
"Tidak tidak pak,saya cuma mau pokus jadi ibu rumah tangga saja,pak,saya tidak berniat mengajar di sekolah mana pun." ucap Siska ia tak mau pak kepala sekolah salah paham.
"Sepertinya sangat berat sekali melepaskan guru seperti Bu Siska,anak anak pasti sangat kehilangan sosok Bu Siska yang sangat di sukai oleh para murid di sekolah ini,tapi harus bagaimana lagi,saya pun tidak ada hak untuk menahan Bu Siska untuk tetap mengajar di sekolah ini" Pak kepala sekolah Tampaknya sangat kecewa.
"Sekali lagi saya minta maaf pak,ini surat pengunduran diri saya." Siska memberikan amplop tipis berwarna coklat.
"Baiklah Bu Siska,jika ini menjadi keputusan nya,tapi,jika nanti ibu berniat untuk mengajar lagi di sini,saya akan sangat senang, sekolah ini akan menerima kapan saja ibu bersedia." ucap pak kepala sekolah.
"Terimakasih pak,saya tidak akan melupakan semua kenangan di sekolah ini,kalau begitu saya permisi." Siska berdiri dari posisi duduknya.
"Baik, silahkan!" ucap pak kepala sekolah sambil tersenyum,Siska pun membalas nya dengan senyuman, setelah itu,ia keluar dari ruangan tersebut.
Saat Siska baru saja menutup kembali pintu ruangan kepala sekolah dari luar, tiba-tiba ia dikagetkan dengan seseorang yang memanggil namanya dari kejauhan.
"Bu Siska? panggil Dika, yang berjalan ke arah nya.
Siska tersenyum saat Dika menghampiri nya. "Pagi pak Dika?" Siska menyapa Dika.
"Pagi juga,eemm Bu Siska sudah mulai mengajar lagi yah, syukurlah kalau begitu." ucap Dika sambil tersenyum.
"Nggak pak,saya kesini untuk mengundurkan diri,saya sudah tidak akan mengajar lagi di sekolah ini." ucap Siska.
"Maksud nya?" tanya Dika masih belum paham.
"Jika memang pak Dika tidak sibuk,Lebih baik kita mengobrol di kantin,biar saya jelaskan." ucap Siska.
"Baiklah,saya juga tak ada jadwal mengajar di jam pertama." ucap Dika yang langsung berjalan menuju kantin.
Tak lama kemudian, mereka sampai di kantin, mereka memesan minuman,lalu duduk di tempat yang sekiranya cocok untuk bersantai.
"Jadi bagaimana,apa saya tidak salah dengar dengan apa yang Bu Siska ucapkan?" Dika mencoba meyakinkan pendengaran nya.
"Sama sekali tidak pak,saya akan keluar dari sekolah ini." ucap Siska yakin.
__ADS_1
"Kenapa mendadak sekali bu,dan apa alasannya?" ucap Dika terkejut dengan keputusan Siska.
"Saya ingin pokus menjadi ibu rumah tangga pak,saya rasa saya sudah cukup untuk mengajar di sini,lagi pula untuk saat ini saya ingin lebih pokus untuk mengurus suami saya, apalagi setelah ibu saya meninggal,saya merasa saya harus di rumah saja." ucap Siska menjelaskan.
"Tapi,apa yakin hanya karena itu?" Dika masih belum puas dengan jawaban Siska.
"Sebenernya,saya juga ingin menjalankan program kehamilan pak, pak Dika tau sendiri,saya belum memiliki keturunan juga di usia pernikahan saya yang setahun lebih." ucap Siska.
"Oh jadi begitu Bu,hmmm saya sangat menyayangkan pemberhentian Bu Siska ini, padahal anak murid di sini sangat menyukai pelajaran ibu sampai kan, menurut mereka Bu Siska ini pintar dalam menjelaskan apa yang sekiranya susah untuk di mengerti oleh murid." ucap Dika.
"Harus bagaimana lagi pak, keputusan saya sudah bulat, semoga saja saya bisa mengambil keputusan yang terbaik,dan tidak ada penyesalan di kemudian hari." ucap Siska.
"Aamiin,eemm tapi saya masih boleh kan jika saya mau bertemu untuk sekedar mengobrol bersama Bu Siska?" tanya Dika.
"Tentu saja,kita masih bisa menjadi teman, lagian juga kita sudah sering bertemu bukan selain di sekolah pun." ucap Siska.
"Iyah Bu,eemm Bu Siska mau langsung kemana habis dari sini?" tanya Dika.
"Oh ya udah hati hati Bu, sampai jumpa di lain waktu." ucap Dika.
Siska pun langsung berjalan menuju gerbang,ia menunggu taksi yang lewat.
"Kok gak ada taksi yang lewat sih?" gumam Siska yang berdiri di depan gerbang sekolah.
Saat Siska Sedang menunggu taksi, tiba-tiba sebuah mobil berwarna putih, berhenti persis di depan nya,ia pun penasaran siapa pemilik mobil tersebut,namun ia pun seperti pernah melihat mobil tersebut, walaupun ia lupa di mana pasti nya.
"Sis? mau kemana?" tanya Rehan.
("Pantas saja aku pernah melihat mobil itu, ternyata mobil Rehan,semalam dia memakai mobil itu saat mengantar Rani ke rumah.") batin Siska.
"Mau pulang." jawab Siska sambil tersenyum.
"Ayo masuk!" ucap Rehan.
__ADS_1
"Nggak ah,takut ngerepotin." Siska menolak.
"Ayo masuk! ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." ucap Rehan.
Mendengar perkataan Rehan,Siska pun masuk ke dalam mobil nya.
"Bukannya kamu mau ke rumah sakit Han?" tanya Siska.
"Iyah,tapi bukannya rumah mu kelewatan yah kalau aku mengarah ke rumah sakit dari sekolah ini." ucap Rehan.
"Iyah juga sih." ucap Siska.
Rehan tersenyum, setelah itu ia mulai melajukan mobilnya.
"Sebentar,aku baru sadar, bukannya ini masih sangat pagi, Kenapa kamu malah pulang, bukannya mengajar?" tanya Rehan yang baru menyadarinya.
"Aku berhenti mengajar Han." ucap Siska.
"Hah,Kenapa?" tanya Rehan penasaran.
"Aku tidak bisa jelaskan detail nya,tapi kamu pasti paham kenapa aku melakukan semua ini,semalam Rani sudah menjelaskan semuanya,dan aku memutuskan untuk pura pura tidak tahu mengenai apa yang aku,Rani dan kamu ketahui tentang mas Eza." ucap Siska.
"Tapi kenapa kamu malah melakukan semua ini, Kenapa kamu tidak,eemm maaf yah, mengajak nya berpisah,secara,dia sudah melakukan hal yang tidak sepantasnya padamu." ucap Rehan ragu.
"Aku takut,dia melakukan ini karena kesalahanku Han, kesalahan ku karena aku belum juga memberinya keturunan." Siska menghembuskan nafasnya.
"Jadi,kamu mau fokus untuk bisa memberinya keturunan, sampai sampai kamu rela berhenti dari sekolah?" tanya Rehan meyakinkan.
"Yah, sepertinya kamu sudah paham walaupun aku tak menjelaskan nya." ucap Siska.
("Aku sudah yakin,ini ada hubungan nya dengan suaminya itu,ya tuhan,Siska memang wanita yang sangat baik,bahkan saat ia sudah disakiti hatinya oleh seseorang yang ia cintai,ia malah menyalahkan dirinya sendiri, terbuat dari apa hati mu sis,hmmm pantas saja bang Dika menyukai mu, ternyata kau layak untuk di cintai, sepertinya Suami mu saja yang bodoh,sudah menghianati wanita sebaik mu.") batin Rehan.
"Lalu kamu tidak mencari kebenaran nya sendiri? apa kamu nggak ada rasa untuk melihat kenyataan yang sebenarnya,aku takut sis,kamu salah dalam bertindak,aku takut suami mu melakukan ini bukan karena soal anak,tapi karena memang mereka sama sama nyaman dengan kebersamaan nya." ucap Rehan.
__ADS_1