Aku istrimu bukan tawananmu

Aku istrimu bukan tawananmu
51.Truk aja gandengan


__ADS_3

Jenazah ibu Ani sudah selesai dikebumikan, orang orang pun meninggalkan tempat pemakaman satu persatu,kini hanya tersisa Siska Eza dan Syila di sana.


Saat Siska Sedang menangis di atas pusara ibu nya, tiba-tiba seseorang wanita berlari ke arahnya.


"Gue minta maaf baru kesini gue baru tau tadi," Rani memeluk Siska.


"Rani... hiks hiks hiks." Siska menangis di pelukan Rani.


Sejak Siska menikah dengan Eza,Rani sudah jarang bertemu dengan nya,tidak seperti saat Siska berpacaran dengan Indra dulu,Rani selalu ikut kemana pun mereka pergi.


"Yang sabar yah sis,gue yakin, ibu pasti ditempatkan di tempat yang terbaik di sana, hiks hiks hiks." Rani tidak bisa menahan tangisnya.


"Aamiin..." Siska memeluk Rani dengan erat.


Dari dulu,Rani sudah menganggap ibu Ani sebagai ibu nya sendiri, karena sejak sekolah SMA dulu,Rani sering main ke rumah Siska, begitu pun dengan ibu Ani,ia sudah menganggap Rani sebagai anak nya sendiri.


Sementara,Eza dan Syila memperhatikan keduanya,tentu saja, Eza mengenal Rani karena ia sering bertemu ketika dirinya masih dekat dengan Siska,namun setelah menikah,Rani sudah jarang bertemu dengan Siska, karena kesibukan masing-masing.


"Siapa wanita itu?" Syila berbisik ke telinga Eza.


"Dia sahabat nya Siska,sudah lama mereka tidak bertemu." ucap Eza pelan.


"Mending kita pulang saja mas,di sini panas sekali." ucap sila pelan sambil menutupi wajahnya dengan tangan.


"Iyah sebentar." Eza pun menghampiri Siska,ia berjongkok di samping Siska.


"Sayang,ayo kita pulang,ini sudah siang,kamu juga harus istirahat." Eza memegang pundak Siska.


"Sebentar mas, biarkan aku di sini dulu sebentar lagi, kalau mas mau pulang duluan silahkan,ajak juga Syila buat pulang kasian pasti dia kepanasan,biar aku di temani Rani di sini,nanti kita nyusul." ucap Siska.


"Baiklah kalau begitu,Ran? aku titip Siska yah,ayo Syil." Eza pergi bersama dengan Syila.

__ADS_1


Setelah Eza dan Siska pergi,ada dua orang pria yang juga datang ke pemakaman itu, mereka menghampiri keduanya.


"Bu Siska,saya Tutut berdukacita atas meninggalnya ibu Ani,saya baru tau tadi dari adik saya." Ucap Dika, melihat ke arah Rehan.


"Maaf yah,saya baru datang, soalnya saya masih ada pasien tadi." ucap Rehan.


"Nggak papa, makasih yah kalian udah mau datang ke pemakaman ibu saya." ucap Siska sambil melihat ke arah keduanya.


Kakak Adik itu tampak sangat sedih melihat Siska kehilangan ibu nya, Dika dan Rehan tampak sepantaran karena usia mereka hanya terpaut satu tahun,waktu itu Amelia,ibu dari dua anak ini kebobolan sesaat setelah melahirkan Dika,jadi mereka seperti anak kembar walaupun wajah nya sedikit berbeda, Dika lebih mirip ibu nya sedangkan Rehan lebih ke ayah nya.


Namun kedua orang tuanya sangat menyayangi keduanya sehingga mereka di bebaskan untuk mengambil jalan hidupnya sendiri,di buktikan dengan profesi keduanya,Dika lebih memilih menjadi seorang guru Sedangkan Rehan memilih untuk menjadi seorang dokter.


"Ya udah kalau gitu,kita ngobrol nya di rumah saja,di sini terlalu panas." ucap Siska.


"Baiklah,ayo silahkan." Dika mempersilakan Siska dan Rani terlebih dahulu, sedangkan ia dan Rehan mengekor dari belakang.


Rani memapah Siska untuk berjalan,Rani tahu, walaupun pisik Siska cukup kuat namun hatinya pasti sangat rapuh saat ini.


Sesampainya di rumah,Siska melihat Eza sendirian Sedang mengobrol dengan beberapa warga yang masih ada di sana,Siska pun langsung menghampiri suaminya itu.


"Dia sudah kembali ke kantor,jam istirahat nya sebentar lagi habis,mas juga kan gak bisa masuk kerja dulu,jadi dia harus handle dulu semuanya." ucap Eza.


("Syila,apa mungkin dia... emmm Iyah aku sampai lupa kalau waktu itu pak Eza pernah mengatakan kalau dia bekerja di kantor yang sama dengan Syila, menurut informasi dari Dara, walaupun aku belum mengetahui kebenaran nya.") batin Dika.


Eza memperhatikan dua pria yang ada di belakang Siska, tampak nya Eza tak menyukai dua pria itu karena menurutnya mereka seperti suka dengan istri nya itu.


("Kenapa harus ada mereka sih, barengan lagi.") batin Eza.


"Mas,ini ada pak dika sama dokter Rehan, mereka baru saja ke makam ibu barusan." ucap Siska.


"Oh Iyah,makasih yah, kalian sudah menyempatkan waktu nya untuk datang ke sini." ucap Eza pura pura tersenyum.

__ADS_1


"Sama sama pak." ucap keduanya bersamaan.


"Eh ya ampun saya sampai lupa, kenalkan ini Rani teman saya dari SMA!" Siska memperkenalkan kan Rani pada dua pria tersebut.


"Iyah salam kenal,saya Rani." Rani menyalami keduanya,Dika dan Rehan pun memperkenalkan nama nya masing-masing.


"Ayo kita masuk,kita ngobrol ngobrol di dalam!" ucap Siska.


"Sepertinya kita nggak mampir deh,kita masih ada urusan lain soalnya." ucap Dika.


"Oh begitu,ya sudah tidak apa-apa,tapi kalau lain kali mau mampir silahkan,rumah ini terbuka untuk siapa saja." ucap Siska ramah.


"Dengan senang hati,kalau begitu,kami permisi yah." ucap Dika.


"Iyah, terimakasih sekali lagi." ucap Siska sambil tersenyum.


Diam diam, Rehan dan Rani saling curi pandang,namun sepertinya ini bukan momen yang tepat untuk saling mengenal lebih dekat,Rehan pun ada banyak cara untuk bisa mendekati Rani lain waktu.


Dika dan Rehan pun sudah berada di dalam mobilnya,Dika yang membawa mobil tersebut, sedangkan Rehan duduk di sebelahnya.


"Bang,gue gak seneng liat suaminya Siska,muka nya gitu banget lihat kita." Rehan mendengus kesal.


"Hahaha,dia emang gitu Han, waktu pertama ketemu sama Abang aja gitu waktu itu, mungkin dia takut istri nya di rebut Ama kita kali." ucap Dika.


"Iyah juga sih bang, secara kita berdua kan ganteng ganteng,keren lagi,pasti takut klepek klepek nanti." ucap Rehan dengan percaya diri.


"Hahaha,bisa aja kalau ngomong, terus tadi Kenapa tuh matanya kayak bintitan pas lihat temen nya Siska, jangan jangan naksir lagi?" ucap Dika.


"Abang mah tau aja, kalau adik nya Sedang jatuh cinta." Rehan tersenyum.


"Bukan jatuh cinta, sifat play boy nya kamu aja yang gak bisa di kondisi kan, lihat yang bening dikit aja jiwa nya langsung meronta ronta." ucap Dika meledek adik nya.

__ADS_1


"Yah mending lah,dari pada Abang yang nggak punya pacar juga,ingat bang nanti keburu tua,apa nggak malu sama truk,truk aja gandengan tuh lihat!" Rehan menunjuk ke arah truk di jalan.


Dika pun tak bisa membalas perkataan Rehan,ia malah menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena salah tingkah.


__ADS_2