Aku istrimu bukan tawananmu

Aku istrimu bukan tawananmu
47.Dokter Rehan


__ADS_3

Eza dan Siska pun langsung masuk untuk melihat kondisi ibu nya, yang sudah sadar, setelah hampir beberapa jam tidak sadarkan diri.


"Ibu..." Siska memegang tangan ibu nya.


"Iyah nak." jawab ibu Ani pelan.


"Ibu gak papa kan,mana yang sakit Bu, sebelah mana?" Siska khawatir.


"Ibu gak papa nak, maafin ibu yah udah bikin kalian khawatir." ucap ibu Ani.


"Nggak Bu,ibu nggak perlu minta maaf,Siska yang minta maaf karena gak bisa jagain ibu, sampai sampai,ibu sakit gini pun,Siska baru tau sekarang Bu, hiks hiks hiks." Siska tak bisa menahan tangisnya.


"Jangan minta maaf nak,ibu saja yang tidak menuruti mu untuk selalu check up ke dokter sejak lama." Ibu mengeratkan genggaman nya.


"Udah yah Bu, sekarang ibu istirahat,Siska mau bicara dulu sama mas Eza sebentar." Siska melepas pegangan tangan nya.


"Sebentar yah Bu,Eza keluar dulu." Eza mengikuti Siska dari belakang.


Siska mengajak Eza duduk di ruang tunggu, untuk membicarakan tentang kondisi ibu nya.


"Jadi sebenarnya,apa penyakit ibu?" Eza memegang tangan Siska.


"Menurut dokter Ricard,ibu mengalami kanker otak stadium akhir,tapi itu belum tentu benar, karena cek laboratorium nya belum keluar." Siska menjelaskan yang ia ketahui dari dokter Ricard.


"Jadi,kapan hasil nya akan keluar?"


"Mungkin sebentar lagi,aku juga sedang menuju dari tadi." ucap Siska.


Eza dan Siska menemani ibu Ani di rumah sakit,tak terasa waktu pun sudah menunjukkan pukul empat sore,saat Siska sedang menyuapi ibu nya, tiba-tiba dokter masuk ke dalam ruangan nya.


"Dengan nama pasien ibu Ani?" tanya dokter Rehan saat memasuki ruangan.


"Iyah,betul dok." ucap Eza,Eza yang sedang duduk di sofa pun langsung berdiri.


"Saya dokter Rehan yang menggantikan dokter Richard,eemm bagaimana keadaan ibu Ani sekarang,apa masih ada keluhan?" tanya dokter Rehan, memeriksa bagian dadanya dengan stetoskop.

__ADS_1


"Kepala nya masih sakit dok." jawab ibu Ani.


Dokter Rehan mengangguk kan kepalanya, kemudian ia melirik ke arah siska yang sedang berdiri di samping ibu nya,ia mengingat ingat, sepertinya ia pernah bertemu dengan Siska waktu itu.


"Eemm Bu Siska?" tanya Rehan ragu.


("Kenapa dia tau namaku?") batin Siska.


"Maaf maaf,Bu Siska ini teman nya Abang saya kan,Guru di sekolah yang sama dengan Abang saya mengajar maksud nya?" Rehan mengingat ingat kembali.


"Oh Iyah,dokter ini Rehan adik nya pak Dika yah,ya ampun maaf saya tidak mengenali anda, soalnya terlihat berbeda memakai seragam dokter seperti ini." Siska mengingat kejadian saat Rehan mengantar Dika ke sekolah waktu itu,dan Dika sempat mengenalkan nya.


"Iyah,betul sekali,tidak sangka yah bisa bertemu di sini?" Rehan tampak terkejut.


"Saya juga tidak menyangka kalau kau ternyata seorang dokter muda yang hebat." Siska memuji Rehan.


"Bu Siska juga Guru yang hebat,bang Dika sering bercerita tentang anda." Rehan tertawa kecil.


("Siska seperti nya cukup akrab dengan dokter ini,jadi males lihat mereka saling memuji seperti itu,tidak kah dokter Rehan tau,aku suaminya ada di sini.") batin Eza.


"Oh Iyah,saya Rehan." Rehan mengulurkan tangannya.


"Eza,suami Siska," Eza berjabat tangan dengan Rehan.


Ketika mereka sedang berbincang bincang, seorang suster masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Maaf Dok,hasil lab nya sudah keluar." suster menyerahkan amplop putih pada Rehan.


"Baik terimakasih." ucap Rehan ramah.


"Eemm ini hasil lab nya sudah keluar,bisa ikut ke ruangan saya?" ucap Rehan pada Siska.


"Saya juga ikut." Eza tak mau membiarkan mereka berduaan.


"Boleh, kalau begitu kami tinggal Sebentar yah Bu,ibu akan di temani dulu oleh suster,mari ikut saya" Rehan melangkah keluar,dengan Eza dan Siska yang mengikuti nya dari belakang.

__ADS_1


Di ruangan Dokter Rehan ,mereka menunggu penjelasan dari dokter dengan suasana yang cukup tegang, karena dokter Rehan yang saja melihat hasil lab nya.


"Jadi bagaimana dok?" tanya Siska penasaran.


Rehan menghembuskan nafasnya. "Sepertinya dugaan Dokter Ricard benar,dari hasil lab tersebut menunjukkan bahwa ibu Ani memang teridentifikasi menderita kanker otak stadium akhir,saya minta maaf harus mengatakan ini." Rehan menghela nafasnya.


"Mas,ibu mas, hiks hiks hiks." Siska tak bisa menahan tangisnya.


"Jadi apa yang harus kita lakukan dok?" tanya Eza sambil merangkul Siska.


"Sepertinya kita hanya perlu berdoa saja, semoga ada keajaiban untuk ibu Ani,karena ini sudah terlambat untuk di tangani,tapi saya sangat yakin, tidak ada yang tidak mungkin jika memang Allah mengizinkannya." Rehan memberikan semangat.


"Sekarang kita harus bagaimana dok?" Eza masih berharap ada jalan untuk kesembuhan mertuanya.


"Untuk saat ini,ibu Ani harus tetap di rawat intensif di rumah sakit ini,kita harap ibu Ani bisa mengalahkan penyakit nya ini dengan bantuan obat obatan di sini, karena kalau di bawa pulang juga sangat Berbahaya untuk kesehatan nya." Rehan menjelaskan.


"Tapi, kenapa ibu terlihat baik baik saja dok,tadi dia mengobrol dengan kami." ucap Siska.


"Yah itu dia yang membuat saya takjub dengan ibu Ani, kebanyakan orang di kondisi nya saat ini mungkin sudah tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya,tapi tidak dengan beliau, sepertinya ibu Ani orang yang sangat kuat." Rehan tersenyum.


"Terimakasih dok atas penjelasannya, Mungkin sekarang kami hanya bisa berpasrah apapun yang terjadi,sambil terus mendoakan yang terbaik untuk kesembuhan nya." Eza menepuk-nepuk pundak Siska supaya tenang.


"Baik,saya rasa sudah cukup menjelaskan semuanya, semoga Allah memberikan kemudahan untuk semua nya." ucap Rehan.


"Baik dok, terimakasih,kami permisi kembali ke ruangan lagi." Eza pamit keluar.


"Sama2,Bu Siska,yang sabar yah?" Rehan menyemangati Siska.


"Terimakasih,salam untuk pak Dika, karena seperti nya beberapa hari ke depan saya tidak bisa mengajar,saya akan lebih pokus mengurusi ibu saya." Siska berdiri.


"Baik,akan saya sampaikan." Rehan tersenyum ramah.


Eza dan Siska keluar dari ruangan tersebut,Rehan memandangi nya sampai keduanya menutup pintu nya kembali.


"Pantas saja Abang menyukai wanita itu,dia terlihat sangat cantik dan baik,bang Dika sangat payah tidak bisa mendapatkan nya,hmmm sepertinya aku harus mengajari bang Dika bagaimana meluluhkan hati seorang wanita." gumam Rehan.

__ADS_1


Kini Eza dan Siska sudah berada di ruangan ibu Ani,kini ibu Ani terlihat sangat pucat dan lemah,Siska sangat takut hal yang tidak di inginkan nya terjadi,ia tak sanggup kalau harus kehilangan ibu nya juga setelah ia kehilangan ayahnya dulu.


__ADS_2