Aku istrimu bukan tawananmu

Aku istrimu bukan tawananmu
64.Menalak


__ADS_3

Siska berdiri di balik pintu,ia menangis sekencang kencangnya,ia tak bisa lagi menahan tangisnya.


"Ibu,ayah... sekarang tak ada lagi seseorang yang bisa menjadi tempat ku bersandar,suami yang selama ini aku anggap suami idaman,kini dia telah menghianati ku,sekarang saat semuanya telah terjadi,lalu laki laki seperti apa yang harus aku percaya, sementara lelaki yang ku anggap sempurna pun bisa berbuat Setega itu, hiks hiks hiks." tubuh Siska ambruk di balik pintu,ia menangis terisak, sambil memeluk kakinya.


"Aku sudah salah mengambil keputusan,aku terlalu terburu buru untuk mengorbankan karier ku hanya untuk mempertahankan rumah tangga yang ternyata tidak bisa aku perbaiki, hiks hiks hiks." Siska menangis terisak.


Eza mengepalkan tangannya saat ia keluar dari kamarnya,ia juga tak punya pilihan lain, karena ia tahu kalau itu adalah rumah orang tua Siska yang berarti itu menjadi rumah Siska atas sepeninggal kedua orang tuanya.


Eza pun menghempaskan tubuhnya ke atas sofa ruang tamu,ia memijit pelipisnya yang terasa pusing, sambil terus berpikir, bagaimana menghadapi semua ini.


("Kenapa semuanya jadi seperti ini,aku kira Siska bisa menerima keputusan ku ini, bagaimana ini?") batin Eza.


Saat ia sedang memikirkan bagaimana caranya agar semua bisa seperti apa yang ia inginkan, tiba-tiba handphone nya berdering,Eza pun langsung mengangkat nya.


"Kamu dimana mas?" tanya Syila lewat telpon.


"Aku di rumah kenapa?" tanya Eza.


"Bagaimana,apa kau sudah mengatakan semuanya pada istri mu?" tanya Syila.


"Dia tidak setuju aku berpoligami,dia menyuruh ku untuk memilih antara kau dan dia." Eza menghela nafasnya.


"Kau pasti pilih aku kan mas,?" Syila menekankan.


"Aku belum mengambil keputusan,tapi sepertinya Siska sudah kecewa sama aku." ucap Eza.


"Ya udah lah mas,kalau memang dia tidak mau, lagian kamu juga udah janji kan bakal nikahin aku,jadi tidak ada alasan lagi buat kamu mempertahankan istri mu kalau memang dia sudah tidak mau." ucap Syila.


"Aku pikirkan lagi nanti,ku harap kau sedikit bersabar." ucap Eza.

__ADS_1


"Eemm sekarang mas di mana?" tanya Syila.


"Aku sedang di ruang tamu,Siska menyuruh ku keluar dari kamar nya." ucap Eza.


"Ya udah,kamu kesini aja,ke rumah ku, daripada kamu di sana." ucap Syila.


"Sepertinya tidak dulu yah,aku sedang tidak mau ke mana mana,aku tutup dulu telponnya." ucap Eza yang langsung menutup teleponnya.


Sedangkan di sana,Syila kesal karena Eza mematikan sambungan telepon nya dengan begitu saja.


"Aku harus memastikan untuk mendapatkan mas Eza,aku tak mau dia meninggalkan ku begitu saja,atas apa yang sudah ia lakukan." gumam Syila.


***


Siska baru saja bangun dari tidurnya, sebenarnya ia tidak tidur dari semalam,ia tertidur setelah sholat subuh,ia pun masih menggunakan mukenanya di atas sajadah.


Siska pun ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, setelah itu ia segera bersiap siap untuk melakukan apa yang menjadi rencana nya hari ini.


Setelah selesai,Siska pun keluar dari kamarnya,saat ia melewati ruang tamu,ia melihat Eza tertidur di sofa. Sebenarnya Siska sangat kasihan melihat suaminya itu karena walau bagaimanapun ia masih mencintainya,namun kekecewaan nya terlalu besar sehingga ia tak ada pilihan lain untuk mengambil jalan nya sendiri.


("Maafkan aku mas,aku sudah kecewa sama kamu, semoga kamu bisa bahagia bersama nya.") batin Siska.


Saat Siska melangkah, tiba-tiba Eza terbangun,Eza memanggil Siska yang akan keluar membuka pintu rumah nya.


"Kamu mau kemana?" tanya Eza dengan suara khas bangun tidur.


"Aku mau ke pengadilan agama,aku akan mengurus surat cerai kita,jadi kau tinggal menunggu saja surat itu." Siska membalikkan tubuhnya.


"Tidak,aku tidak mau bercerai dengan mu,aku mohon jangan." Eza bertekuk lutut.

__ADS_1


"Cukup mas,jika kau tak bisa meninggalkan dia,hanya inilah jalan satu satu nya,aku sudah tidak ada pilihan lain,lebih baik aku yang mundur." ucap Siska.


"Kenapa kau tidak setuju dengan keputusan ku sayang,Syila wanita yang baik,kalian akan hidup rukun walaupun satu sama lain." ucap Eza membela Syila.


Siska berjalan menghampiri Eza. "Wanita yang baik tidak akan mengambil milik orang lain, seharusnya kau paham itu." ucap Siska menatap tajam ke arah Eza.


"Ta-tapi-" Eza gugup.


"Aku belum selesai berbicara." Eza mengangkat tangannya. "Tadi nya aku tidak mau terburu-buru mengambil keputusan ini, karena keputusan ini sangat berat untuk ku,aku berpikir kau memanggilku tadi untuk meminta maaf dan akan mengatakan kalau kau akan meninggalkan wanita itu." mata Siska berkaca-kaca. "Tapi sepertinya aku salah,kau malah dengan terang terangan memuji wanita itu di depanku, dengan begitu aku minta,kau talak aku sekarang!" Siska sudah tak bisa lagi menahan emosi nya.


"Aku tidak bisa," ucap Eza.


"Aku katakan sekali lagi,talak aku sekarang!" ucap Siska dengan berteriak,ia sudah sangat emosi.


"Baiklah,jika memang itu yang kau mau,mulai hari ini aku jatuhkan talak padamu,kau bukan lagi istri ku." ucap Eza dengan lantang.


Siska terdiam sesaat,ia merasa separuh jiwanya telah hilang bersamaan dengan suaminya yang menalak nya. "Terimakasih mas,kau bisa bebas sekarang,dan kita bisa menjalani hidup kita masing-masing." Siska mengusap air matanya, kemudian ia pergi meninggalkan Eza.


"Sial,kenapa aku menalak nya tadi" Eza mengepalkan tangannya,ia merasa sangat emosi tadi.


Eza pun tak ada pilihan lain,selain pergi dari rumah itu,ia pun sudah tak punya hak lagi untuk tetap berada di rumah tersebut karena sekarang ia bukan lagi Suami Siska.


Sementara di dalam mobil,Siska menangis sambil mengendarai mobil nya,ia urungkan niatnya untuk ke pengadilan agama terlebih dahulu, sepertinya ia membutuhkan waktu untuk menenangkan diri nya.


Siska menghentikan mobilnya,ia berjalan ke pinggir sebuah danau buatan,Siska duduk di bangku yang berada di sana,ia menangis terisak dengan kenyataan yang terjadi.


Sebenarnya Siska tadi hanya menggertak suaminya saja, karena ia juga masih mencintainya,namun karena suaminya sepertinya tidak bisa meninggalkan selingkuhan nya,ia pun harus merelakan dan melepaskan nya.


"Kenapa mas,kenapa kau setega itu,kenapa kau bisa berubah secepat ini, padahal aku yang selama ini menemanimu,tapi dengan gampangnya kau terjerat dalam sebuah lubang yang kau bilang itu adalah hanya sebuah kesalahan, hiks hiks hiks." Siska menutup wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2