
Sementara Dimas, sudah bisa menebak apa yang membuat bosnya itu tertawa. Menggeleng - gelengkan kepalanya.
Mau bercerai tapi semakin mesra.
Rama berdiri dari duduknya lalu menghampiri laki - laki paruh baya yang membalas kiss bye kekasihnya.
Entah apa yang Rama katakan pada laki - laki itu sehingga laki - laki paruh baya itu meminta maaf padanya.
Rama melangkah kembali ke meja tempat para sahabatnya tadi. Pesanan mereka sudah datang, lalu menyantap makanan yang mereka pesan sampai habis.
Tak lama merekapun pergi meminggalkan restoran.
Nana : [Selamat bekerja sayang, cari uang yang banyak ya, I love u], Nana mengirim pesan setelah melihat kekasihnya pergi dari restoran tempatnya bekerja.
Rama : [Cinta padaku tapi kau main gila denagn kakek tua]
Nana : [Jangan menggodaku, kau menyebalkan]
Rama tersenyum melihat ponselnya..
"Kau ini kenapa, tertawa sendiri, senyum senyum sendiri" tanya sahabatnya Rian. "Kau tidak selingkuh kan? " lanjutnya. Dimas dan Damar hanya diam. Rama tidak menjawab pertanyaan sahabatnya, dia hanya melihat sekilas lalu mengabaikannya.
.
Ya, sahabat Rama belum ada yang tahu tentang pernikahannya, apalagi dia tidak pernah mengajak Nana untuk menghadiri acara apapun. Pernah Mama Silvi menyuruhnya untuk membawa Nana tetapi Rama lebih memilih untuk tidak menghadiri acara itu. Mama Silvi yang sudah mengerti tidak lagi meminta Rama untuk membawa Nana.
Dan tanpa sepengetahuan Rama dan mama Silvi. Nana mendengar percakapan mereka. Namun Nana memgabaikannya.
Nana : [Sayang, nanti jemput aku ya, aku pulang jam lima]
"Langkah kelima, buat dia merasa dibutuhkan. action" gumam Nana.
Dan sejak itu Mereka sering berangkat bersama dan pulang bersama.
*
*
Waktunya pulang.
Nana celingak - celinguk setelah keluar dari restoran. Rama belum terlihat. Menunggu sepuluh menit. Rama belum juga terlihat batang hidungnya. Nana memutuskan untuk pulang sendiri.
Nana : [Aku pulang ya] begitulah bunyi whatsapp-nya.
Nana memasukkan kembali ponselnya dengan langkah gontai ia melanjutkan perjalanannya. Jarak restoran dan apartemen paling butuh waktu 10 sampai 15 menitan, Nana memilih untuk jalan kaki.
Tiba - tiba sebuah tangan besar melingkar di pinggangnya, membuat Nana terkejut dan berusaha melepaskan tangan itu sebelum ia tahu siapa pemiliknya.
"Sayang..... " mendengar suara itu, wajahnya berubah senang. Seketika menoleh ke arah pria di sampingnya.
__ADS_1
"Mas Rama, mengagetkanku saja" serunya sembari tersenyum lebar. Mereka melangkah bersama dengan tangan Rama melingkar di pinggangnya. Mereka sesekali tertawa entah apa yang mereka bicarakan, Rama tampak bahagia.
"Mas Rama sadar tidak sih? "
"Apa?" tanya Rama mengerutkan keningnya.
"Mas Rama tampan"
"Kekasihku ini sudah pintar merayu ya" Rama tersenyum lembut.
Aku sedang melaksanakan langkah ke enam yaitu, beri dia pujian. Tapi mas Rama memang tampan, Mungkin kalau jadi aktor mas Rama bisa jadi pemeran utama karena ketampanannya.
"Mas Rama suka dirayu? " Rama tampak berpikir kemudian mengangguk. "Kalau begitu aku akan siap memberikan rayuan mautku" mereka tertawa bersama dengan arti yang berbeda.
Rama menikmati kebersamaannya dengan Nana, saat sebagai pasangan suami istri hubungan mereka terasa hampa.
*
*
Malam Hari.
Rama membelikan Nana gaun untuk pertama kalinya. Gaun yang masih sopan untuk dipakai Nana. Gaun berlengan pendek dan panjangnya sampai ke bawah.
Nana memakai gaun yang dibelikan Rama, warna dusty sangat manis dikulit putihnya. Rambutnya ia urai begitu saja.
"Terima kasih"
"Gaunnya" ucap Rama santai yang berhasil membuatnya cemberut. Mencebikkan bibirnya kesal mendengar godaan Rama.
Rama mendekat lalu berjalan memutar ke arah belakang Nana. Tiba tiba lehernya terasa dingin. Rama memakaikan kalumg liontin di lehernya.
"Sekarang kau kelihatan sangat cantik" puji Rama membuat Nana tersipu malu.
"Sungguh, mas Rama tidak menggodaku kan?" tanya Nana malu - malu.
"Mau bukti? " tanpa berkata lagi Rama mencium kening Nana, hidung, mata terakhir ia mengecup bibirnya.
Nana diam menerima setiap sentuhan Rama.
"Cukup dulu, nanti lipstikmu rusak"
Bukannya menjawab Nana berhambur memeluk Rama. ingin sekali ia mengatakan, 'bisakah seperti ini selamanya, jangan ceraikan aku' tapi itu hanya terucap di hatinya.
Nana melepaskan pelukan hangat itu lalu tersenyum lembut.
"Ayo kita berangkat, aku sudah lapar" ucapnya berusaha menutupi kesedihannya.
"Dasar, merusak suasana romantis saja" gerutu Rama pura - pura kesal.
__ADS_1
Nana tertawa pelan, lalu menggandeng tangan Rama melangkah keluar dari dalam apartemen.
Mobil melaju ke restoran yang sudah dipesan Rama. Makan malam romantis di atas rooftop. Ini makan malam pertama mereka selama setahun menikah.
Meja makan sudah penuh dengan makanan yang mereka pesan. Nana menyuapi kekasihnya, Rama menerima suapan itu dengan senang hati. Tersenyum, tertawa, hubungan mereka semakin akrab bahkan terlihat mesra, siapapun yang melihatnya akan merasa iri dengan pasangan romantis itu.
"Aku mencintaimu" ucap Nana sembari menyuap makanan ke dalam mulut Rama.
Reflek Rama membalas ucapannya. "Aku juga mencintaimu" Rama belum menyadari ucapannya, namun bagi Nana itu sangat berarti, meskipun itu hanya pura - pura.
*
*
Hari masih pagi, bahkan matahari belum keluar dari peraduannya. Namun wanita cantik itu sudah bersiap untuk mengajak kekasihnya yang semalam tidak mau disuruh pulang untuk olahraga pagi.
Akhirnya baju couple olahraga yang mereka beli bisa terpakai juga. Nana sudah rapi dengan baju olahraganya. Dengan semangat Nana mengetuk pintu kamar laki - laki pujaan hatinya. Berkali - kali mengetuk belum ada pergerakan dari dalam kamar.
Mencoba membuka pintu. Tidak terkunci. Nana masuk ke dalam kamar. Ini bukan pertama kalinya Nana masuk ke dalam kamar Rama, biasanya ia masuk untuk membersihkan kamar ini.
Masalahnya sudah lama ia tidak sekamar dengan laki - laki yang masih terbaring di tempat tidur.
"Huft... Kenapa kau masih tidur" gerutu Nana menendang kecil kaki Rama dengan satu kakinya. "Heh.... bangun..... bangun.... " Rama belum bergerak sedikitpun.
Nana lebih mendekat, melihat Wajah tampan kekasihnya meskipun sedang tertidur ketampanannya tidak berkurang sedikitpun.
"Belum mandi saja masih begitu tampan" gumam Nana, ia mengulurkan tangannya, lalu memencet hidung Rama sembari terkekeh kecil.
Greb
Tangan besar tiba - tiba merengkuh pinggangnya membuat tubuhnya jatuh tepat diatas Rama, jarak wajah mereka begitu dekat. Wajah Nana sudah memerah sembari menggigit bibir bawahnya.
"Nakal... " ucap Rama lalu membalik tubuh Nana sehingga berada dibawah tubuhnya.
Nana masih terdiam, jantungnya sudah seperti gendang yang ditabuh.
"Ada apa dengan jantungmu" goda Rama. Dapat ia rasakan tubuh kaku istrinya itu.
"Aku.... aku.... "
"Aku merindukanmu, bolehkah"
Blush
Rama meminta haknya, Nana tidak bisa menjawab lidahnya terasa kelu, namun kepalanya mengangguk. Ternyata hati dan mulutnya berkata lain.
Mendapat lampu hijau, Rama langsung melakukan aksinya sebelum wanita cantik dibawahnya berubah pikiran.
Akhirnya sesuatu yang sudah lama tidak mereka lakukan terjadi juga. Mereka melakukan kembali hubungan yang memang sudah sah dari awal. Bisa bayangkan kan apa yang terjadi selanjutnya. uwik uwik...
__ADS_1