk dengan segala urusannya di LSM dan Reiner mengurus kepergian Vidia bersama keluarganya.
"Apa saya bisa minta segelas teh manis hangat nak?"
Tanya pak Dirga pada dr Dara meminta segelas teh manis hangat, tentunya dr Dara mengijinkan.
"Sebentar ya pak, saya minta Bibi untuk buatkan"
Dara pun memanggil bibi untuk membuatkan teh hangat yang di minta pak Dirga, namun ternyata bibi tidak ada di rumah, dia sudah pergi ke pasar untuk belanja keperluan rumah.
Akhirnya Dara sendiri yang membuatkan teh untuk pak Dirga, tentunya itu bukan perkara yang sulit untuknya, karena dulu dia sudah biasa membuatkan teh hangat untuk pak Dirga saat masih menjadi Sukma.
Dara pun tiba dengan segelas teh hangat untuk pak Dirga.
"Ini teh manis hangat nya pak, minumlah, dan tenangkan pikiranmu agar bapak segera lekas sembuh"
Ucap dr Dara.
Pak Dirga pun tersenyum dengan semua nasihat Dara padanya.
"Terimakasih nak"
Jawab pak Dirga sembari meneguk teh buatan dr Dara.
"Sukma"
__ADS_1
Ucap pak Dirga saat satu tegukan berhasil dia minum, Dara pun sangat terkejut saat pak Dirga memanggilnya Sukma, air matanya berkaca-kaca, ternyata pak Dirga masih ingat dengan teh hangat buatan Sukma.
"Siapa yang buat teh manis ini nak?".
Tanya pak Dirga pada dr Dara.
Dara berusaha menahan air matanya agar tidak menetes dan membuat pak Dirga curiga padanya.
Namun hatinya tidak bisa dia kendalikan, dr Dara segera memeluk pak Dirga saat dirinya bertanya akan teh manis tersebut.
Pelukan dr Dara sangat tidak asing dirasa pak Dirga, karena dia sangat tahu betul jika pelukan ini adalah pelukan Sukma, tapi bagaimana Sukma menjadi seorang dr Dara pikir pak Dirga.
Dr Dara terbawa suasana hatinya sehingga dia tidak bisa mengendalikan diri untuk memeluk pak Dirga.
Pak Dirga pun hanya bisa mengusap kepala dr Dara seraya berkata,
"Jika kamu sedang rindu ayahmu, maka jangan sungkan untuk menganggap ku sebagai ayahmu sendiri nak"
Sebuah kalimat yang begitu membuat hati dr Dara semakin larut.
Dara pun tersadar dan melepaskan pelukannya
Jawab dr Dara dengan mengusap air matanya.
Pak Dirga pun tersenyum dan sedikit membuka percakapan mengenai penyesalannya.
"Andai kamu tahu nak, saat ini bapak juga sedang merindukan kedua putri bapak yang sangat baik dan cantik seperti kamu, kedua putri bapak sangat sayang dengan saya, begitupun sebaliknya, saya sangat menyayangi mereka meski tidak ada hubungan darah diantara kami tapi kami begitu sangat dekat, saya sangat merindukan mereka"
Jawab pak Dirga tidak bisa menahan air mata kerinduannya pada Sukma dan Amira.
"Maksud pak Dirga? Bukankah pak Dirga hanya mempunyai satu putra?"
Tanya Dara berlaga tidak tahu.
Pak Dirga pun menjelaskan jika dirinya memang memiliki satu putra, tapi dia mempunyai dua putri yang dia besarkan sedari kecil bersamanya di rumahnya ini.
"Mereka putri dari asisten pribadi kami yang seorang janda, mereka besar disini dan kami pun sangat menyayangi mereka, saya didik mereka dengan pendidikan yang baik hingga akhirnya..."
Pak Dirga tak bisa melanjutkan ceritanya karena air mata yang terus menetes.
__ADS_1
"Hingga akhirnya Sukma tiada, dan mungkin jika dia masih ada, saya bisa melihat dia tumbuh menjadi seorang dokter sepertimu nak Dara"
Lanjut pak Dirga mengenai Sukma.
"Lalu, siapa putrimu satu lagi? Dan kenapa Sukma tiada?"
Tanya Dara sekali lagi.
Pak Dirga pun semakin menunduk sedih, dia tidak kuasa menahan penyesalan didalam hidupnya itu.
Hingga akhirnya dia pun mengatakan jika Sukma masih hidup.
"Sukma ku masih hidup nak, tapi saya merahasiakan semua ini dari semuanya"
Ujar pak Dirga membuat Dara sangat terkejut, apa maksudnya, dan mengapa pak Dirga mengatakan dengan yakin jika Sukma nya masih hidup? Apakah dia tahu jika dirinya adalah Sukma?
***
Di rumah sakit jiwa, para suster tidak melepaskan Rio sedikitpun, dia terus di berikan banyak pertanyaaan seputar Amira dan Sukma, Rio juga mendapat beberapa suntikan dari mereka agar dia mau berkata jujur.
"Lepaskan aku, aku tidak gila lepaskan"
Satu suntikan lagi masuk dalam tubuh pemuda itu, hingga akhirnya perlahan Rio menjadi tidak waras dan benar-benar gila, namun disaat itulah semua kebenaran pun terungkap.
Rio mengatakan jika dirinya dan Reiner yang telah melecehkan Amira sampai hamil, dan itu mereka lakukan karena satu tantangan dan di bawah pengaruh alkohol, sementara Sadam tidak ikut melecehkan Amira, dia hanya ikut menangkap Amira saja setelah itu Sadam pergi karena dia tidak ingin melecehkan Amira.
"Sadam itu munafik, dia berlaga sok menolong wanita itu padahal dia sendiri membantu kami menyeretnya sampai masuk ke gudang, tapi saat kami membuka baju Amira, Sadam justru coba menghalangi kami dan menolong wanita itu, aku pun menghajar Sadam dan membuatnya pergi"
Ujar Rio dengan semua suara kejujurannya.
Rio juga menambahkan jika Amira diberi obat perangsang oleh Reiner sehingga dia sendiri menikmati semua yang kami lakukan padanya.
"Hahahaha"
Tawa Rio yang mulai gila.
"Tapi yang lebih bodoh itu kakaknya tuh si Sukma, dia menantang kami untuk lapor polisi dan masuk ke penjara padahal dia tidak punya bukti apapun untuk menjebloskan kami, bodoh sekali dia, sekalinya punya bukti eh dia malah mempercayai si Vidia pacarnya si Reiner, ya tentulah si Vidia tidak ingin kekasihnya masuk penjara, jadi kami menyewa preman untuk merebut bukti itu, polisi pun tidak bisa menangkap kami karena tidak ada bukti, hahaha"
Lanjut Rio
__ADS_1