
"Abang mah tau aja, kalau adik nya Sedang jatuh cinta." Rehan tersenyum.
"Bukan jatuh cinta, sifat play boy nya kamu aja yang gak bisa di kondisi kan, lihat yang bening dikit aja jiwa nya langsung meronta ronta." ucap Dika meledek adik nya.
"Yah mending lah,dari pada Abang yang nggak punya pacar juga,ingat bang nanti keburu tua,apa nggak malu sama truk,truk aja gandengan tuh lihat!" Rehan menunjuk ke arah truk di jalan.
Dika pun tak bisa membalas perkataan Rehan,ia malah menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena salah tingkah.
"Hahaha,eh bang,nanti malem mau ikut tahlilan nggak?" tanya Rehan.
"Bilang aja mau di antar lagi ke rumah nya,buat ketemu siapa tadi,emmm Rani yah kalau nggak salah,make tanya mau tahlilan atau nggak segala." ucap Dika meledek.
"Tuh kan bener bener si Abang memang sangat pengertian sama adek nya,hihihi." Rehan terkekeh.
"Pergi sendiri aja,Abang ada urusan nanti malam." ucap Dika.
"Yah,gak asik nih." Rehan mendengus kesal.
Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah nya, terlihat Amelia,sedang menonton televisi di ruang tengah.
"Hey anak anak mama udah pada dateng." Amelia tersenyum ketika melihat kedua anaknya masuk ke dalam rumah. "Gimana pemakaman nya tadi?" tanya Amelia.
"Kita telat mah,pas kita datang ke sana,udah di makamkan jenazahnya." ucap Dika.
"Oh,ya udah gak papa, yang penting kalian kan udah berkunjung ke sana." ucap Amelia.
Rehan dan Dika menghampiri mama nya ,mereka duduk di sofa sambil ngemil makanan yang ada di meja.
"Udah pada makan belum,tadi mama udah masak tuh." ucap Amelia.
"Belum lapar mah,nanti aja." ucap Rehan.
"Bukan belum lapar tuh mah,tapi udah kenyang ngeliat yang bening, hihihi." Dika terkekeh.
"Dasar ember bocor." Rehan melempar bantal kecil ke wajah Dika.
"Emang bener kan?" Dika melempar kan lagi bantal nya.
__ADS_1
"Udah udah,aduh kalian ini kalau ada di rumah pasti berantem terus." Amelia menengahi.
"Abang tuh yang duluan." ucap Rehan.
"Lah, orang aku nggak salah,wleee." Dika berlari menuju kamar nya.
"Udah ah, pusing mama lihat nya." Amelia memegang kepalanya. "Emang wanita mana lagi sih yang kamu godain,kamu tuh terlalu Gonta-ganti cewek,mama jadi pusing lihat nya." ucap Amelia mengintrogasi anaknya.
"Yang ini beda mah,Rehan aja belum sempat godain,hehehe." Rehan tertawa kecil.
"Ah tiap baru kenal Ama cewek aja selalu gitu bilang nya,yang ini mah beda bla bla bla,eh seminggu kemudian udah ganti lagi" Amelia sudah bosan dengan ucapan anaknya itu.
"Yah santai aja kali mah, mumpung masih muda,dan juga kalau cewek nya mau Kenapa nggak? lagian kalau nyari yang serius mah nanti aja,nunggu Abang udah nikah,bener gak?" Rehan tersenyum sambil menaikkan satu alisnya.
"Terserah kamu ajalah mama pusing." Amelia berdiri lalu berjalan menuju kamarnya.
"Yah,kok aku di tinggalin sih,hmmm." Rehan menghembuskan nafasnya.
***
Banyak warga yang datang untuk mendoakan, begitu pun dengan para kerabat dekatnya yang ikut serta hadir dalam acara tahlilan tersebut.
Sekitar satu jam setengah, acara tahlilan pun selesai,kini Siska Sedang duduk bersama Eza di ruang tengah, sementara,Rani yang masih ada di sana sedang membantu membereskan minuman dan makanan bekas acara tahlilan tadi.
"Sayang,kamu makan yah,dari tadi pagi belum makan!" Eza memegang tangan istrinya.
"Aku nggak lapar mas." tatapan Siska terlihat kosong.
Rani menghampiri Eza,dan memberikan kode supaya ia pergi dari sana, setelah Eza mundur ke belakang,Rani pun duduk di sebelah Siska.
"Sis,kamu sayang kan sama ibu,kalau ibu tau kamu seperti ini,ibu juga pasti akan sedih,makan yah sedikit aja." ucap Rani.
"Hiks hiks hiks." tiba-tiba Siska menangis,ia memeluk Rani yang berada di sampingnya.
"Sabar yah,gue tau ini berat,tapi loe harus bisa tegar,ibu pasti ingin kalau loe bisa mengikhlaskan kepergian nya,dia sudah tenang di alam sana." Rani mengelus punggung Siska.
Setelah melihat Siska cukup tenang,Rani pun menyuruh Eza untuk mengambil kan makanan dan langsung menyuapi istrinya,untung nya Siska mau makan walaupun hanya sedikit.
__ADS_1
Rani bisa sedikit lega melihat Siska mau makan,ia pun pamit untuk pulang, karena ini sudah malam,Rani pun bisa lega meninggalkan Siska karena ada Eza yang menjaga nya.
"Gue kayaknya harus pulang,ini udah malem juga." kemudian Rani melihat ke arah Eza. " Titip Siska yah,hanya mas Eza yang Siska punya saat ini." Rani menepuk bahu Eza.
"Iyah ran,gak usah khawatir." ucap Eza.
"Makasih yah ran udah mau bantu di sini ?" Siska memeluk Rani.
"Iyah santai aja,kayak sama siapa aja." Rani tersenyum.
Rani pun pulang mengendarai mobilnya,Eza dan Siska mengantar ke depan sampai mobil yang di bawa Rani tak terlihat lagi.
"Kita istirahat yuk,mas antar ke kamar." Eza merangkul Siska.
"Mas?" panggil Siska saat ia duduk di tepi tempat tidur.
"Iyah." jawab Eza.
"Waktu malam kemarin,pas kamu udah pulang,ibu nanyain kamu." ucap Siska.
"Lalu?" ucap Eza.
"Ibu bilang,dia mau nitipin aku sama mas,tapi mas nya nggak ada." Siska menyenderkan kepalanya di bahu Eza.
"Jadi ibu sempat berbicara seperti itu?" tanya Eza.
"Iyah mas, mungkin karena ibu tau,aku hanya punya mas sekarang,tak ada lagi sandaran selain kamu." Siska meneteskan air matanya.
"Iyah sayang,mas janji gak akan tinggalkan kamu." Eza mengusap kepala Siska.
("Maafkan aku sayang,aku sudah menodai cinta kita,tapi aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan mu,aku sayang sama kamu.") batin Eza.
("Aku hanya berharap mas,kau akan selalu menjaga ku, walaupun akhir akhir ini aku sempat menaruh curiga terhadap mu,tapi aku harap apapun cobaan yang akan aku hadapi semoga aku bisa kuat menghadapi nya, seperti kata ibu saat itu.") batin Siska.
Siska merasa nyaman di perlakukan seperti itu oleh suaminya,ia sangat berharap bisa bahagia walaupun ia harus hidup tanpa kedua orang tua.
Tak ada yang mengetahui takdir hidup seseorang,namun tetaplah menjadi seseorang yang bisa berbuat baik, karena jika suatu saat kita tiada, orang akan mendoakan kita atas apa yang sudah kita lakukan semasa hidup,dan karena,yang kita butuhkan saat berakhir di dunia ini hanyalah do'a.
__ADS_1