
"Tapi loe bahagia kan sama pernikahan loe ini?" Rani membalikkan tubuhnya menghadap Siska.
"Eemm gu-gue bahagia kok Ran." Siska pura pura tersenyum.
("Gue bahagia Sebelum ada sesuatu yang berubah dari dia Ran,tapi semenjak dia pulang dari Bandung,sikap nya berbeda walaupun dia masih perhatian,tapi kenapa seperti ada yang dia sembunyikan dari gue.") batin Siska.
"Kenapa loe kayak sedih gitu sis?" tanya Rani curiga.
"Nggak, nggak papa kok, mungkin cuma perasaan loe aja." ucap Siska pura pura tersenyum.
("Gue yakin, sebenarnya ada yang di sembunyikan sama Siska,gue sangat mengenalnya,jadi gue tau kalau ada sesuatu yang memang belum bisa dia ungkapkan,eemm apa gue kasih tau aja yah?") batin Rani.
"Sis..." Panggil Rani pelan. "Apa loe cinta sama suami loe?" tanya Rani ragu.
"Loe Kenapa sih ran,kayak aneh gini,kalau gue gak cinta, Kenapa gue nikah sama dia." jawab Siska.
"Terus apakah ada sikap dia yang berubah sama loe?" tanya Rani.
"Eemm sebenarnya gue gak mau ceritain tentang rumah tangga gue Ran,tapi gue penasaran,kok kayaknya ada sesuatu yang loe tau tentang suami gue." Siska mulai curiga.
"Loe tau gak kenapa gue tadi nanyain suami loe?" tanya Rani.
"Karena loe mau nginep kan,loe pasti nggak enak kalau ada mas Eza di rumah." ucap Siska.
"Kalau gue ngomong bukan karena itu tapi karena ada sesuatu yang lain yang mau gue omongin,apa loe percaya sama apa yang mau gue kasih tau." ucap Rani.
"Maksud loe?" Siska masih belum paham dengan apa yang dikatakan sahabat nya itu.
"Sebelum gue chat loe tadi, sebenarnya gue..." Rani ragu untuk mengatakan nya.
("Ayo Ran,loe harus bilang sama Siska,dia sahabat loe,dia harus tau yang sebenarnya walaupun mungkin nanti dia nggak percaya sama yang loe omongin.") batin Rani.
__ADS_1
"Kenapa Ran?" Siska menggoyang goyangkan tangan Rani.
"Tadi sebelum ke sini gue sama Rehan ngikutin suami loe lagi makan sama sekertaris nya." ucap Rani ragu.
"Loe apaan sih Ran,yah mungkin memang mereka lagi makan malam bareng,kan memang kata mas Eza dia lembur,jadi wajar kalau sama sekertaris nya." Siska masih berpikir positif.
"Tapi mereka makan di hotel mewah bintang lima sis,abis itu kita ikuti kemana mereka pergi,dan loe tau kemana mereka? mereka ke hotel sis." Rani sudah tidak bisa menyimpan nya lagi.
Deg
Jantung Siska terasa berhenti, dunia nya seakan tak adil untuknya, hatinya hancur lebur bersamaan dengan kecurigaan yang selama ini ia simpan rapih,namun sepertinya takdir membukakan jalan nya,jalan yang selama ini mencoba ia tutup rapat-rapat,namun tetap saja,jika memang takdir nya,pasti akan ada yang menemukan walaupun ia mencoba untuk menepis kecurigaan nya.
"Maafin gue harus bilang ini sama loe,tak ada niatan sedikit pun untuk gue ngerusak rumah tangga loe atau pun ikut campur,gue hanya sayang sama loe Siska,gue gak mau loe di bohongin sama suami loe." ucap Rani merasa bersalah.
"Makasih Ran,loe udah mau jujur sama gue." ucap Siska pura pura tersenyum.
Siska membendung air matanya,dia tidak mau Rani merasa bersalah atas apa yang sudah ia katakan,Siska mencoba untuk kuat, walaupun sebenarnya ia tak sekuat itu.
Siska langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Rani,ia meneteskan air matanya tanpa bersuara,ia tak ingin Rani mengetahui kalau ia sedang menangis.
Rani merasa bersalah melihat Siska seperti itu, walaupun Rani tau Siska mencoba untuk terlihat kuat di depannya,tapi Rani tahu kalau sekarang siska sedang menangis.
"Sis,gue tau ini berat buat loe,tapi gue yakin loe wanita yang kuat." Rani memegang punggung Siska.
Rani pun ikut tertidur walaupun sebenarnya ia masih cemas dengan keadaan Siska,namun ia jika tak bisa memaksa Siska untuk berbicara padanya,karena ia tahu sikap Siska, yang pasti tidak ingin kesedihan nya terlihat oleh Rani.
***
Sekitar jam Empat pagi,Eza pulang ke rumah nya, ketika ia masuk ke dalam kamar,ia tak menemukan Siska di kamar nya,ia heran,di mana istri nya berada.
Ternyata Siska tau Eza sudah pulang, karena ia tidak bisa tertidur,namun ia biarkan Eza mencari nya,ia tak ingin menemui nya terlebih dahulu.
__ADS_1
Siska terkejut saat Eza menghubungi nomor telepon nya,Siska melihat Rani yang masih terlelap,karena Siska yang tidak tertidur,ia langsung keluar dari kamar tamu,tanpa menjawab telepon dari Eza.
Siska masuk ke dalam kamar nya,ia menemukan Eza Sedang duduk di sofa sambil memegang ponsel nya yang ia tempelkan di telinga nya.
"Kamu dari mana sayang?" Eza terkejut ketika Siska masuk ke dalam kamar nya.
"Aku habis dari kamar tamu mas,Rani menginap semalam." ucap Siska,ia pura pura bersikap biasa saja.
"Oh tumben dia nginep." ucap Eza.
"Iyah katanya dia kangen, semalam dia nanyain dulu,ada mas atau tidak di rumah, setelah aku bilang mas lembur,dia langsung kesini." ucap Siska.
"Ohh gitu,eemm ya udah mas tiduran dulu sebentar yah,mas capek banget,nanti bangunin jam tujuh yah." ucap Eza.
"Iyah mas." jawab Siska.
Siska menghampiri Eza,ia berbaring di samping Eza yang sedang tertidur membelakangi nya.
("Apa salah ku mas,kenapa kamu tega mengkhianati cinta kita,apa karena aku tidak juga memberikan kamu keturunan? kalau memang itu yang kamu khawatirkan,aku bisa berusaha lebih keras lagi mas,tapi tidak dengan berselingkuh dengan sekertaris mu itu.") batin Siska.
Siska menangis sambil memandangi punggung suamiku,ia tak menyalahkan Eza sepenuhnya mengingat dirinya yang memang memiliki kekurangan.
Siska bertekad untuk memperbaiki semuanya,ia akan berusaha memperbaiki rumah tangga nya,ia akan merahasiakan dulu,kalau sebenarnya ia tahu perselingkuhan suaminya,jika memang kesalahannya ada pada dirinya ia akan berusaha untuk membuat suaminya merasa beruntung memiliki nya.
Sekitar jam setengah enam pagi,Rani terbangun,ia melihat Siska tidak ada di samping nya,ia pun keluar dari kamar nya,saat ia berjalan ke arah dapur, tampak nya Siska Sedang berada di sana.
"Sis,kok loe gak bangunin gue sih?" ucap Rani sambil menguap.
"Sorry Ran,tadi mas Eza pulang jam empat,jadi gue pindah ke kamar." ucap Siska sambil tersenyum.
"Eemm loe gak papa kan?" Rani masih merasa bersalah.
__ADS_1