
Dalam perjalanan pulang ini, aku hanya diam saja, tidak sanggup untuk bicara karena tubuh ini sudah menggigil kedinginan.
"Aciiimm....!
"Aciiimm...!
Aku bersin-bersin karena kehujanan tadi, pak Devan langsung memberikan aku sebuah tissue.
"Makasih pak! ujar ku
"Pak bisa lebih cepat lagi tidak bawa mobilnya! ujar ku, aku ingin cepat sampai rumah.
Tubuh ini sangat dingin sekali, apa lagi AC mobil pak Devan juga hidup.
"Sabar sebentar! ujar nya
Tidak mungkin mobil melaju dengan cepat dengan cuaca hujan deras seperti ini, yang ada kami bisa celaka.
Aku melirik Siti, ada rasa iba juga melihat dia kedinginan seperti itu, aku matikan AC mobil, biar Siti tidak tambah kedinginan lagi.
"Masih dingin? tanya ku ke Siti
Dia mengangguk pelan, jalanan tidak terlalu jelas karena guyuran hujan yang begitu derasnya.
"Aduh macet lagi! gumamku
Jalanan juga macet seperti nya di depan sana ada pohon tumbang.
Aku semakin tidak tega dengan Siti, aku memutar balik mobil ku, aku akan membawa Siti ke rumah sakit dulu.
"Kenapa kita putar balik? tanya nya
"Kita ke rumah sakit dulu! ujar ku
"Siapa yang sakit? tanya nya
"Kamu lah, terus siapa lagi? ujarku
"Aku cuma bersin doang! nggak sakit juga kok! ujar nya
"Kalau di biarkan nanti kamu tambah sakit lho! ujarku
"Ya sudah lah, terlanjur juga! ujar nya
Kami sampai di rumah sakit terdekat, beruntung nya aku bersama Siti tidak mendapatkan antrian begitu panjang.
Kini Siti sedang di periksa oleh dokter, aku menunggu nya di luar.
"Ananda siti tidak apa-apa!, tidak perlu di khawatir kan! ujar dokter
"Saya berikan vitamin untuk ananda nanti di beli di apotik rumah sakit ya! ujar dokter lagi
Aku mengangguk kecil saja, pak Devan sangat menghawatirkan aku.
Jelas-jelas aku tidak apa-apa tapi dianya sangat khawatir sekali
"Apa kata dokter? tanya pak Devan
Aku menghela nafas panjang, lebih baik aku bercanda sedikit tidak apa lah!
"Hiks...pak! ujarku pura-pura menangis di hadapan nya
"Kamu tidak kenapa-napa kan? tanya pak Devan sangat khawatir
"Aku terkena penyakit yang tidak ada obatnya pak! ujar ku
Haha bercanda sedikit nggak papa lah ya!
__ADS_1
Dia semakin khawatir sampai-sampai dia menarik rambutnya frustasi.
"Jangan ngada-ngada ya, masa iya kena hujan sedikit saja kamu sudah terkena penyakit yang tidak ada obatnya! ujar nya mulai tidak percaya
"Iya! ujar ku senyum
"Aku terkena penyakit yang tidak ada obatnya! ujar ku lagi
"Obatnya hanya ada di kamu! ujar ku tertawa
Dia melihat aku dengan tatapan tajam, aku hanya tersenyum manis saja di depan nya.
Puas rasanya sudah mengerjai dia, jadi ke ulang lagi pada masa-masa waktu pertama kali bertemu.
"Ayo kita pulang! ajak ku
"Bisa tidak!, nggak bikin orang jantung! ujar nya
"Nggak bisa, aku orang nya kan seperti itu, suka sekali ngerjain kamu! ujar aku
"Sekalian saja bunuh aku! ujar pak Devan
Aku mengangguk, kalau itu mau kamu akan aku lakukan!, tapi tidak sekarang!
"Nanti saja! ujar ku, nantikan pas kita sudah halal.
Hujan deras tadi sudah berhenti kini hanya tinggal rintik-rintik kecil saja.
"Oh iya maaf ya aku selalu merepotkan kamu! ujar ku
"Sekali lagi kamu ngomong gitu, aku tidak akan membantu kamu lagi! ujar nya
Pantang banget ya di telinga nya kalau aku sebut-sebut merepotkan nya!
Aku sampai di rumah sudah jam empat sore, pak Devan juga ikut masuk ke dalam rumah ku.
Karena aku memaksanya makanya dia mau masuk, kalau tidak di paksa dia tidak akan mau.
Setelah berganti baju tadi aku juga ikut gabung dengan mereka.
"Iya sama-sama ma! ujar pak Devan
Apa ma? aku tidak salah dengar kan, kalau pak Devan panggil mama aku dengan sebutan mama juga!
"Ma? ujar ku kaget
"Iya emang nya nak Devan panggil mama dengan sebutan mama, nggak boleh? tanya mama
"Sejak kapan? tanya ku
"Sejak tadi! ujar pak Devan
Aneh juga denger nya!
Terserah dia ajalah mau panggil dengan sebutan mama, mami, umi, ibu, emak, aku tidak terlalu mempersalahkan nya.
"Ma aku balik dulu ya! pamit pak Devan
"Iya, besok ke sini lagi ya, lusa kan kamu sudah berangkat lagi! ujar mama
Wah ketinggalan banyak aku!, ternyata mereka sudah banyak bercerita juga.
"Antar nak Devan ke depan! titah mama
Aku mengangguk, kami jalan beriringan, sedikit canggung juga sih.
Tapi aku harus terbiasa kan itu, supaya nanti sudah menjadi istrinya tidak malu-malu kucing lagi, eeak ngarep banget sih jadi istrinya!
__ADS_1
"Hati-hati di jalan! ujar ku ke pak Devan, sudah kek pasutri saja, ngaterin suami sampai pintu keluar, cium tangan sambil cium di jidat juga.
Azzekk kapan ya aku kek gitu? masih mempertanyakan ya bestie!
Tanpa di minta dia menyodorkan tangannya ke arah aku, aku mengerenyitkan jidatku.
"Ayo buruan! ujarnya tangannya sudah di depan mata aku.
"Belajar, supaya kebiasaan! ujar nya
Aku ragu-ragu mengambil tangan nya itu.
satu
dua
tiga
Aku mencium punggung tangan nya dengan takzim, sungguh tidak bisa di bayangkan, ternyata gini rasanya mencium punggung tangan laki-laki itu.
Dia tersenyum, aku juga ikut tersenyum canggung oleh nya.
"Aku pulang dulu, jangan lupa minum vitamin tadi! ujar pak Devan
Aku hanya bisa mengangguk lagi dan lagi.
Aku melihat kepergian nya, aaaa mama anak mu ini benar-benar jatuh cinta! ujar ku bersorak-sorai di dalam hati.
Tidak mungkin aku bersorak di depan mama, yang ada kupingku kena jewer oleh mama.
...
Benar kata kak Devan aku harus melupakan Siti, biar bagaimanapun aku bahagia melihat dia bahagia.
Mau dia sama siapa pun aku akan tetap dukung dia, dia wanita baik tidak sepantasnya dia bersama aku, sementara aku laki-laki yang jahat dan masih jauh sang pencipta.
Wanita baik-baik teruntuk laki-laki yang baik pula.
Aku rela melepaskan nya asalkan dia bahagia dengan jodoh nya nanti.
"Aku berjanji siti, aku tidak akan menggangu hidup kamu lagi! gumamku
Sebelum aku pergi ke Hongkong mengganti kan kak Devan, aku harus bertemu dengan Siti dulu.
Aku ingin mengucapkan kata-kata perpisahan untuk Siti.
Aku juga tidak tau entah kapan aku bisa ketemu dengan dia lagi.
"Ya, besok aku harus menemui Siti! gumamku
Aku mengganti kan kak Devan karena dia sendiri yang mau, lagi pula aku juga di bantu oleh vano.
Mungkin tentang perusahaan aku masih belum paham, tapi aku harus berusaha juga, supaya kelak aku bisa menjadi seorang hebat seperti kakak-kakak ku, yang telah sukses di usia muda nya.
Kak Elsa sudah lama bergelut di bidang bisnis, ia berhasil menjadi CEO ternama di perusahaan papa yang kedua, sementara kak Devan juga menjadi CEO ternama juga di berbagai perusahaan papa.
Sekarang aku juga berkeinginan menjadi orang hebat seperti mereka.
...
bersambung....
(sebelum membaca cerita ini author mau kasih tau kalau cerita ini hanya khayalan semata yang author rangkai menjadi sebuah cerita, jadi kalau alur atau jalan cerita nya agak sedikit berbeda author minta maaf sebesar-besarnya π)
(Author baru pemula untuk merintis cerita ini, semoga cerita author banyak yang minat)
(Kalau author jarang update berarti author lagi sibuk sama urusan sekolah, sekali lagi author kasih tau kalau pembuat cerita ini anak sekolahan, kurang dan lebihnya hanya itu saja yang author sampai kan!)
__ADS_1
Makasih ya atas dukungan nya, sedikit terobati hati author yang sempat sedih iniπ
semoga kedepannya bertambah banyak dukungan dari kalian π