Aku istrimu bukan tawananmu

Aku istrimu bukan tawananmu
49.Meninggal dunia


__ADS_3

"Maksudnya,aku akan jadi istri kedua?" Syila meyakinkan perkataan Eza.


"Apa kamu keberatan?" tanya Eza.


"Kenapa harus jadi yang kedua mas, kenapa kamu nggak bisa ceraikan istri mu itu?" tanya Syila.


"Untuk saat ini aku belum bisa menjawab nya,namun yang pasti aku juga tidak bisa kehilangan kamu Syila." ucap Eza menatap wajah Syila.


("Entahlah mas,entah aku setuju atau tidak dengan yang kamu katakan,tapi jujur saja,aku tidak bisa kalau harus meninggalkan mu setelah apa yang kita lakukan ini sudah diluar batas,aku takut masa depan ku akan hancur jika aku memilih pria lain selain diri mu.") batin Syila.


Setelah mereka berbincang bincang,Eza pun pamit untuk pulang,ia akan berganti pakaian nya dulu ke rumah, setelah itu kembali ke rumah sakit untuk membawakan sarapan buat Siska.


"Aku pulang dulu yah sayang, sampai bertemu di kantor." Eza mengecup kening Syila.


Syila hanya bisa pasrah melihat kepergian Eza, karena ia pun tak ada hak untuk melarang nya pergi untuk menemui istrinya, karena ia tahu status nya.


Eza mengendarai mobil nya menunju rumah,saat ia sampai di rumah,ia membersihkan diri nya dan bersiap siap untuk pergi ke ruang sakit,namun sebelumnya,ia mampir dulu di sebuah tempat jual makanan, yang akan di bawa nya ke rumah sakit.


.


.


.


.


.


Di rumah sakit,Eza melihat Siska Sedang tidur dengan posisi duduk di samping ibu nya,Eza langsung menghampiri Siska untuk membangun kan nya.


"Sayang,bangun?" Eza menepuk pundak Siska.


"Hmmm,mas udah kesini?" Siska mengucek Matanya.


"Iyah,ini mas bawa sarapan,ayo kita makan dulu." Eza memperlihatkan makanan yang di bawa nya.


"Iyah bentar,aku ke kamar mandi dulu." Siska berdiri,saat ia akan ke kamar mandi,Siska memperhatikan ibu nya terlebih dahulu.


Wajah ibunya tampak sangat pucat, karena Siska khawatir,ia pun memegang suhu tubuh ibu nya,namun bertapa terkejut nya Siska ketika memeriksa suhu tubuh ibu,badan nya sangat dingin.


"Mas,mas kesini deh!" Siska panik.


"Kenapa?" Eza pun yang sedang menyiapkan makanan langsung menghampiri Siska lagi.

__ADS_1


"Badan ibu dingin banget." ucap Siska panik.


"Sebentar." Eza pun mengecek denyut nadi mertuanya,namun ia pun terkejut karena nadi nya tidak berdenyut.


"Kenapa mas?" Siska panik melihat ekspresi suaminya.


"Kamu tunggu di sini dulu yah,mas mau panggil dokter dulu." Eza keluar,ia sedikit berlari memanggil dokter untuk memeriksa keadaan mertuanya.


"Tolong periksa mertua saya Dok." Eza membawa dokter ke ruang inap mertuanya.


"Baik, tolong ibu dan bapak tunggu di luar,saya akan memeriksa nya." Dokter Rehan mulai memeriksa keadaan ibu Ani.


"Ayo sayang kita tunggu di luar." Eza mengajak Siska untuk menunggu di luar.


"Aku takut ibu kenapa napa mas?" Siska panik,ia tak bisa diam, berjalan ke kiri dan kanan menunggu Dokter keluar.


"Kita tunggu dokter sayang,kamu tenang yah!" Eza memeluk Siska.


Sekitar lima belas menit lamanya,tapi dokter belum juga keluar,Siska dan Eza semakin panik.


"Mas, kenapa Dokter Rehan belum keluar juga." Siska semakin panik.


Tak lama kemudian,Rehan keluar dari ruangan dengan ekspresi wajah yang terlihat sendu.


"Dengan sangat menyesal saya harus mengatakan ini." Rehan menunduk kan wajahnya.


"Kenapa dengan ibu saya,jawab saya Dok." Siska menggoyang goyangkan tangan Rehan.


"Ibu Bu Siska tidak bisa di selamat kan,dia sudah meninggal." Rehan menepuk pundak Siska.


"Dokter Rehan bohong kan sama saya,dokter Rehan pasti salah,ibu saya pasti baik baik saja kan." Siska tak bisa mengendalikan dirinya.


"Maaf Bu,saya sudah berusaha sebaik mungkin,tapi ibu Ani sudah meninggal saat saya baru memeriksa nya." ucap Rehan penuh sesal.


"Nggak mungkin dok,semalam saya masih ngobrol sama ibu saya,Bu ibu...?" Siska langsung berlari ke dalam.


"Sayang...?" Eza langsung mengejar Siska masuk ke dalam.


Saat Siska masuk ia tak bisa menahan tangisnya, ketika melihat ibu nya sudah terkujur kaku di atas ranjang pasien,ia menangis terisak melihat ibu nya.


"Bu,bangun Bu,ibu gak boleh ninggalin Siska Bu, hiks hiks hiks." Siska menggoyang goyangkan tubuh ibu nya.


"Jangan seperti ini,kasian ibu,kamu harus kuat sayang." Eza melepaskan tangan Siska yang sedang menggoyang goyangkan tangan ibunya, kemudian ia memeluknya.

__ADS_1


"Ini nggak bener kan mas,ini cuma mimpi kan,hiks hiks hiks." Siska menenggelamkan wajahnya di dada bidang Eza.


"Tenang sayang,kamu harus bisa menerima takdir ini." Eza mengelus rambut Siska.


"Ibu,kenapa ibu ninggalin Siska, hiks hiks hiks." Siska pun terhuyung ke lantai,untung saja Eza dengan sigap menangkap nya, hingga Siska pun tak sadar kan diri.


Eza panik melihat Siska pingsan,ia pun menggendong Siska ke sofa panjang yang ada di ruangan tersebut.


"Tolong urus jenazah nya dulu sus,nanti saya akan mengurus administrasi nya." ucap Eza pada suster.


"Baik pak." ucap suster tersebut.


.


.


.


.


.


"Siska,bangun sayang..." Eza menempelkan minyak kayu putih ke hidung Siska, agar bisa sadar.


Siska membuka matanya perlahan,ia bangun dari posisi tidurnya.


"Ibu mana mas?" Siska melihat sekeliling.


"Ibu sedang di bawa ke ruang jenazah, sebaiknya kita menunggu di depan,tadi,mas sudah mengurus administrasi nya,dan juga mas sudah menelpon ke pak RT supaya warga bisa menyiapkan pemakaman untuk ibu." ucap Eza.


"Makasih yah mas." Siska memeluk Eza.


Saat sudah mulai tenang,dan jenazah ibu sudah bisa di pulang kan,Eza membawa Siska ke dalam mobilnya, jenazah ibu nya akan di bawa oleh ambulance yang akan mengikuti mobil Eza dari belakang.


Saat sampai di rumah, ternyata warga sudah berkumpul di depan rumah Siska,banyak orang yang hadir untuk mendoakan ibu Ani, karena ibu Ani terkenal dengan baik, sehingga banyak orang yang ingin melihatnya di saat saat terakhirnya.


Eza dan Siska pun turun dari mobil, menyaksikan jenazah ibu Ani yang di bawa ke dalam rumah yang di bantu oleh beberapa warga, sedangkan Eza tak membantu mengangkat nya, karena terus berada di samping Siska untuk menenangkan nya.


Karena ini jam istirahat,Para staf kantor pun datang ke rumah mereka untuk memberikan doa bela sungkawa atas meninggalnya mertua Eza,tak terkecuali Syila yang juga datang menghadiri rumah kekasihnya itu.


Syila memandangi Eza yang sedang merangkul dan memeluk istrinya itu, kemudian ia menghampiri nya.


"Pak,saya turut berdukacita yah,atas meninggalnya mertua bapak." ucap Syila tiba-tiba di depan Eza dan Siska.

__ADS_1


__ADS_2