Aku istrimu bukan tawananmu

Aku istrimu bukan tawananmu
70.Lamaran Dika


__ADS_3

Rani sedang menggendong anaknya yang baru saja berusia satu tahun,namun ketika ia sedang memberikan asi untuk anaknya, tiba-tiba seseorang menelpon nya.


"Halo." ucap Rani.


"Apa kau tak berbohong,eemm baiklah aku akan segera ke sana,kau jangan kemana mana dulu." Rani pun langsung mematikan telponnya.


Rani berlari ke luar,ia yang sedang berad di kamar pun bergegas untuk mencari keberadaan suaminya.


"Mas,mas Rehan?" panggil Rani.


"Iyah sayang kenapa?" Rehan yang sedang berada di dapur pun menengok kebelakang saat ia baru saja mengambil air minum.


"Siska pulang mas,ayo anterin aku,aku pengen banget ketemu dia." ucap Rani dengan penuh semangat.


"Hah, serius kamu?" Rehan tak percaya.


"Iyah mas,barusan dia nelpon,baru sampai." ucap Rani.


"Terus sekarang dia dimana, bukannya rumah nya yang dulu sudah ia jual." tanya Rehan.


"Bukan di jual mas,tapi di sewakan selama dua tahun,jadi sekarang Siska yang mengisi lagi rumah itu,bukan orang lain." ucap Rani menjelaskan.


"Ya sudah ayo siap siap nanti kita ke sana, mumpung mas hari ini nggak ada jadwal di rumah sakit." ucap Rehan.


"Ya udah,ini tolong pegangin dulu Zayn,aku mau ganti baju dulu." Rani memindahkan Zayn dari pangkuan nya ke pangkuan Rehan.


"Sini sayang,anak papa,yang ganteng." ucap Rehan sambil menggendong nya.


Rani pun segera bergegas ke kamar nya, untuk berganti pakaian,setelah itu,ia langsung berangkat bersama Rehan dan juga buah hati nya.


Rani dan Rehan menikah setelah dua bulan pertunangan mereka,dan mereka pun langsung di percaya untuk memiliki momongan, putranya yang bernama Muhammad Zayn,kini sudah berusia satu tahun.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, mereka sampai di rumah Siska,saat mereka ingin masuk ternyata pintu rumah nya sudah terbuka lebar,dan yang lebih membuat mereka terkejut ternyata Siska sedang bersama dengan seseorang di rumah tersebut.


"Wah, sepertinya kita keduluan sayang,ada yang lebih gerak cepat daripada kita, hehehe." Rehan terkekeh.


"Kalian apaan sih,ayo masuk." Siska berdiri,lalu ia menghampiri Rani. "Ran,apa kabar,gue kangen banget sama loe." Siska memeluk Rani.


"Gue baik Siska,gue juga kangen banget sama loe." Rani membalas pelukan Siska.


Mereka pun langsung duduk berempat di sana,berlima bersama si kecil Zayn yang sedang di gendong oleh Rehan.


"Eh,bang kapan loe kesini,gercep banget." ucap Rehan.


"Baru saja sampai." ucap Dika yang terlihat sedikit malu.


"Sini sama Tante sayang,eemm aku boleh gendong kan?" tanya Siska saat melihat Zayn.


"Boleh," ucap Rehan,Siska pun mengambil Zayn dari pangkuan Rehan.


Setelah pertemuan nya, mereka mengobrol mengobati rasa rindu karena dia tahun ini tidak bertemu.


Dika yang memang semakin intens berhubungan lewat telpon saat Siska di luar negeri pun,adalah orang pertama yang Siska berikan kabar kalau dia sudah pulang,dengan begitu ia langsung ke rumah Siska saat itu juga.


Sekitar beberapa jam kemudian, Zayn nampak nya sudah tak betah berlama lama di tempat yang baru ia kenal, sehingga Rani dan Rehan memutuskan untuk pulang terlebih dahulu,lagi pula mereka mengerti,mungkin sekarang Siska butuh waktu untuk beristirahat setelah perjalanan jauh nya.


Kini tinggal Siska dan juga Dika yang masih berada di rumah tersebut,Dika pun mendekati Siska, tiba tiba ia berlutut di depan Siska.


"Siska,sudah sejak lama aku ingin mengatakan ini,namun sepertinya inilah waktu yang tepat untuk aku ucapkan,aku ingin melamar mu,maukah kamu menjadi istri ku?" Dika memberikan sebuah cincin berlian kepada Siska.


"A-aku,eemm bukannya kau tau aku bukan seorang gadis lagi dan kau sendiri masih bujangan,apa kau sudah memikirkan nya baik baik,kenapa kau tak mencari wanita yang memang status nya sama denganmu,aku merasa tak pantas untuk laki laki seperti mu." ucap Siska.


"Aku tak peduli dengan status mu,aku mencintaimu sejak dulu,sejak aku pertama kali melihatmu,aku selalu menunggu mu, menunggu waktu ini tiba,di mana aku bisa mengungkapkan perasaan ku padamu." ucap Dika.

__ADS_1


"Apa kau yakin tidak akan menyesal nantinya?" tanya Siska.


"Tak ada yang harus aku sesalkan dalam hidup ku, justru dengan menikah dengan mu,itulah sebuah hal yang sangat aku impikan." ucap Dika.


"Baiklah,jika memang kau sudah memikirkan nya matang matang,aku siap untuk menikah dengan mu,aku siap menjadi istri mu." ucap Siska sambil tersenyum.


"Kau mau?" tanya Dika,Siska pun mengangguk sambil tersenyum.


"Aku berjanji,akan membahagiakan mu." Dika memeluk Siska dengan erat, Siska pun membalas pelukannya.


Mereka pun saling berpelukan,Siska sudah melupakan semua tentang Eza, menurut nya Eza hanyalah masa lalu nya,saat ini ia lebih pokus ke masa depan nya, bersama seseorang yang memang memperjuangkan nya dan menerima dia apa adanya.


Saat mereka sedang mengobrol,tiba-tiba seseorang datang dari arah pintu, mereka pun langsung menatap heran ke arah orang tersebut.


"Mas Eza?" Panggil Siska.


"Mau apa lagi kau kesini?" Dika sepertinya sangat marah melihat Eza,ia langsung berdiri.


"Sebentar mas,biar aku saja yang menemui nya,dia juga pasti ingin menemui ku,makanya datang kesini." Siska menghentikan langkah Dika. "Mas Dika tunggu di dalam biar aku yang keluar." ucap Siska yang langsung berdiri.


Siska Menghampiri Eza yang sedang berada di depan pintu. "Katakan,apa tujuan mu datang kesini?" Siska melipatkan tangannya tanpa melihat ke arah Eza.


"Aku mau minta maaf sama kamu." Eza memegang tangan Siska.


"Aku sudah memaafkan mu." Siska menghempaskan tangan nya.


"Apa kau tidak bohong,eem jadi kamu mau kan kembali lagi sama mas,mas sangat menyesal telah meninggal kan mu,Syila sekarang meninggalkan ku,dia menggugat cerai ku." Eza menjelaskan.


"Apa? kembali lagi sama kamu?" Siska menghembuskan nafasnya. "Aku memang sudah memaafkan mu,tapi aku tidak pernah bilang kalau mau kembali lagi bersama mu,aku tak mau lagi masuk ke dalam lubang yang sama,sudah cukup aku masuk ke dalam cinta yang salah." Siska memfokuskan pandangannya ke depan.


"Tapi kenapa,bukankah kau mencintaiku,dulu kau memberikan ku pilihan,antara kau dan Syila, ternyata waktu itu aku salah memilih dan sekarang aku memilih mu." Eza memegang tangan Siska.

__ADS_1


"Hahaha,kau ini lucu mas, apakah kau tidak malu mengatakan itu terhadap ku." Siska menatap tajam ke arah Eza. "Kau sendiri yang memilih nya,jadi kalau dia meninggalkan mu itu sudah bukan urusan ku lagi." ucap Siska.


__ADS_2