
Suara musik yang begitu semarak memenuhi seluruh Bar . Ada yang sibuk berjoget ria dengan pasangannya , ada yang bernyanyi , bahkan ada pula yang asik bercumbu dengan gadis penghibur yang ada di sana .
Tampak dua orang gadis sedang asik menikmati segelas anggur sambil asik menggoyang kan badannya . Disamping nya ada juga dua lelaki asing yang sedang serius membicarakan sesuatu dengan mereka .
Vany duduk di sebuah sofa yang agak terpojok . Yuri mengikuti langkahnya dan juga menghenyakkan pantatnya di sofa yang sangat lembut . Ia memesan sebotol anggur setelah sebotol anggur pertama ludes di habiskannya .
Tampak kedua lelaki asing tadi pun mengikuti mereka duduk . Mereka berempat sudah tampak sangat mabuk .
"Pokoknya Yan Loe harus segera selesain tugas yang Gue kasih " Vany mengingatkan lelaki yang bernama Ryan .
" Loe tenang aja . Kapan Loe minta Gue selesain ?" Tanya nya menantang .
" Gue denger , Lusa Ilham bakal pergi keluar Kota . Nah saat itu Loe harus beraksi . Loe harus habisin cewek jalang itu . Gue udah gak sabar nunggu kabar kematian nya " Vany tersenyum licik . Ternyata Ia menyuruh seorang pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa Zahra .
" Ingat ya bayaran Gue " Katanya .
" Berapa pun yang Loe mau bakal Gue kasih " ucapnya sombong .
" Heh , Kalo untuk Gue yang udah ahli ini . Ngebunuh orang itu urusan gampang . sekali sikat langsung melayang nyawa nya . Tapi ini pekerjaan bahaya kan , Jadi gue gak mau di bayar pake uang " Ia memandang tubuh Vany dengan tatapan lapar .
__ADS_1
" Loe uang gak mau , Jadi mau di bayar pake apa ?" Kini Yuri yang menanggapi . Heran apa yang diinginkan Ryan sebagai bayarannya jika bukan Uang .
"Loe minta apa Yan ? Pasti mereka berdua bakal ngasih ." Fandi ikut nimbrung . Dia lah orang yang sudah mengenalkan Ryan pada mereka berdua sebagai seorang pembunuh bayaran .
Ryan masih menatap lekat tubuh montok Vany . Ia menelan ludah nya melihat Vany yang mengenakan baju yang sangat seksi . Kaos ketat dengan leher model v yang sangat rendah sehingga menampakkan belahan dadanya yang besar . Serta celana hotpan yang sangat pendek . Pahanya yang di umbarnya benar benar memancing nafsu lelaki normal seperti Ryan .
" Gue mau Loe bayar Gue pake tubuh Loe " Ucap nya nakal . Vany terperanjat mendengar ucapan Ryan .
" Hah ? Gila Loe . Ogah " Tolak nya mentah mentah .
" Yaudah kalo Loe gak mau . Gue gak bakal bunuh tu cewek " Ungkapnya .
" Daripada rencana kita gagal Van . Mau aja " Bujuk Yuri . Vany tampak berfikir . Yang bener aja dia harus memberikan tubuh seksi nya sama cowok jelek kayak si Ryan ini . Haisss .
" Gimana Van ? " Tanya Ryan memastikan . Vany memandang Yuri . Yuri memberi isyarat agar Ia menerimanya .
" Kalo Loe nolak si Ryan , Gue udah gak punya kenalan lagi yang bisa ngerjain tugas dari Loe "
" Yauda deh . Malam setelah Loe berhasil ngabisin nyawa cewek jalang itu , Gue bakal muasin Loe " Kata Vany akhirnya .
__ADS_1
Ryan tertawa senang . Ia sudah sangat mengharapkan semua nya segera terjadi .
" Heh . Ini foto Zahra . Di rumah itu kalo Ilham pergi , hanya ada Zahra dan pembantunya . " Vany menyerahkan selembar foto kepada Ryan .
" Cantik Juga ya " Gumam Ryan .
" Kalo Loe mau , Loe bisa nikmatin Dia dulu sebelum bunuh dia . Jadi Gue gak perlu muasin Loe lagi " Vany mengompor ngompori Ryan agar Ia tak jadi meminta tubuhnya .
" Heh . Mau Gue apain Dia sebelum Gue bunuh itu urusan Gue . Yang penting Loe harus tetep kasih tubuh Loe ke Gue " Ryan meremas kuat pantat Vany yang tertutup hotpant nya .
Vany mendengus kesal . Tapi Ia sedikit senang karna sebentar lagi Zahra akan tiada .
"Pembantunya sekitar umur 30-an . Jadi Loe jangan sampai salah orang . "
" Oh Iya , Kamar Zahra ada di lantai atas " Tambah nya lagi .
" Siap Sayang " Ryan melayangkan sebuah ciuman kilat di bibir Vany .
" Kurang ajar Loe " Ia meninju keras dada Ryan . Ryan hanya mampu meringis merasakan sakit di dadanya .
__ADS_1
~ ~ ~