
Karena ini jam istirahat,Para staf kantor pun datang ke rumah mereka untuk memberikan doa bela sungkawa atas meninggalnya mertua Eza,tak terkecuali Syila yang juga datang menghadiri rumah kekasihnya itu.
Syila memandangi Eza yang sedang merangkul dan memeluk istrinya itu, kemudian ia menghampiri nya.
"Pak,saya turut berdukacita yah,atas meninggalnya mertua bapak." ucap Syila tiba-tiba di depan Eza dan Siska.
"I-iyah terimakasih,sudah mau menyempatkan waktu nya ke sini." ucap Eza gugup.
"Iyah sama sama pak" Syila tersenyum.
("Pantas saja,mas Eza tidak mau melepaskan istri nya, ternyata dia sangat cantik, apalagi di lihat dari dekat begini.") batin Syila.
Siska memperhatikan Syila, dari atas sampai bawah, wanita ini sangat cantik dan menarik menurut nya.
("Siapa wanita ini, cantik sekali.") batin Siska.
"Oh Iyah saya sampai lupa,Kenalkan,ini istri saya." Eza memperkenalkan Siska.
"Siska." mengulurkan tangannya.
"Syila,sekertaris pak Eza." Syila membalas uluran tangan Siska.
("Ternyata dia sekertaris nya mas Eza,hmmm apa kemarin pas mas Eza ke Bandung, mereka berduaan pergi kesana.") batin Eza.
"Terimakasih,sudah menyempatkan waktu nya." Siska tersenyum.
"Oh Iyah pak,kalau bapak mau ke mesjid silahkan,biar saya yang temenin istri bapak di sini." ucap Syila.
"Ba-baik kalau begitu,eemm sayang,mas pergi dulu yah,Syila yang akan temenin kamu di sini." ucap Eza sedikit gugup.
"Iyah mas." Siska tersenyum.
Setelah melihat Eza pergi,Syila pun duduk di sebelah Siska, mereka melihat kepergian pria yang sama sama mereka cintai itu.
"Oh Iyah,kamu sudah lama menjadi sekertaris mas Eza?" tanya Siska.
"Eemm sekitar tiga bulan, semenjak pak Eza di angkat menjadi manajer." jawab Siska.
"Apa sebelumnya kalian satu kantor?" tanya Siska lagi.
__ADS_1
"Tidak,Saya bekerja di kantor cabang,tapi saya di rekomendasikan untuk ke kantor pusat waktu itu." ucap Syila.
("Sepertinya Syila wanita yang sangat cerdas, terlihat dari caranya berbicara.") batin Siska.
"Ohh,Iyah saya paham." Siska tersenyum.
"Eemm Bu Siska sendiri, bekerja atau tidak?" tanya Syila ramah.
"Saya mengajar di sekolah,tapi sekarang setelah ibu saya meninggal,saya belum tau mau melanjutkan atau berhenti." ucap Siska ragu.
"Ohh begitu,lalu Bu Siska sudah berapa lama menikah dengan pak Eza?" Syila penasaran.
"Sekitar satu tahun lebih,tapi kita belum di percaya untuk memiliki anak." Siska menghembuskan nafasnya.
("Ohh jadi mereka belum punya anak, sepertinya aku tau harus bagaimana.") batin Syila.
Mereka pun melanjutkan obrolan nya,Siska dan Syila bisa terlihat akrab dengan satu kali pertemuan, karena memang keduanya memiliki sifat yang mudah untuk bergaul.
Tak lama kemudian, jenazah ibu Ani yang sudah disholatkan,akan segera di makamkan, semua kerabat,warga,dan para sahabat turut menghadiri pemakaman itu, mereka berbondong-bondong untuk melihat tempat peristirahatan terakhir ibu Ani.
Eza membantu menurunkan jenazah ke dalam makam,bahkan ia sendiri yang mengadzani mertuanya itu.
Siska hanya bisa meneteskan air matanya, melihat kepergian ibu nya,ada rasa tak percaya, karena semalam ia masih mengobrol dengan ibu nya.
"Nak..." ibu Ani memanggil siska lirih.
"Iyah Bu," Siska yang sedang duduk di samping ibu nya pun, memegang tangan ibu nya.
"Suami mu kemana?" tanya ibu pelan.
"Mas Eza pulang Bu,tadi Siska yang menyuruh nya untuk pulang,Siska kasihan melihat mas Eza yang sepertinya sangat kecapean." ucap Siska.
"Oh ya sudah." ibu Ani tersenyum.
"Ibu mau minum?" tanya Siska.
"Iyah nak,ibu haus sekali." ucap ibu Ani.
Siska pun memberikan air putih kepada ibu nya itu, Walaupun Siska sedikit heran kenapa ibu nya minta minum terus dari tadi.
__ADS_1
"Nak,kalau umur ibu sebentar lagi,kamu jaga diri mu baik baik yah." pesan ibu Ani.
"Ibu nggak boleh ngomong gitu,ibu pasti sembuh." mata Siska sudah berkaca kaca.
"Nak,dalam hidup ini pasti akan ada pertemuan juga perpisahan,itu sudah menjadi hal yang tidak bisa kita hindarkan." ucap ibu Ani.
"Siska tau Bu,tapi Siska belum siap kehilangan ibu,hiks hiks hiks." Siska tak bisa menahan air matanya.
"Nak, ketentuan takdir Allah akan datang,siap atau tidak,kita harus menerima nya dengan lapang dada,nak... kedepannya pasti akan lebih banyak cobaan yang menimpa hidup mu,ibu hanya berpesan,kuatkan dirimu saat ibu tak ada lagi di samping mu." Ibu Ani memegang erat tangan Siska.
"Nggak Bu,ibu gak boleh ngomong gitu,pokonya Siska bakalan berusaha agar ibu bisa sembuh,ibu harus yakin yah.hiks hiks hiks." Siska mengelus elus tangan ibu nya.
Ibu Ani tersenyum "Ibu tadinya mau berpesan pada suamimu, untuk menjaga mu saat ibu tak lagi bisa menjaga mu,tapi ternyata dia tidak ada di sini." ucap ibu Ani.
"Aku mau ibu selalu jagain Siska Bu,Siska gak tau harus bagaimana jika nggak ada ibu, hiks hiks hiks." Siska mencium tangan ibu nya.
"Jangan nangis sayang,ibu gak suka lihat anak ibu yang cantik ini menangis." ibu menghapus air mata yang membasahi pipi Siska.
Siska sangat takut kehilangan ibu nya,ia tak bisa membayangkan apa yang terjadi kedepannya jika ia harus kehilangan ibu nya setelah ia juga kehilangan ayahnya dulu.
Sejak ayahnya meninggal,hanya ibu nya lah yang menemani nya di saat sedih dan senang, sampai akhirnya ia menikah ia pun siska tak mau jauh dari ibu nya.
"Ya udah, sekarang kamu tidur yah,kamu pasti capek ngurusin ibu seharian." ucap ibu Ani.
"Siska tidur di sini yah Bu,di samping ibu." ucap Siska.
"Iyah." ibu mengelus elus rambut Siska, sampai akhirnya Siska tertidur di samping ibu nya.
("Maafkan ibu nak, sepertinya ibu sudah tidak kuat lagi,ibu hanya berdo'a,semoga kamu selalu bahagia menjalani kehidupan mu walaupun tanpa ibu di samping mu.") batin ibu Ani.
"Ashadu Alla illaha illallah waasyhaduanna Muhammadarrosulullah.." Ibu Ani pun memejamkan matanya.
*Flash back off*
Jenazah ibu Ani sudah selesai dikebumikan, orang orang pun meninggalkan tempat pemakaman satu persatu,kini hanya tersisa Siska Eza dan Syila di sana.
Saat Siska Sedang menangis di atas pusara ibu nya, tiba-tiba seseorang wanita berlari ke arahnya.
"Gue minta maaf baru kesini gue baru tau tadi," Rani memeluk Siska.
__ADS_1
"Rani... hiks hiks hiks." Siska menangis di pelukan Rani.
Sejak Siska menikah dengan Eza,Rani sudah jarang bertemu dengan nya,tidak seperti saat Siska berpacaran dengan Indra dulu,Rani selalu ikut kemana pun mereka pergi.