Aku istrimu bukan tawananmu

Aku istrimu bukan tawananmu
46.Ruang tak tembus pandang


__ADS_3

Eza dan Syila sudah kembali lagi ke kantor,mereka baru saja duduk di tempatnya masing-masing,namun sepertinya Eza masih ingin bermesraan dengan kekasih baru nya itu.


Eza mendekati Syila yang sedang duduk di kursi nya, kemudian ia mengangkat tubuh Syila sehingga Syila duduk di meja kerjanya.


"Mau apa mas?" Syila melihat ke arah pintu,ia takut ada yang melihatnya.


"Tunggu sebentar!" Eza mengunci pintu ruangan nya, kemudian kembali menghampiri Syila.


"Aku takut ada orang yang melihat kita mas?" Syila melihat ke arah luar.


"Tenang saja sayang,di luar orang tidak akan mengetahui apa yang sedang kita lakukan." Eza memeluk tubuh Syila.


Pintu kaca yang menutupi ruangan Eza memang tidak tembus pandang,jadi orang dari luar ruangan tidak akan tahu apa yang dilakukan di dalam ruangan tersebut.


Kini Eza berdiri dipinggir meja kerja Syila dengan posisi Syila di depannya,Syila yang sedang duduk di sana,pun sedikit ketakutan, karena ini kali pertamanya mereka melakukan itu di kantor.


Eza yang berdiri ******* bibir merah milik Syila yang duduk di meja dengan penuh hasrat, keduanya saling menikmati ciuman itu.


Kedua tangan Eza memegang tengkuk Syila sehingga membuat ciuman mereka semakin dalam satu sama lain.


Saat Eza akan membuka kancing kemeja Syila, tiba-tiba ponselnya berdering,Eza pun menghentikan aksinya.


"Siapa yang menelepon?" Eza heran.


"Abaikan saja dulu, apakah mas tidak mau melanjutkan nya?" Syila melingkar kan kedua tangan nya ke leher Eza.


Mendengar perkataan Syila,Eza pun mengabaikan telpon itu,kini tangan Eza mulai menyusup masuk ke kemeja milik Syila,dan mulai nakal merem*s gunung kembar milik Syila yang padat berisi.


"Ah,mas jangan." Syila tak bisa menahan erangan nya.


"Pelan kan suaranya sayang." Eza berkata dengan lembut.


Eza membuka satu persatu kancing kemeja milik Syila dengan perlahan,namun lagi-lagi suara dering ponsel miliknya mengganggu keduanya.


"Sebentar sayang, sepertinya aku harus mengangkat telponnya terlebih dahulu." Eza mengarah ke meja kerjanya, mengambil ponselnya yang berada di dalam tas nya.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Syila.


"Istri ku,aku angkat yah." Eza melihat ke arah Syila,Syila pun mengangguk.


Eza merapikan dasinya, sambil mengangkat telepon dari siska yang menelepon nya berkali kali sehingga membuat aksinya terganggu.


"Halo mas,kemana aja sih,udah beberapa kali aku nelpon gak di angkat juga?" Siska kesal karena Eza baru mengangkat telponnya.


"Maaf,mas lagi sibuk,ada apa?" Eza melihat ke arah Syila yang sedang memperhatikan nya menelpon.


"Ibu masuk rumah sakit mas,aku dari tadi udah hubungi kamu." Siska mendengus kesal.


"Apa? kenapa bisa?" Eza terkejut mendengar nya.


"Nanti aja aku jelasin nya, sekarang kamu bisa ke sini gak?" tanya Syila.


"Eemm sebentar dulu,aku cek kerjaan ku dulu yah,kalau gak ada yang urgen,aku langsung otw ke sana." ucap Eza.


"Iyah mas,aku tunggu yah,nanti aku share lokasi nya."


"Ya udah,mas usahain secepatnya ke sana yah." Eza menghampiri Syila, kemudian ia mematikan telponnya.


"Mertua mas masuk rumah sakit,mas harus segera ke sana,gak papa kan mas tinggal dulu, lagian hari ini tidak ada kerjaan yang mendesak." Eza memegang tangan Syila.


"Tapi mas, bukannya tadi kita mau-" Syila menundukkan wajahnya.


"Sebenarnya mas juga pengen sayang,ya udah gini aja,Nanti malem mas ke rumah yah sayang, sekarang mas harus pergi,oke?" Eza mencoba memberikan pengertian.


"Hmmm ya udah deh harus gimana lagi." Syila menghembuskan nafasnya.


("Sebenarnya hatimu untuk siapa mas? mungkin saat ini aku belum berani untuk meminta mu memilih antara aku atau istri mu,tapi suatu saat nanti aku akan tanya itu,aku gak mau kalau hubungan kita hanya sebatas begini saja,aku juga butuh kepastian seperti wanita lainnya, karena aku sadar, hubungan kita ini tidak sehat,namun saat ini cuma ini yang bisa aku lakukan, karena aku tak bisa melupakan saat malam itu bersama mu.") batin Syila.


"Mas pergi dulu yah, sampai ketemu nanti malam." Eza mencium kening Syila, kemudian ia keluar menuju parkiran.


Eza bergegas mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi,walau bagaimanapun ia panik dengan keadaan mertuanya itu,ibu Ani sudah cukup baik padanya, dalam hatinya pun cemas memikirkan Siska yang sedang menunggu di sana sendirian.

__ADS_1


Tak lama kemudian,Eza pun sampai ke rumah sakit yang Siska katakan,Eza menghampiri resepsionis untuk menanyakan di mana ruangan mertua nya, setelah bertanya,Eza pun langsung mengarah ke ruang inap yang di katakan perawat tadi.


"Mas..." Siska memeluk Eza, ketika baru sampai di sana.


"Bagaimana keadaan ibu?" Eza terlihat khawatir.


"Tadi ibu udah sadar, sekarang dokter sedang memeriksa nya." Siska mengeratkan pelukannya.


Saat ini Siska sangat membutuhkan seseorang yang bisa menenangkan nya,dan Eza lah satu satu nya yang Siska punya.


"Kamu yang sabar yah sayang,jadi kenapa ibu bisa masuk rumah sakit?" Eza penasaran.


"Jadi tadi pagi aku heran karena biasanya ibu sudah bangun pagi pagi sekali,tapi tadi nggak, awalnya aku pikir ibu kecapean atau gimana jadi aku biarin aja,tapi kok saat aku mau berangkat ngajar,ibu belum keluar juga,karena aku penasaran aku lihat ke kamar nya,dan ternyata ibu udah nggak sadar, hiks hiks hiks." Siska tak bisa menahan air matanya.


"Udah, sabar yah sayang,mas yakin ibu akan sembuh, kamu harus kuat yah." Eza menenangkan Siska.


Saat mereka sedang mengobrol dokter pun keluar dari ruangan tersebut.


"Ibu anda sudah sadar,jika mau melihatnya,boleh silahkan,tapi tidak boleh lebih dari dua orang yah yang masuk." ucap dokter Ricard.


"Baik terimakasih dok." ucap Siska.


"Sama2,oh Iyah sore ini akan ada pergantian sip,jadi nanti pasien akan di tangani oleh dokter Rehan, semoga ibu anda cepat sembuh yah." ucap dokter Ricard.


"Baik dok, sekali lagi terimakasih atas bantuannya." ucap Siska.


"Baik,saya permisi dulu,mari." dokter Ricard langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


Eza dan Siska pun langsung masuk untuk melihat kondisi ibu nya, yang sudah sadar, setelah hampir beberapa jam tidak sadarkan diri.


"Ibu..." Siska memegang tangan ibu nya.


"Iyah nak." jawab ibu Ani pelan.


"Ibu gak papa kan,mana yang sakit Bu, sebelah mana?" Siska khawatir.

__ADS_1


"Ibu gak papa nak, maafin ibu yah udah bikin kalian khawatir." ucap ibu Ani.


"Nggak Bu,ibu nggak perlu minta maaf,Siska yang minta maaf karena gak bisa jagain ibu, sampai sampai,ibu sakit gini pun,Siska baru tau sekarang Bu, hiks hiks hiks." Siska tak bisa menahan tangisnya.


__ADS_2