
Awalnya Eza berniat ke rumah Syila terlebih dahulu, untuk melihat keadaan nya,namun sepertinya Siska juga sedang membutuhkan nya,Eza pun jadi bingung dengan semua yang telah terjadi padanya.
Di satu sisi ia sangat mencintai istrinya,namun di sisi lain ia juga harus bertanggung jawab atas kesalahannya,ia pun belum mengetahui,kapan ia akan berbicara pada Siska tentang kejadian antara dia dengan Syila.
Eza tak mau membuat Siska sedih dan kecewa akibat kesalahannya,namun ia juga tak mau Syila sampai menderita akibat perbuatannya, apalagi Eza telah merenggut hal yang paling berharga buat seorang wanita.
Eza sampai di rumah, dengan perasaan yang kacau balau, pikiran nya kemana mana saat ini,ia tak bisa berpikir jernih, sehingga membuat nya lebih sering melamun.
Saat ini Eza Sedang melihat keadaan Siska di kamar nya,Siska Sedang berbaring karena ia masih kurang enak badan.
"Mas?" panggil Siska.
"I-iyah kenapa?" Eza membuyarkan lamunannya.
"Mas kenapa sih dari sejak pulang tadi,melamun terus?" tanya Siska merasa heran.
"Nggak papa, mungkin mas cuma kecapean aja." ucap Eza.
"Ya udah kalau gitu mas istirahat aja yah, mumpung hari libur." ucap Siska.
"Tapi bukannya kamu Sedang tidak enak badan,apa sekarang kita periksa ke rumah sakit aja?" tanya Eza.
"Nggak mas,ini cuma demam biasa kok, mungkin karena efek Dateng bulan aja, biasanya kan aku gini kalau lagi datang bulan,bentar lagi juga sembuh,sini tidur di samping aku mas." ucap Siska.
"I-iyah kalau begitu." jawab Eza gugup.
Eza berbaring di tempat tidur bersama Siska,namun kenapa ia merasa tak nyaman saat ini,ada rasa bersalah yang belum bisa ia ceritakan pada istrinya itu.
Masih ada yang mengganjal di hati Eza, sehingga membuat nya tak nyaman saat berhadapan dengan istri nya.
"Mas kenapa sih kaku gini, biasanya juga kalau tiduran suka meluk,apa karena aku lagi datang bulan,tapi kan kalau meluk doang masih boleh." ucap Siska.
"Iyah sini,mas peluk yah." ucap Eza,ia berpura pura terlihat biasa saja,ia tak mau Siska curiga.
("Aku merasakan ada yang aneh dari mas Eza,tapi mungkin ini cuma perasaan aku aja, mungkin ini efek datang bulan,jadi aku lebih sensitif.") batin Siska.
__ADS_1
("Maafin aku sayang,aku belum bisa jujur sama kamu,aku menunggu waktu yang tepat untuk memberi tahu kamu,aku tak ingin ada yang tersakiti di antara kita, walaupun itu tak mungkin.") batin Eza.
***
Sementara di tempat lain,Kini Dara sedang menemani Syila di rumah nya,Syila sudah cukup baikan pagi ini,namun ia masih belum menceritakan kejadian antara Eza dan dirinya kepada Dara sahabat nya.
"Jadi semalam itu Dika nganterin loe ke sini?" tanya Dara.
"Iyah, awalnya gue pikir Dika masih marah sama gue,tapi ternyata dia mau nganterin gue pulang." ucap Syila pelan.
"Dika emang baik banget Syil,dia rela mengesampingkan ego nya,demi loe." ucap Dara.
"Iyah, sebenarnya gue ngerasa bersalah banget sama dia, semalam dia bela belain balik ke sini lagi buat beliin obat." Syila menghembuskan nafasnya.
"Syil...,Sebenarnya loe kenapa sih semalam,sampe loe bisa kayak gini?" tanya Dara pelan pelan.
"Se-sebenarnya gue..." Dara menggigit bibir bawahnya.
Saat mereka sedang mengobrol ringan, tiba-tiba seseorang datang mengetuk pintu kamar Syila.
Tok...tok...tok...
"Dika..." ucap Syila pelan.
"Maaf,tadi gue ketuk pintu rumah,tapi gak ada yang bukain,jadi gue langsung ke sini aja." ucap Dika ragu.
"Gak papa kok,sini masuk!" ucap Dara.
"Ini gue bawain sarapan buat kalian." Dika memberikan box makanan pada Dara.
"Makasih yah loe udah repot repot bawain sarapan buat kita." ucap Dara.
"Santai aja." sahut dika sambil tersenyum.
"Dika...?" panggil Syila lirih.
__ADS_1
"Eemm kalau gitu,gue ambil piring dulu yah ke dapur." Dara sengaja membiarkan mereka berdua, ia mengerti mungkin ada hal yang ingin mereka katakan berdua,ia langsung pergi meninggalkan Syila dan Dika berdua.
"Iyah." Dika menghampiri Syila,ia duduk di tepi ranjang tempat Syila berbaring.
"Makasih yah, semalam kamu udah beliin obat dan nganterin ke sini" ucap Syila.
"Iyah,sama sama,gimana sekarang,udah mendingan?" tanya Dika perhatian.
"Udah mendingan kok." ucap Syila.
"Syukurlah," Dika tersenyum.
"Dika?" panggil Syila lagi.
"Hmmm," jawab Dika.
"Aku kira kamu masih marah sama aku." ucap Syila.
"Nggak,dari dulu aku gak pernah marah sama kamu,aku cuma mau nenangin diri sendiri dulu,dan mungkin aku mencoba berusaha keras untuk bisa lupain perasaan ini sama kamu,tapi ternyata,aku gak bisa Syil, sampai sekarang pun perasaan itu masih sama." ucap Dika, matanya mulai berkaca-kaca.
"Maafin aku yah dik,aku memang gak bisa bales perasaan kamu, apalagi sekarang aku ngerasa gak pantes buat kamu." ucap Syila,mencoba menahan tangisnya.
"Syil,apa kita nggak bisa mencoba dulu,aku rasa sekarang kita sudah cukup dewasa,aku dengar dari Dara, sampai sekarang pun kamu masih belum mempunyai pasangan,apa aku bisa mengisi kekosongan di hati mu Syil." ucap Dika.
"Maaf dik,aku gak bisa,kamu bisa mendapatkan wanita yang pantas untuk kamu,tapi itu bukan aku,aku tak pantas untuk di cintai, apalagi oleh laki-laki baik seperti kamu." ucap Syila, sekarang ia tak bisa membendung air matanya.
Tetesan air mata,kini membasah pipinya,ia sudah tak bisa menahan tangisnya, hatinya telah hancur bersamaan dengan kejadian cinta semalam dengan Eza yang membuat nya lupa diri.
Yang membuat hati nya lebih hancur adalah ketika ia mengetahui kalau ternyata Eza sudah mempunyai istri,yang bahkan ia tak akan mengetahui nya bila Eza tidak berbicara.
"Tapi kenapa Syil, kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Dika.
"Maaf aku gak bisa memberi tahu mu kenapa,tapi lebih baik kamu buang jauh jauh perasaan itu,jika kamu tak mau menyesal nantinya." ucap Syila.
"Baiklah, sekarang aku mengerti,mungkin kamu memang tak mencintaiku, seberapa kali pun aku meminta untuk menjadi seseorang yang istimewa di hati mu itu tak akan pernah bisa, selama di hati mu belum ada nama ku." ucap Dika.
__ADS_1
"Maafkan aku, hiks hiks hiks." Syila menangis terisak.
"Tak apa,ini bukan salah mu, mungkin aku yang terlalu memaksakan mu untuk bisa menerimaku,emmm aku lupa hari ini aku ada janji sama seseorang,aku pamit pulang yah,jangan lupa sarapan,aku tak ingin melihat mu sakit seperti semalam." ucap Dika yang langsung keluar dari kamar Syila.