Aku istrimu bukan tawananmu

Aku istrimu bukan tawananmu
37.Berpura pura


__ADS_3

"Mungkin ini memang salah kita berdua,tapi aku akan mencoba untuk bertanggung jawab,aku akan berbicara dengan istriku nanti." ucap Eza.


Deg


Syila terkejut mendengar Eza mengatakan kalau ia sudah memiliki istri, kalau saja ia tahu dari awal ia akan mencoba sekeras mungkin untuk menolaknya tadi,ia tak akan terbuai oleh ucapan Eza yang mengatakan kalau ia mencintai nya.


("Jadi ucapan tadi itu,untuk istrimu, sepertinya aku terlalu percaya diri,aku memang bodoh sudah berpikir kalau kau memang mencintai ku.") Batin Syila.


Syila memunguti pakaian nya yang berserakan di atas lantai dengan masih menggunakan selimut yang menutupi tubuhnya,namun ternyata ia merasakan sakit di bagian sana, walaupun begitu ia tetap menahan rasa sakit itu,ia ingin segera keluar dari kamar tersebut.


"Kamu mau kemana?" tanya Eza melihat Syila ke arah pintu.


Namun Syila tak menjawab nya,ia langsung keluar dari kamar tersebut dan berpindah ke kamar sebelahnya,Syila langsung mengunci dirinya di kamar mandi,ia membasahi tubuhnya dengan air mengalir, tubuhnya ambruk ke lantai,ia memeluk tubuh nya, merasakan sesak di dada sambil menangis.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang,aku sudah memberikan kehormatan ku kepada laki-laki yang sudah memiliki istri, hiks hiks hiks," Syila menangis terisak.


Sementara di kamar sebelah,Eza terlihat frustasi,ia mengacak rambutnya,ia menyesali perbuatannya,ia bingung bagaimana harus menjelaskan semuanya pada Siska.


Eza pun tak tau sekarang Syila bagaimana,ia pasti sangat terpukul atas perbuatannya, melihat ke arah seprai bernoda darah itu membuat Eza semakin teringat apa yang sudah dilakukan nya,ia teringat bahwa ia yang telah memulainya,ia ingat semua yang telah terjadi.


"Argh..." Eza mengacak acak seprai tersebut.


***


Malam pun telah berlalu,namun Syila belum bisa juga memejamkan matanya, rasanya sangat sulit untuk melupakan kejadian semalam, Syila ingin sekali pergi dari tempat tersebut,pergi ke tempat yang sangat jauh,namun ia tak bisa melakukan itu,tuntutan pekerjaan membuat nya mengurung kan niat itu,ia tak mau mencampur adukkan masalah pribadi dengan kerjaan nya.


Syila mencoba untuk tenang,ia tak mau karier nya hancur karena kejadian ini, sekuat mungkin ia akan melupakan kejadian itu,ia ingin tetap pokus pada masa depannya, walaupun ia tak tau bagaimana masa depannya nanti.

__ADS_1


"Hmmm,aku harus menghadapi ini semua,aku tidak boleh lari dari kenyataan ini,tapi rasanya masih sakit sekali." gumam Syila sambil merasakan sakit di bagian bawah nya.


Kini waktu sudah semakin siang, Sebentar lagi meeting kedua akan segera dilaksanakan,Syila sudah rapi dengan pakaian kerja nya,saat ia sedang duduk tiba-tiba ponselnya berdering.


"Halo,Iyah pak kami akan segera kesana,baik terimakasih," ucap Syila, kemudian mematikan telepon nya.


Tok... tok..tok..


Tiba-tiba pintu kamar Syila ada yang mengetuk, Syila pun langsung membuka nya.


"Syil saya..." ucap Eza lirih.


"Klien kita Sebentar lagi sampai pak,lebih baik kita segera bersiap siap untuk berangkat meeting!" ucap Syila, berpura pura tidak terjadi apa-apa, walaupun sebenarnya ia merasa hancur.


Eza terdiam mendengar perkataan Syila,Eza mengerti bagaimana perasaan nya saat ini,namun dengan kuat nya ia tak mau membahas tentang semalam,Eza kagum melihat Syila yang profesional dalam bekerja.


Saat di perjalanan,Syila diam membisu,ia tak melihat ke arah Eza sedikit pun,ia lebih memilih melihat pemandangan lewat jendela mobil.


"Syil,soal kejadian semalam..." Eza membuka pembicaraan.


"Lebih baik kita bahas nanti saja, sekarang kita fokus pada tujuan kita datang ke sini, semoga pak Eza bisa bekerjasama dengan baik," ucap Syila tegas.


Eza benar benar dibuat bungkam oleh perkataan Syila,kali ini Syila benar benar serius,ia mengesampingkan ego nya.


Sesampainya di tempat meeting, seperti biasa Syila tampak bekerja dengan sangat baik, sehingga klien pun puas dengan apa yang Syila jelas kan, sampai pada meeting terakhir nya pun Syila masih tetap tegar,ia sangat bisa membedakan mana masalah pribadi dan kerjaan nya.


Malam hari pun tiba,kini Syila dan Eza sudah menjalani tugas nya dengan baik,saat mereka sampai di depan kamar hotel, tiba-tiba Syila menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Sepertinya malam ini saya akan pulang terlebih dahulu pak," ucap Syila dingin.


"Kenapa begitu, lebih baik kita pulang besok pagi saja,bukan kah kita kesini bersama jadi pulang pun harus sama sama, lagian juga pasti kamu sangat cape seharian ini meeting," ucap Eza


"Tidak pak,saya bisa pulang sendiri,saya rasa saya sudah selesai melakukan tugas saya dengan baik,jadi tolong ijinkan saya untuk beristirahat," Syila langsung masuk ke dalam kamar,ia mencoba menahan air matanya.


"Syila..." Eza menarik tangan Syila.


"Lepasin pak,tidak sepantasnya bapak memegang tangan sekertaris nya sendiri," Syila menghempaskan tangan Eza.


"Syila,kita harus bicara,kita harus menyelesaikan permasalahan ini," ucap Eza.


"Sepertinya tidak perlu pak, anggap saja tidak pernah terjadi apa apa di antara kita," Syila langsung mengunci pintu kamar nya.


"Tok tok tok,Syil buka pintunya Syil saya Mohon,kita harus bicara," Eza mengetuk pintu.


Tubuh Syila ambruk di balik pintu,kini ia tak bisa Lagi membendungnya air mata nya, tangisnya pecah saat ini setelah seharian ia menguatkan diri untuk tidak memperdulikan masalah yang terjadi, namun kali ini ia sudah tak kuat, karena nyatanya ia tak bisa sekuat itu,baginya ini terlalu menyakitkan.


"Aku bodoh,aku memang bodoh... Mama Syila kangen mah,bantu Syila untuk menghadapi ini semua,Syila takut sendirian mah,Syila takut hiks hiks hiks," Syila menangis terisak.


Syila terus menangis, kemudian ia menempelkan telinganya ke pintu,ia rasa Eza sudah tak ada di luar,ia segera kemasi semua pakaian ke dalam koper nya, kemudian ia pergi diam-diam dari hotel tersebut.


Syila pergi ke sebuah travel,ia memesan tiket jurusan Bandung-jakarta,ia ingin segera pulang ke rumah nya,saat ini ia tak bisa untuk melihat Eza terlebih dahulu.


Akhirnya mobil yang ditunggu nya datang,ia pun segera menaiki mobil tersebut,ada rasa lega saat dia pergi,namun ada juga rasa kecewa yang ia bawa.


Ia tak tau bagaimana nanti,jika istri nya Eza sampai tahu dengan apa yang terjadi,ia tak ada niat untuk menghancurkan rumah tangga nya,ia hanya terpesona oleh perhatian Eza sehingga membuat nya lupa diri,namun kalau ia tahu dari awal bahwa Eza sudah menikah,ia pun tak akan terjebak oleh rayuan Eza semalam yang membuat nya terbuai dan harus mempertaruhkan kehormatannya.

__ADS_1


__ADS_2