
Sebenarnya Siska tadi hanya menggertak suaminya saja, karena ia juga masih mencintainya,namun karena suaminya sepertinya tidak bisa meninggalkan selingkuhan nya,ia pun harus merelakan dan melepaskan nya.
"Kenapa mas,kenapa kau setega itu,kenapa kau bisa berubah secepat ini, padahal aku yang selama ini menemanimu,tapi dengan gampangnya kau terjerat dalam sebuah lubang yang kau bilang itu adalah hanya sebuah kesalahan, hiks hiks hiks." Siska menutup wajahnya.
Siska tak bisa menahan tangisnya,kekecewaan nya begitu dalam,ia melemparkan batu kecil ke danau sambil berteriak,ia hanya berharap bisa sedikit lebih lega,namun nyatanya tidak,ia tak bisa menahan tangisnya, tangisnya pecah saat itu juga.
"Siska?" seseorang memanggil nya, kemudian menghampiri nya. "Kamu kenapa?" seseorang itu khawatir melihat Siska yang sedang menangis sendirian.
Tanpa di sadari Siska memeluk nya,ia tak memikirkan apa pun,ia hanya butuh seseorang yang bisa menenangkan nya untuk saat ini.
("Ada apa dengan mu,kenapa kamu sampai seperti ini?") batin Dika.
Yah, seseorang itu adalah Dika,dia sedang dalam perjalanan ke sekolah, sebenarnya Dika di antar oleh Rehan,yang sedang memperhatikan mereka di dalam mobil.
("Ada apa sama kamu sis, sehingga membuatmu seperti ini,bukankah kemarin saat kita mengobrol kamu bilang bahwa kamu akan baik baik saja, dengan keputusan mu untuk mempertahankan rumah tangga mu.") batin Rehan,ia melihat Siska yang sedang memeluk Dika.
Sementara di sana,Dika mengusap punggung Siska,ia membalas pelukan nya dengan erat,ia tahu Siska Sedang butuh seseorang yang bisa membuat nya tenang.
Dika sengaja tak bertanya pada Siska dengan apa yang sedang terjadi,ia membiarkan Siska menangis sepuasnya sambil memeluk nya supaya ia bisa sedikit lebih tenang.
Setelah sedikit lebih lega,Siska pun melepaskan pelukannya,ia menghapus air matanya. "Maafkan aku." ucap Siska melihat ke arah lain.
"Duduk dulu..." ucap Dika lembut,Siska pun menurut.
"Rehan?" Siska melihat Rehan sedang bersandar di mobil sambil melihat ke arah nya.
"Iyah,tadi dia mau mengantarkan ku ke sekolah, sekalian dia berangkat ke rumah sakit." ucap Dika.
"Oh kalau begitu silahkan lanjutkan perjalanan nya,maaf sudah menggangu." ucap Siska merasa tak enak.
"Tidak apa-apa,aku bisa minta libur kok, lagian aku cuma ngajar satu kelas saja,dan itu pun sudah aku beri tugas tadi di grup chat." ucap Dika.
Dika sebenarnya sudah tau tentang perselingkuhan Eza dari Rehan,Dika pun tak percaya saat Rehan mengatakan nya, apalagi yang membuat terkejut adalah Syila yang menjadi selingkuhan nya.
Namun dari cerita yang ia tahu dari Rehan,Siska akan mempertahankan rumah tangga nya bersama Eza, sehingga ia tak tau apa yang membuat Siska bisa menangis seperti ini sendirian.
__ADS_1
"Tapi kalau pak Dika mau berangkat silahkan,saya tidak apa-apa kok di tinggal." ucap Siska.
"Saya takut Bu Siska nanti bunuh diri lagi ke danau,kalau saya pergi,hehehe." Dika sedikit menghibur Siska.
"Nggak lah pak,saya masih sadar,hehehe." Siska tertawa kecil sambil menghapus air matanya.
"Nah gitu dong, senyum." ucap Dika.
"Eemm itu Rehan,mau sampai kapan dia berdiri seperti itu?" Siska melihat Rehan sedang melihat ke arah nya.
"Ya sudah,ayo kita ke sana,eemm Bu Siska bawa mobil?" tanya Dika.
"Iyah bawa." ucap Siska.
"Ya sudah kalau begitu saya yang bawa mobilnya, sekalian saya antar kemana Bu Siska mau pergi." ucap Dika.
"Pak Dika mau temani saya?" Siska tak percaya.
"Yah,tidak keberatan kan?" tanya Dika.
("Tapi,kalau pak Dika tanya aku ke pengadilan agama untuk apa, bagaimana yah? tapi nggak papa lah,cepat atau lambat juga semua orang akan tau,kalau aku akan bercerai.") batin Siska.
"Han,kamu berangkat aja,aku mau ikut sama Bu Siska." ucap Dika saat menghampiri Rehan.
"Oh ya udah,eemm loe jaga baik baik Siska yah bang." Rehan menepuk pundak Dika.
"Iyah beres." ucap Dika.
"Sis,gue berangkat duluan." ucap Rehan,ia tak mau terlalu banyak bertanya dulu, karena mengerti perasaan Siska saat ini.
"Iyah,hati hati." ucap Siska,Rehan pun membalas dengan senyuman.
Setelah berpamitan Rehan masuk ke dalam mobil, kemudian Rehan pergi melajukan mobilnya, sementara Siska dan Dika melihat kepergian mobil Rehan.
"Mana kuncinya,biar aku yang bawa!" ucap Dika,Siska pun memberikan kunci mobilnya.
__ADS_1
Saat di dalam mobil,Dika bingung dengan tujuan Siska, karena ia hanya terdiam sejak tadi. "Bu Siska,kita mau kemana sekarang?" tanya Dika.
"Hah Iyah pak, gimana?" Siska terkejut.
"Kita mau kemana?" tanya Dika, mengulangi perkataan nya.
"Antar saya ke pengadilan agama pak." ucap Siska sudah yakin dengan keputusan nya.
Deg
Dika terkejut dengan apa yang dikatakan Siska, walaupun ia tahu betul tujuan Siska ke sana,tapi sepertinya Dika sedikit bingung, karena kata Rehan saat itu,Siska akan mempertahankan rumah tangga nya,ia tak ada niatan untuk bercerai.
Tapi Dika tak mau banyak bertanya dulu, karena ia tak ada hak untuk bertanya perihal masalah rumah tangga nya, untuk saat ini Dika hanya ingin menjadi seorang teman, yang akan menemani nya kemana pun tempat tujuan nya.
("Apapun keputusan mu, semoga itu yang terbaik untuk mu,entah aku harus sedih atau bahagia mendengar nya,tapi untuk saat ini aku tak ingin membuat mu sendirian.") batin Dika.
Dika tak menjawab perkataan Siska ia hanya pokus menyetir,tak bertanya apa alasannya Siska akan ke tempat tersebut, karena ia tau itu privasinya.
Beberapa saat kemudian,ia sampai di kantor pengadilan agama,Dika pun menghentikan mobilnya.
"Saya turun dulu yah,pak Dika tunggu di sini saja." ucap Siska.
"I-iyah." ucap Dika gugup,entah kenapa ada sebuah rasa sedih di hatinya,mungkin ia pun merasakan apa yang dirasakan Siska.
Dika melihat Siska yang memasuki kantor tersebut, terlihat Siska yang seperti berhenti sejenak melihat ke atas, kemudian ia melanjutkan kembali langkah nya.
"Semoga kamu bisa bahagia dengan keputusan mu,aku hanya bisa mendoakan kan yang terbaik." gumam Dika.
Karena cukup lama menunggu,akhirnya Dika keluar dari mobil,ia menunggu Siska di bangku yang ada di sana.
Tak lama kemudian,Siska pun keluar seperti sedang menahan air matanya.
"Ayo,aku sudah selesai!" ucap Siska yang langsung masuk ke dalam mobil.
Saat di dalam mobil,Siska menutup wajahnya,Dika mengerti seperti nya ia ingin menutupi air matanya di depan Dika, sehingga Dika pun tak mau bertanya ataupun mengajak Siska mengobrol di dalam mobil.
__ADS_1