
Hari demi hari pun berlalu, Sukma sudah mulai penasaran dengan wajah barunya setelah operasi.
Karena saking sudah tidak sabar, dia terus bertanya pada dr Rafi kapan perbannya akan dibuka?
"Nanti Sore perban kamu sudah bisa dibuka nak"
Jawab dr Rafi,
Sukma pun sangat bahagia dengan kabar yang diberikan dr Rafi padanya.
Sukma sungguh sangat merindukan wajahnya yang lucu dan menggemaskan.
Wajah Sukma memang cantik, namun dia lebih terlihat berwajah tenang bagi setiap yang melihatnya.
Dr Rafi pun ikut bahagia melihat kebahagiaan Sukma itu.
Namun dr Rafi ragu jika Sukma akan menyukai wajah barunya itu, yaitu wajah anaknya Dara yang sudah tiada.
Sukma sendiri tidak tahu jika ternyata wajahnya dirubah menjadi wajah orang lain, Sukma hanya mengira jika dia sudah Melakukan operasi wajah biasa.
***
Sementara di tempat lain, pak Dirga coba mengunjungi rumah sakit jiwa untuk melihat Amira.
"Saya ingin bertemu dengan Amira sus"
Saat itu ingatan Amira sudah mulai sedikit pulih, hanya saja dia masih belum mengontrol emosinya jika sedikit saja hatinya tersinggung entah karena hal apapun maka dia akan kembali histeris.
__ADS_1
Pak Dirga sengaja datang sendirian ke rumah sakit jiwa demi bertemu dengan Amira.
Pak Dirga yang sudah terlanjur menganggap dan menyayangi Sukma dan Amira berniat ingin membantunya walau hanya dengan materi tapi tanpa sepengetahuan istri dan anaknya.
Pak Dirga pun melihat Amira sedang duduk termenung dibawah pohon ditemani suster yang menjaganya,
Terlihat Amira begitu sangat merindukan Sukma dan menanti kedatangannya.
Pak Dirga tidak tega melihat Amira yang sedang termenung sedih dengan mengusap perutnya yang semakin membesar.
Pak Dirga menyadari jika secara tidak langsung, bayi yang dikandung Amira adalah anak dari Reiner, itu artinya, bayi itu adalah cucunya sendiri.
Batin pak Dirga kini sedang beradu dengan egonya, haruskah dia mengakui anak Amira sebagai cucunya, atau harus menghabisinya, karena dia sudah bisa menebak jika bayinya lahir dan orang lain tahu, maka semua itu hanya akan membuat nama baik dan reputasi keluarganya rusak.
Dan bulan ini kandungan Amira genap 6 bulan, perutnya pun sudah nampak mulai membesar, pak Dirga pun menghampiri Amira yang sedang duduk.
"Bapak"
Ucap Amira memanggilnya dengan sebutan bapak, sama seperti Sukma.
Amira pun dengan reflek langsung memeluk pak Dirga yang ada dihadapannya saat itu.
"Tolong jangan ambil ka Sukma pak, Amira mohon kembalikan ka Sukma pada Amira, Amira sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi sekarang"
Ucap Amira dalam pelukan pak Dirga.
Pak Dirga tidak menyangka jika respon Amira akan seperti ini, dia justru membayangkan jika Amira akan membencinya karena anaknya sudah menghancurkan kehidupannya sehingga dia kini hidup sebatang kara.
__ADS_1
Pak Dirga tidak mampu menjawab semua yang Amira katakan padanya, hanya air mata yang menetes di tepi kelopak matanya karena sedih dengan semua yang Amira katakan padanya.
"Amira mohon pak, jangan biarkan Amira sendirian lagi"
lanjut Amira kemudian melepaskan pelukannya.
Amira menatap wajah pak Dirga dengan tatapan nya yang bersinar seakan menyimpan harapan padanya jika dirinya bisa melindungi Amira, dia juga mengusap air mata di pipi pak Dirga dengan lembut, dan semua itu sungguh membuat hati pak Dirga tersentuh
***
Sukma sudah tidak sabar ingin melihat wajah barunya, karena saking tidak sabarnya, Sukma terus bicara pada dr Rafi untuk segera membuka perbannya.
"Ayo pak Rafi, cepat bukalah perban ini, saya sudah tidak sabar ingin melihatnya"
Ucap Sukma dengan sangat antusias mengingatkan dr Rafi akan sikap almarhum anaknya yang juga bersikap sama dengan Sukma.
Kemiripan tingkah laku dan kebaikan Sukma semakin mengingatkan dirinya pada Dara.
Dr Rafi pun terlihat nampak sedih.
Menyadari hal itu, Sukma pun bertanya apa yang sudah terjadi? Mengapa dr Rafi terlihat sedih?
Dokter Rafi pun mengatakan kerinduannya pada sang anak yang telah tiada pada Sukma.
Sukma yang sudah tidak segan lagi dengan dr Rafi pun langsung memeluk nya, berharap kerinduan dr Rafi pada Dara akan sedikit berkurang dengan pelukannya.
Dr Rafi pun berterimakasih pada Sukma karena selama ini, justru dengan kehadiran Sukma kesedihannya kehilangan Dara sedikit berkurang, dr Rafi tidak berlarut dalam kesedihan karena Sukma yang selalu membuatnya merasakan jika Dara hadir diantaranya.
__ADS_1