
Tiga hari telah berlalu aku masih di rumah sakit menemani Siti, sudah tiga hari pasca operasi itu terjadi, tapi Siti belum juga melewati masa koma nya.
Dan hari ini juga mama aku akan pulang dari rumah sakit, mama keadaan sudah mulai membaik, maka nya mama akan rawat jalan.
Kini aku berada di kamar mama, mama ingin bertemu dengan Siti terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah.
Sementara papa kini sedang duduk di kursi tunggu, kak Elsa bersama Reno juga berada di dalam kamar ini.
"Alhamdulillah akhirnya mama sudah boleh pulang! ujar kak elsa, lalu kak elsa memeluk mama yang lagi duduk di kursi roda.
"Iya, ini berkat dari do'a kalian, dan juga bantuan yang sangat berharga bagi mama dari istri adek kamu! ujar mama
"Iya, Siti sangat baik ya ma, dia rela memberikan ginjal nya untuk mama! ujar kak elsa
"Siti dari dulu sampai sekarang memang baik ke semua orang! ujar Reno
Aku melirik Reno dengan tatapan sedikit tidak suka, aku sedikit cemburu dengan nya, dia bahkan tau dengan karakter Siti, sementara aku sebagai suaminya belum mengetahui karakter Siti.
"Kak Devan nggak usah cemburu juga! ujar Reno
"Udah nggak usah bahas cemburuan sekarang, yang penting anak mama tidak jomblo lagi, dan kamu Reno kapan bawa calon kamu ke mama? tanya mama
"Belum tau ma, wong aku masih jomblo semenjak di putusin oleh Siti alias jadi kakak ipar aku sekarang! ujar Reno sedikit menyindir aku.
Ini bukan salah aku merebut Siti dari Reno, yang salah itu Reno sendiri, dan Siti juga mencintai aku.
"Nggak usah nyindir! ujarku bercanda
"Nggak usah masukin ke hati juga kali kata-kata aku tadi! ujar Reno
"Terus mama hanya liat kalian ngomong aja? ujar mama
"Ayok buruan ke kamar Siti, mama mau menemui menantu kecil mama! ujar mama.
Lalu aku mendorong kursi roda ke ruang rawat Siti, sesampainya di sana kursi roda mama aku dorong lebih dekat ke tempat Siti.
"Bangun nak! lirih mama mengusap-usap lembut tangan Siti.
"Siti, kamu merupakan penolong mama nak, tanpa ada kamu yang mau mendonorkan ginjal kamu, mungkin mama sudah tidak ada lagi di dunia ini! ujar mama meneteskan air mata.
Semua orang yang berada di kamar Siti jadi terharu, mama rose dan papa diningrat juga ikut meneteskan air matanya.
Aku sendiri hanya bisa menahan air mata ini.
"Cepat sembuh nak! ujar mama
Sudah lama mama melihat Siti, kini mama minta pulang.
Aku mengantarkan mama ke luar rumah sakit, di parkiran kami sudah berkumpul.
"Devan jaga Siti ya nak, kalau Siti sudah sembuh tolong kabarin mama! ujar mama
"Iya ma itu pasti! ujarku, kini mobil yang di naiki mama sudah meninggalkan tempat ini.
__ADS_1
Aku balik ke tempat kamar dimana Siti di rawat, kini di dalam kamar itu hanya tinggal aku dengan Siti, tadi mama dan papa Siti pulang dulu.
Aku terduduk lemas melihat istri kecil ku yang semakin hari semakin pucat, dokter mengatakan kemungkinan Siti komanya akan lama.
Ntah berapa lama Siti komanya aku pun tidak tau, aku kembali memegang tangan Siti.
"Bangun sayang, aku hanya sendiri di sini, aku kangen dengan ceria kamu dulu Siti, tolong bangunlah demi aku dan yang lain! batin aku
Sampai kapan kamu tidur seperti ini Siti?, sampai kapan?
...
Malam pun tiba kini aku masih duduk di kursi berdekatan dengan brankar Siti, tadi aku pulang terlebih dahulu untuk menengok mama.
Di rumah tadi mama sudah mulai membaik, aku sangat bersyukur karena mama sudah sehat kembali, tapi aku juga sangat terpukul dengan keadaan istri aku.
Kini dokter yang biasa memeriksa Siti, mulai melakukan pemeriksaan kembali.
Seperti biasa tidak ada perkembangan dari Siti, yang ada keadaan nya semakin memburuk saja.
"Apa istri saya harus di rujuk ke rumah sakit yang lebih canggih lagi peralatan medis nya dok? tanya ku ke dokter
"Supaya istri saya bisa melelewati masa koma nya dok! ujar ku
"Tergantung dari bapak saja, kalau bapak ingin merujuk ke rumah sakit yang lebih canggih peralatan medis nya, saya akan bantu membuat surat rujuk nya! ujar dokter
Aku mengangguk kecil, aku berencana memindahkan Siti ke rumah sakit yang lebih canggih lagi peralatan medis nya.
Aku sudah menghubungi keluarga Siti, mereka setuju dengan pendapat aku.
Kini Siti di bawa menggunakan ambulans rumah sakit, aku juga ada di dalam ambulans ini, perawat juga ikut menemani kami.
Bunyi ambulans begitu nyaring membawa Siti ke rumah sakit yang lebih canggih peralatan medis nya.
Sesampai nya kami di rumah sakit baru itu, kami di sambut oleh beberapa perawat rumah sakit itu.
Kini Siti sudah di tangani oleh dokter spesialis tentang ginjal, aku di suruh menunggu di luar.
Mama dan juga papa Siti sudah hadir di rumah sakit ini.
"Devan apa kata dokter? tanya papa ke aku
"Dari tadi dokter belum kunjung keluar pa! ujar ku
Mama sudah menangis lalu mama menghapus air matanya itu, "ya Allah sembuhkan lah putri hamba! lirih mama dalam tangisannya.
Ya Allah apa yang telah terjadi itu!, ini semua salah aku, seandainya aku tidak menerima bantuan dari Siti mungkin Siti tidak akan jadi begini.
Aku juga ikut menangis, air mata yang selama ini aku tahan akhirnya meleleh juga tanpa aku minta.
Aku mengusap air mataku yang menetes, aku terduduk lemas di kursi tunggu yang paling ujung.
"ya Allah sembuhkan lah istri hamba, hamba mohon ya Allah! lirih aku di sela-sela tangis ini
__ADS_1
Akhirnya dokter keluar dari kamar itu, lalu aku berlari ke sana.
"Dokter bagaimana dengan keadaan anak saya? tanya papa
Lalu dokter itu menghembuskan nafas panjang, "Dengan sangat berat hati, kami mengonfirmasikan bahwa, putri bapak...!
"Apa dok? tanya aku mendesak dokter
"Dari hasil yang telah kami dapatkan kemungkinan besar putri bapak tidak akan lama lagi usianya! ujar dokter itu
Tidak mungkin, tidak mungkin Siti....
"Tidak dok! ujar aku mendobrak pintu ruangan itu, aku berlari mendekati istri yang baru saja aku nikahi.
"Sayang bangun, tolong bangun, sayang! ujar ku mengguncang-nguncang tubuh Siti.
Aku menangis di pelukan istri kecil ku, "tolong jangan tinggalkan aku! lirih ku.
"Nak! ujar mama yang sudah berada di belakang aku.
"Mama ini salah aku, seandainya aku tidak menerima bantuan dari Siti, mungkin Siti akan baik-baik saja sekarang! ujar ku
"Kamu tidak salah nak, Siti membantu kamu dengan niat ikhlas, jangan salahkan diri kamu! ujar mama
Aku kembali melihat Siti yang sangat pucat, bibir yang dulu warna pink kini sudah pucat, wajah yang dulu ceria, kini sudah hilang sirna begitu saja.
"Nak bangunlah sayang, mama dari kemaren menunggu kamu nak! lirih mama.
Sementara papa Diningrat hanya bisa diam menatap Siti, sambil menenangkan mama.
"Berjuang lah nak melawan masa koma mu ini, papa akan selalu di samping mu nak, nak papa sangat hancur melihat putri papa terbaring lemas seperti ini.
"Bangunlah nak, papa rindu dengan suara kamu, bangunlah nak, bangunlahhhh!
...
bersambung....
...----------------...
Maaf ya baru bisa update
Semoga kalian tidak meninggalkan author sendirian.
(sebelum membaca cerita ini author mau kasih tau kalau cerita ini hanya khayalan semata yang author rangkai menjadi sebuah cerita, jadi kalau alur atau jalan cerita nya agak sedikit berbeda author minta maaf sebesar-besarnya π)
(Author baru pemula untuk merintis cerita ini, semoga cerita author banyak yang minat)
(Kalau author jarang update berarti author lagi sibuk sama urusan sekolah, sekali lagi author kasih tau kalau pembuat cerita ini anak sekolahan, kurang dan lebihnya hanya itu saja yang author sampai kan!)
Makasih ya atas dukungan nya, sedikit terobati hati author yang sempat sedih iniπ
semoga kedepannya bertambah banyak dukungan dari kalian π
__ADS_1