Aku istrimu bukan tawananmu

Aku istrimu bukan tawananmu
54.Bertepuk sebelah tangan


__ADS_3

Ketika ia ingin mengambil sabun mandi tiba-tiba ada seseorang yang mengambil barang yang sama, sehingga kini tangan mereka saling berpegangan.


"Maaf Tante, silahkan Tante aja yang ambil." ucap Siska ramah.


"Eemm baik sekali kamu cantik." ucap wanita tersebut.


"Saya bisa mengambil yang lain." Siska tersenyum.


"Terimakasih yah,saya sangat menyukai anak muda seperti kamu,yang mengalah kepada yang lebih tua." ucap wanita tersebut sambil tersenyum.


"Bukankah memang seharusnya begitu Tante." Siska tersenyum.


"Kamu memang anak baik,siapa namamu cantik?" tanya perempuan itu.


"Siksa Tan." Siska mengulurkan tangannya.


"Saya Amelia, panggil saja tante Lia! kamu kesini sama siapa nak?" Amelia membalas uluran tangan Siska.


Yah, wanita itu adalah Amelia,ibu dari Rehan dan Dika, seorang ibu yang sangat baik dan selalu ramah kepada siapapun.


"Saya Sendiri tan,tante sendiri?" tanya Siska.


"Sama anak saya,mana yah dia." Amelia melihat sekeliling.


"Nah itu dia,Dika sini?" panggil Amelia.


("Hah,Dika? jangan jangan.") batin Siska.


" Bu Siska?" Dika terkejut.


"Pak Dika." Siska menunjuk.


"Kalian udah saling kenal ternyata." ucap Amalia heran.


"Iyah mah,dia Siska yang seminggu lalu itu Dika cerita kalau ibu nya meninggal,itu loh yang Dika sama Rehan kesana?" Dika bingung menjelaskan nya.


"Oh,guru yang ngajar di sekolah yang sama dengan mu itu yah?" tanya Amelia, mengingat ingat.


"Iyah Tante." Siska tersenyum.


"Ya ampun,Tante turut berdukacita yah." Amelia memegang tangan Siska.


"Iyah Bu, terimakasih." ucap Siska.


"Pak dika kok nggak ngajar?" tanya Siska.


"Cuma ada jadwal siang Bu,jadi saya antar mama belanja dulu." ucap Dika.


"Oh, Iyah." Siska tersenyum.


"Bu Siska belum masuk mengajar lagi?" tanya Siska.


"Insyaallah lusa pak." jawab Siska.

__ADS_1


Amelia melihat ada tatapan yang berbeda dari putra nya ini, sepertinya Dika menyukai Siska,namun Amelia tak tahu apa yang membuat keduanya tidak bisa berhubungan.


"Kalau begitu saya duluan yah Tante,pak Dika,saya sudah selesai belanja nya." ucap Siska sambil tersenyum.


"Oh Iyah silahkan." ucap Amelia.


Siska pun pergi menuju kasir, setelah ia membayar total belanja nya,ia pun berjalan membawa belanjaan nya menggunakan troli menuju mobilnya.


"Apa kamu menyukai gadis itu?" tanya Amelia.


"Siska sudah menikah mah." jawab Dika pura pura tersenyum.


("Kasihan sekali anak ku,kenapa cinta nya selalu bertepuk sebelah tangan,semoga suatu saat nanti ia bisa menemukan seseorang yang memang pantas untuk nya,aku tak akan melarang nya berhubungan dengan wanita manapun, selagi wanita itu baik dan mencintai nya.") batin Amelia.


***


Pagi itu Rehan sudah berada di rumah sakit,namun ia masih bersantai santai karena belum ada pasien, entah kenapa,saat ia memainkan ponselnya tiba-tiba ia teringat akan wanita yang sangat membuat nya penasaran,ia pun sedang memikirkan cara bagaimana ia bisa mendapatkan nomor wanita itu.


Yah, Rehan sangat penasaran dengan Rani, sahabat dari Siska,ia pun tak mungkin meminta bantuan Abang nya, karena ia tahu Abang nya pasti tidak akan bersedia untuk membantu nya.


"Sepertinya aku punya ide." Rehan berdiri dari posisi duduknya, kemudian ia keluar dari ruangan nya menuju tempat pendaftaran.


"Sus,data data pasien atas nama ibu Ani yang meninggal satu Minggu lalu apa masih ada?" tanya Rehan kepada resepsionis.


"Sebentar dok,saya cek dulu." ucap suster itu.


"Bagaimana?" tanya Rehan tidak sabar.


"Ada dok,kenapa yah?" tanya suster tersebut.


"Ini dok." suster tersebut memberikan map kepada Rehan.


Rehan membuka map tersebut,ia mencari nomor telepon yang ada di sana, karena ia yakin nomor ponsel itu adalah nomor Siska,karena Siska sendiri yang mendaftar waktu itu.


"Nah udah sus, Makasih yah." Rehan memberikan kembali map tersebut.


"Sama sama dok." ucap suster.


Rehan pun bisa tersenyum lebar ketika mendapatkan nomor tersebut,ia pun kembali lagi ke dalam ruangan nya.


Rehan menghempaskan tubuhnya ke kursi miliknya, kemudian ia mulai mengirimkan pesan ke nomor tersebut.


"Tinggal nunggu balasan." Rehan memutarkan kursi nya sambil tersenyum.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Siska baru saja masuk ke dalam rumah nya,ia mulai menata belanjaan nya satu persatu,dari mulai sayuran,buah buahan, bumbu bumbu,daging,ikan,dan juga persabunan.


"Lumayan lelah juga hari ini." Siska menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, setelah selesai menata belanjaan nya.


Tak terasa waktu pun sudah menunjukkan pukul 11.30, ia pun duduk sambil memainkan ponselnya,saat ia membuka ponsel nya,ia melihat ada pesan masuk dari nomor yang tidak di kenal nya, karena penasaran ia pun membuka pesan chat tersebut.


"*Assalamualaikum,apa benar ini nomor Bu Siska,saya Rehan,ada sesuatu yang ingin saya tanyakan."


"Ada yang bisa saya bantu dokter?"


"Maaf sebelumnya,apa saya boleh minta nomor sahabat bu Siska?"


"Eemm maksud nya?,maaf dok sebaik nya panggil Siska saja, sepertinya kita masih seumuran,saya merasa tua di panggil seperti itu,hehehe."


"Baiklah,saya langsung ke intinya aja yah,saya minta nomor Rani, sahabat mu, apakah boleh?"


"Buat apa hayo? kalau cuma buat main main saya nggak berani han.


"Jujur saja,saya ingin lebih mengenal nya."


"Baiklah nanti saya akan kirimkan,tapi sebelum nya saya harus meminta izin dulu,nggak papa kan?"


"Iyah,saya tunggu kabar baik nya*."


Siska tersenyum sendiri, mendapatkan pesan chat dari Rehan,ia tak menyangka Rehan akan meminta nomor sahabat nya itu, karena ia tak curiga jika waktu pemakaman itu,diam diam Rehan memperhatikan Rani,mungkin Siska terlalu sedih karena kehilangan ibu nya sehingga ia tak menyadari nya.


"Aku harus menelpon Rani,kayak nya ini udah waktunya istirahat, mungkin Rani sedang istirahat di kantor nya sekarang." gumam Siska.


Tut.. Tut...Tut.


"Halo ran?" ucap Siska menempelkan ponsel di telinga nya.


"Iyah,loe nggak papa kan sis?" suara Rani tampak cemas.


"Nggak papa,sorry nih gue ganggu." ucap Siska.


"Nggak kali sis,gue cuma khawatir aja loe Kenapa napa, soalnya loe tumben telpon, biasanya juga kita chattingan." ucap Rani.


"Ada sesuatu yang mau gue omongin." ucap Siska.


"Hah,apa?" Rani khawatir.


"Santai santai,loe kenapa sih parno gitu,hehehe" Siska tertawa kecil.


"Gue tuh khawatir sama loe sis,jadi gue takut ada apa apa sama loe." ucap Rani.


"Sebelum nya makasih kalau loe udah perhatian sama gue,tapi di sini gue mau ngomong tentang loe,bukan soal gue." ucap Siska.

__ADS_1


"Hah gue,emang kenapa sama gue?" ucap Rani heran, karena dia merasa tidak kenapa napa.


__ADS_2