
Ditempat lain, Sukma yang masih berada di kamar pasien tiba-tiba teringat akan Amira dan pak Dirga.
Dia masih tidak menyangka jika pak Dirga bisa Setega itu terlibat dalam pelenyapannya.
Air matanya kembali menetes.
Namun seketika lamunannya terjaga kala mendengar seseorang memanggil dirinya.
"Ka Sukma, aku ingin bertemu ka Sukma".
Sukma sangat terkejut mendengar suara yang tidak asing baginya itu.
"Amira, apa aku tidak salah dengar, Amira ada disini? Ah tidak mungkin, mustahil Amira ada disini?"
Pikir Sukma tanpa melihat keluar kamar jika sebenarnya Amira memang berada di rumah sakit yang sama dengannya.
Sukma pun tidak mau berlarut memikirkan hal yang tidak mungkin menurutnya.
Sukma pun kembali melatih kaki dan tangannya agar bisa secepatnya sembuh total, karena dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan adiknya itu
...
Pak Dirga pun sampai di rumah sakit, dia sangat tegang dan cemas.
"Bagaimana keadaan Amira sus?"
Dengan wajah panik pak Dirga menanyakan keadaan Amira pada suster pita. Suster pun mengatakan jika Amira sudah dibawa ke UGD untuk mendapatkan penanganan serius.
__ADS_1
"Dokter mengatakan jika kondisi Amira saat ini sangat lemah pak, dia juga terus berkata ingin bertemu dengan kakaknya, Sukma, tapi sampai saat ini saya juga tidak bisa menghubunginya? Saya tidak tahu kemana perginya Sukma disaat adiknya sedang bertaruh nyawa seperti ini disini?"
Timpa suster pita.
Pak Dirga pun dibuat semakin menyesal dengan semua yang dikatakan suster pita padanya.
"Sukma, maafkan bapak nak?"
Dalam hati pak Dirga menyesali sejadinya karena sudah tega memisahkan Kakak beradik yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri.
Pak Dirga menunggu dengan cemas perkembangan lahiran Amira di ruang tunggu, sementara itu di tempat yang sama, Sukma coba keluar dari kamarnya dengan menggunakan kursi roda untuk mencari udara segar, karena Sukma merasa suntuk berada di dalam ruangannya terus.
Suster pita permisi sebentar pada pak Dirga karena ada urusan mendadak yang harus dia lakukan di rumah sakit jiwa.
"Maafkan saya pak Dirga, sepertinya saya harus segera kembali ke rumah sakit jiwa, ada sesuatu yang harus saya lakukan disana, tapi bapak tidak usah khawatir, nanti dokter Alia akan datang kesini untuk menemani Amira."
Suster pita pamit, pak Dirga pun tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa untuk keselamatan Amira dan bayinya.
"Astaga maafkan saya mbak?"
Suster pita tidak sengaja menabrak kursi roda Sukma hingga dirinya terjatuh.
Sukma yang merasa bersalah pun justru meminta maaf pada suster pita,
"Mbak tidak kenapa apa? maafkan saya juga bersalah sudah berhenti di mana saja"
Ucap Sukma meminta maaf pada suster pita dan coba meraih tangannya untuk membantu suster pita bangkit.
__ADS_1
Sesaat Sukma teringat akan wajah suster pita,
Dia merasa tidak asing saat melihat wajahnya.
"Kenapa aku merasa mengenal wanita ini? Siapa dia?"
Pikir Sukma terus mengingat wajah suster pita.
"Ia sama-sama mbak, saya permisi ya, terima kasih sudah membantu saya"
Suster pita langsung berlalu dengan segera meninggalkan Sukma karena dirinya memang harus segera kembali.
"Tunggu dulu mbak?"
Teriak Sukma memanggil suster pita, karena Sukma penasaran siapa wanita itu, Sukma merasa dia sangat mengenalnya.
***
Dilain tempat Bu Siska yang sekarang mulai kesal pada pak Dirga karena dirinya sangat sibuk dan tidak bisa dia hubungi.
"Ayah kamu kenapa sih Rei, akhir-akhir ini papamu sangat sulit untuk dihubungi. Kesibukan apa yang sedang dia lakukan saat ini, padahal ini kan sudah sore kenapa papamu masih belum pulang?"
Melihat sang ibu yang resah dan gelisah karena papanya, Reiner pun coba menghubungi papanya lewat chat, Reiner menulis pesan pada papanya untuk segera pulang, karena namanya sangat mencemaskan nya.
Dan ternyata pesan Reiner juga tidak dibaca pak Dirga, beberapa kali Reiner coba menghubunginya, namun tidak terhubung, Reiner pun coba melacak keberadaan ayah nya itu.
"RS ibu dan anak Hermina"
__ADS_1
"Kenapa papa bisa ada di rumah sakit ini? Sedang apa papa di sana?
Reiner pun menyusul ayahnya ke tempat yang dia share di ponselnya.