Aku istrimu bukan tawananmu

Aku istrimu bukan tawananmu
48.Penuh kepura-puraan


__ADS_3

"Mas?" Siska melihat wajah Eza yang seperti nya kecapean.


"Iyah." jawab Eza.


"Sebaiknya kamu pulang aja malam ini, kayaknya kamu kecapean gitu,biar aku aja yang jagain ibu malam ini." ucap Siska kasihan melihat suaminya.


"Emangnya gak papa?" tanya Eza.


"Nggak papa,aku bisa kok jagain ibu sendiri, lagian besok kamu kan harus kerja juga." Siska menghampiri Eza yang sedang duduk di sofa.


"Ya udah, kalau gitu nanti pagi sebelum ke kantor,aku mampir ke sini, sekalian bawain kamu sarapan." Eza mengelus rambut Siska.


"Iyah mas." Siska tersenyum.


"Ya udah mas pulang sekarang,ibu juga lagi tidur kayaknya,kamu istirahat juga yah." Eza melihat ke arah mertuanya.


"Iyah,kalau nanti ibu nanyain,aku bilang kamu udah pulang." ucap Siska.


"Mas pamit yah, assalamu'alaikum." Eza mencium kening Siska, kemudian ia keluar dari ruangan tersebut.


Saat di dalam mobil, Eza mengeluarkan ponselnya dari saku celana, kemudian ia mencari nomor yang akan ia telpon, setelah ketemu ia pun langsung menghubungi nomor tersebut.


"Aku otw sayang." ucap Eza sambil tersenyum, kemudian mengendarai mobilnya.


Yah,Eza akan pulang ke rumah Syila, karena ia sudah berjanji akan menemuinya malam ini,Eza sangat beruntung sekali Siska menyuruh nya pulang,Eza jadi tidak usah mencari alasan agar dirinya bisa pergi dari rumah sakit.


Beberapa saat kemudian,Eza sampai di rumah Syila,ia mengetuk pintu rumah nya,dan dengan satu ketukan saja,Syila sudah membuka pintu tersebut, karena ternyata ia sudah menunggu nya dari tadi,dan ketika ia mendengar suara mobil datang di depan rumah nya,ia pun segera ke arah pintu.


"Hai sayang?" ucap Eza sambil tersenyum.


"Hai juga." Syila tersenyum,ia melihat sekeliling ke arah depan rumah nya,dirasa cukup aman,ia pun menutup kembali pintu dan menguncinya.


Syila mengajak Eza duduk di ruang tamu,kini mereka duduk bersebelahan.


"Bagaimana caranya bisa kesini, bukannya mertuamu di rumah sakit." Syila menyenderkan kepalanya di bahu Eza.


"Istri ku yang menyuruh ku pulang,dia yang menjaga ibu nya sendiri." jawab Eza.


"Kenapa bisa begitu?" Syila penasaran.


"Aku pura-pura terlihat seperti kecapean di depannya, sehingga dia kasihan dan menyuruh ku untuk istirahat di rumah." jawab Eza.


"Eemmh kamu memang paling bisa yah." Syila mencolek hidung Eza yang mancung itu.

__ADS_1


"Abis ada tamu?" Eza melihat gelas bekas minuman di meja.


"Tadi ada Dara sahabatku,dia sering banget ke sini,tapi pas tadi kamu nelpon,aku suruh aja dia segera pulang istirahat di rumah, karena dia juga terlihat kelelahan jadi dia pun langsung pulang." Syila menjelaskan.


"Eemm ternyata kamu juga pintar sayang." Eza mengelus rambut Syila.


"Eemm mas haus nggak atau mungkin lapar? mau aku buatkan apa?" tanya Syila.


"Aku lapar ingin makan kamu." Eza tersenyum kecil.


"Aku serius." ucap Syila manja.


"Aku dua rius, hihihi." Eza terkekeh.


"Tau ah." Syila melipat kedua tangannya.


"Aduh aduh,jangan ngambek dong sayang, katanya mau di temenin sama mas malam ini." Eza memeluk Syila dari belakang.


Syila tersenyum,ia mengelus elus tangan Eza yang sedang memeluknya.


"Sayang?" Eza membalikkan tubuh Syila.


"Hmmm" jawab Syila.


Eza mengecup kening Syila, kemudian turun mengecup bibir nya,Eza tersenyum, setelah itu ia *****"* bibir Syila, tangannya menekan tengkuk Syila sehingga ciuman keduanya semakin dalam.


"Boleh sekarang?" bisik Eza dengan lembut.


"Jangan di sini mas." ucap Syila pelan.


Eza pun mengerti,ia menggendong Syila bak bridal style menuju kamar nya,Syila tersenyum dengan sifat romantis kekasih nya ini,saat ini tak ada yang mereka pikirkan,kecuali ingin menyalurkan hasratnya.


Eza mendorong pintu kamar Syila yang sedikit terbuka, pelan pelan ia membaringkan Syila ke atas tempat tidur.


Eza mulai melucuti semua pakaian yang menempel di tubuh Syila,kini hanya tersisa kain segitiga yang menutupi bagian sensitif nya.


Eza mulai merem*as bukit kembar milik Syila yang terlihat sangat indah di pandangnya, bibir mereka berpanggut penuh hasrat.


Dengan pelan pelan Eza melepaskan kain segitiga itu ke sembarang arah, terlihat rumput segar telah tumbuh subur di sana.


Eza pun memainkan jarinya di sana, sampai Syila merasakan tubuhnya bagaikan tersetrum listrik yang membuat nya menggeliat.


"Aaaah mas, sekarang mas?" ucap Syila pelan.

__ADS_1


"Katakan sekali lagi sayang." ucap Eza.


"Lakukan sekarang,aku sudah tidak tahan." ucap Syila.


Eza tersenyum penuh kemenangan, kemudian ia menjalankan aksinya, menikmati tubuh Syila untuk yang kedua kalinya.


Kini hanya terdengar suara erangan nikmat keduanya,rumah Syila yang beberapa bulan kebelakang tampak sepi,kini suara keduanya merubah nya menjadi lebih hangat,dan menghasilkan suara yang menggema di ruangan tersebut.


Kesalahan mereka saat malam itu ternyata tak menjadikan nya sebuah pelajaran,namun mereka malah menginginkan nya lagi,dan malam ini mereka melakukan nya dengan sangat sadar dan penuh gairah.


Saat mereka selesai melakukannya,kini mereka tidur dengan saling berpelukan, sampai akhirnya terlelap.


Pagi Hari nya


Syila membangunkan Eza yang masih tertidur, walaupun ini Masih sangat pagi,tapi Eza sempat berpesan semalam untuk di bangunkan pagi pagi sekali.


"Mas, bangun mas,udah pagi." Syila menggoyang kan badan Eza.


Eza membuka matanya perlahan, kemudian ia tersenyum ketika melihat Syila ada di depan matanya saat ia terbangun.


"Pagi sayang?" Eza mencolek hidung Syila.


Syila pun hanya tersipu malu menghadapi tingkah kekasih nya ini, apalagi mereka masih berada di satu selimut.


"Eemm mas,boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Syila ragu.


"Apa sayang?" Eza menyibak kan rambut Syila.


"Setelah apa yang kita lakukan ini, apakah kamu akan menikah ku?" tanya Syila ragu.


Eza terdiam,ia pun masih bingung dengan apa yang harus ia lakukan,ia belum siap untuk kehilangan salah satu di antara keduanya.


"Mas,jawab!" tanya Syila.


"Aku pasti akan menikahi mu sayang,tapi sepertinya aku tidak bisa menceraikan istri ku." jawab Eza sedikit ragu.


"Maksudnya,aku akan jadi istri kedua?" Syila meyakinkan perkataan Eza.


"Apa kamu keberatan?" tanya Eza.


"Kenapa harus jadi yang kedua mas, kenapa kamu nggak bisa ceraikan istri mu itu?" tanya Syila.


"Untuk saat ini aku belum bisa menjawab nya,namun yang pasti aku juga tidak bisa kehilangan kamu Syila." ucap Eza menatap wajah Syila.

__ADS_1


("Entahlah mas,entah aku setuju atau tidak dengan yang kamu katakan,tapi jujur saja,aku tidak bisa kalau harus meninggalkan mu setelah apa yang kita lakukan ini sudah diluar batas,aku takut masa depan ku akan hancur jika aku memilih pria lain selain diri mu.") batin Syila.


__ADS_2