Aku istrimu bukan tawananmu

Aku istrimu bukan tawananmu
38.Pingsan


__ADS_3

Sekitar waktu Kurang lebih dua jam perjalanan,Syila kini sampai di terminal Jakarta,ia menelpon Dara untuk menjemput nya,namun ternyata mobil Dara mogok dan harus ke bengkel terlebih dahulu sehingga tidak bisa menjemput nya.


Sebenarnya ia heran kenapa malam malam begini Syila menelpon untuk menjemput nya,namun ia tak mau terlalu banyak tanya dulu,ia curiga ada sesuatu yang telah terjadi pada sahabat nya itu,ia akan bertanya nanti setelah ia sampai di rumah Syila.


Karena Dara tak bisa menjemput nya, akhirnya Syila harus mencari kendaraan lain untuk mengantarkan nya pulang,Syila berdiri di pinggir jalan,ia mencari taksi atau angkutan mobil apapun,namun tak ada kendaraan yang lewat.


Syila berdiri melihat kanan kiri, siapa tau ada taksi yang lewat,namun tiba-tiba ada sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan Syila, seseorang pun turun dari mobil tersebut.


"Dika...?" panggil Syila lirih.


"Syila,kamu sedang apa,malam malam begini berdiri di sini?" ucap Dika.


"A-aku mau pulang," ucap Syila.


"Ya udah,aku antar yah,ayo masuk!" ajak Dika.


"Ta-tapi..." Syila ragu.


"Ayo masuk!" Dika mengambil koper Syila dan memasukkan nya ke dalam mobil.


Syila pun dengan sedikit ragu,naik ke mobil Dika,ia pun tak punya pilihan lain, daripada harus menunggu kendaraan yang lewat entah sampai kapan.


Di dalam mobil mereka hanya terdiam, sepertinya ada masalah yang belum terselesaikan tempo dulu yang membuat mereka canggung saat bertemu kembali.


Namun diam diam Dika memperhatikan Syila,Dari sudut pandang nya,Syila seperti nya sedang ada masalah karena dari tadi ia hanya melamun, apalagi Dika melihat mata Syila yang sembab.


"Eemm sudah lama sekali kita tidak bertemu, bagaimana kabar mu?" tanya Dika.


"A-aku Baik,kau sendiri?." ucap Syila.


"Aku juga baik, seperti yang kau lihat." Dika tersenyum, kemudian mereka terdiam kembali.


"Dika,Syila...?" ucap keduanya bersamaan.

__ADS_1


Keduanya sangat gugup, mungkin karena ini pertempuran pertama mereka setelah sekitar satu tahun tidak bertemu.


"Kamu aja duluan!" ucap Syila.


"Apa kamu sedang ada masalah?" tanya Dika, karena ia sangat penasaran,namun Syila hanya terdiam ia tak menjawab pertanyaan Dika.


"Maaf kalau aku lancang,aku bertanya seperti itu karena melihat mata mu yang seperti Habis menangis,tapi jika memang kamu gak mau cerita,aku tak akan memaksamu." ucap Dika.


"Maaf,tapi sepertinya untuk sekarang aku belum bisa cerita sama kamu." jawab Syila.


"Baiklah, tidak apa apa,tapi jika kamu butuh aku untuk sekedar bisa mendengar kan cerita mu aku siap, nomor handphone ku pun belum aku ganti,masih tetap yang dulu." ucap Dika.


("Begitu pun perasaan ku terhadap mu,masih sama seperti yang dulu.") batin Dika.


"Baiklah,hmmm sepertinya sebentar lagi sampai," ucap Syila.


Dika pun menghentikan mobilnya di depan rumah Syila, rumahnya yang dulu penuh kenangan bersama nya.


"Maaf, seperti nya aku gak bisa ajak Kamu mampir kali ini, karena ini sudah terlalu malam, terimakasih sudah mengantar?" ucap Syila.


"Hati hati di jalan." ucap Syila,


Syila pun langsung masuk ke dalam rumah nya, sedangkan Dika memperhatikan dari dalam mobilnya, sampai Syila menutup pintu rumahnya kembali.


"Masalah apa yang sedang kau hadapi, sehingga membuat mu seperti sangat hancur Syila?" gumam Dika,ia menghembus kan nafasnya,dan langsung melajukan mobilnya.


Sementara di dalam kamar, Syila menghempas kan tubuhnya di atas tempat tidur,saat ini ia tak bisa lagi membendung air matanya,ia menangis sekencang-kencangnya,ia ingin meluapkan semua beban yang dirasanya cukup berat.


Kemudian ia ke kamar mandi,ia ingin mendinginkan suhu tubuh nya yang terasa panas saat ini, tubuhnya bergetar,ia sengaja membasahi tubuhnya dengan kucuran air.


"Aku sudah kotor,aku tak pantas untuk siapapun,aku hanya wanita hina, hiks hiks hiks." Syila menangis terisak.


Syila terus menangis sambil memeluk tubuh nya,di bawah kucuran air,ia tak peduli seberapa dingin malam itu,ia hanya butuh ketenangan untuk saat ini.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian,Dara tiba di rumah Syila, sempat beberapa kali ia mengetuk pintu, namun tak ada juga yang membuka kan pintu rumahnya.


"Emmm apa Syila belum pulang yah,coba gue telpon lagi," ucap Dara, langsung menelpon menelpon Syila,namun kali ini nomor nya tidak aktif.


"Duh,nggak aktif lagi." Dara mereka cemas,ia mencoba untuk membuka pintu, ternyata pintunya tidak di kunci, Dara langsung masuk kedalam.


"Syil,Syila..." panggil Dara.


Dara heran, kenapa Syila tak juga menjawab,ia akhirnya pergi ke kamar nya, Dara melihat kamar Syila terbuka,ia pun berdiri di depan pintu kamar tersebut,namun ia tak mendapati Syila di dalam.


Dara akhirnya masuk,ia mendengar suara gemericik air dan suara seseorang sedang menangis di dalam, Dara pun langsung ke kamar mandi dengan panik.


"Syila!" Dara terkejut melihat Syila yang sedang memeluk tubuh nya di bawah kucuran air.


Dara langsung mematikan kran air tersebut,dan langsung memeluk Syila yang sudah menggigil dengan pakaian yang basah kuyup.


"Syila loe kenapa?" Dara memeluk tubuh Syila.


"Gue bodoh Ra,gue gak bisa jaga diri gue sendiri,hiks hiks hiks." Syila menangis terisak.


"Sebenarnya ada apa,apa yang terjadi sama loe Syil?" Dara masih belum mengerti ucapan Syila.


Saat Dara menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba tubuh Syila ambruk ke lantai, tubuhnya menggigil sampai akhirnya tak sadarkan diri.


"Syil bangun Syil," Dara semakin panik,ia bingung harus bagaimana.


Akhirnya ia membawa Syila keluar dari kamar mandi, Dara mengganti pakaiannya,dan membaringkan Syila di atas tempat tidur.


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi Syil, kenapa bisa sampai seperti ini, bukannya kamu kerja ke luar kota kemarin," Dara menyelimuti tubuh Syila yang masih tak sadarkan diri.


Dara mencoba memberikan minyak kayu putih pada hidung Syila, supaya ia sadar, hingga beberapa menit kemudian Syila pun akhirnya sadar.


"Minum dulu..." ucap Dara lirih,ia memberikan air putih hangat pada Syila.

__ADS_1


Dara menunggu Syila untuk sedikit tenang, setelah itu pelan pelan ia mulai menanyakan kondisi nya,namun belum sempat ia bertanya,wajah Syila tampak merah padam,suhu tubuhnya panas,namun ia terlihat menggigil,Dara pun bingung harus bagaimana.


Awalnya Dara ingin ke luar untuk membelikan obat,namun sepertinya ia juga tak tega meninggalkan Syila sendiri dalam kondisi seperti ini,dalam kebingungan nya tiba-tiba ponsel Dara berdering,saat mengetahui siapa yang menelepon, akhirnya dia mengangkat telponnya.


__ADS_2