Aku Kekasih Suamiku

Aku Kekasih Suamiku
Bab 26 Aku menolak


__ADS_3

"Papa, kali ini jangan dukung mama untuk melakukannya" kegelisahan hatinya tak bisa ia redam, ia tak mau statusnya berubah lagi, menghubungi papanya adalah jalan satu - satunya. Rama meminta bantuan papanya, ia yakin mama tidak akan melakukannya tanpa persetujusn papa.


"Ada apa denganmu boy, kalian sudah bercerai anggap saja menjaga silaturahmi" sahut papa santai, sebenarnya ia khawatir putranya akan mengikuti jejaknya, menyesal setelah kehilangan.


"Rama serius pa"


"Kalau begitu ikuti saran mamamu, menikahlah dan beri kami cucu" mengikuti syarat istrinya meskipun sebenarnya ia tidak setuju namun keinginannya sama ingin putranya itu sadar sebelum terlambat.


Huft.... menghela nafas berat. "Baiklah, Rama akan menikah"


"Tentukan pilihanmu boy, jangan sampai ada penyesalan"


*


*


"Terima kasih mas, mbak" ucap Nana pada customer yang membeli ponsel padanya seraya menyerahkan barangnya.


"Nana, ada yang mencarimu? " panggil salah aatu temannya.


"Siapa? " tanya Nana bingung.


"Tuh" tunjuk ola dengan kepalanya.


Nana melihat ke arah yang ditunjuk oleh Ola.


Damar. Untuk apa dia datang menemuiku.


"Ola, bantu aku ya, bilang padanya, aku sibuk melayani pembeli, tidak bisa diganggu" Nana memberi alasan karena ingin menghindari Damar, ia merasa tidak punya urusan dengan laki - laki itu.


"Oke" ucap Ola seraya mengangkat tangannya.


Lima menit kemudian.Ola kembali "Nana katanya dia mau beli ponsel, minta kamu yang layani"


"Alasan saja, awas kalau tak beli ponsel" sungut Nana, berjalan menuju Damar yang masih berdiri di dekat pintu toko.


Disebelah toko ponsel ada sebuah restoran yang masih baru buka, Damar membawanya kesana, rasanya tidak enak mengobrol sambil berdiri.


Mereka duduk berhadapan, Nana meletakkan kedua tangannya di depan perut. Tatapannya tajam, sangat jelas terlihat ketidaksukaan dari wajahnya.


"Kau tampak berbeda dari terakhir kita bertemu" kata Damar setelah lama terdiam.


Nana tak menggubris ucapannya"Ada perlu apa? waktumu sepuluh menit" sahut Nana tegas.


"Kau pelit sekali, Apa kau baik - baik saja"


"Apa kau berharap aku tidak baik - baik saja" balas Nana.


"Kenapa balik bertanya? "


"Kau bisa lihat sendiri, dan ya kita tidak sedekat itu, jadi jangan sok akrab padaku"


"Aku pikir kau wanita lemah lembut, ternyata kau temperamen" sindir Damar.


"Apa kau punya dendam padaku? Aku tahu kau tidak menyukaiku, jadi jangan berpura - pura baik dihadapanku"


"Ternyata kau pendendam"


"Terima kasih atas pujiannya" jawab Nana sinis.


"Maaf, aku salah paham padamu" Damar merasa apa yang dilakukannya dulu salah, menyuruh seorang istri untuk melepaskan suaminya demi kekasihnya.

__ADS_1


"Sepertinya kau sudah tahu" tebak Nana.


"Hemm... "


Nana menghela nafas panjang. "Heh, tidak ada yang perlu dimaafkan, dan kau juga tidak perlu minta maaf, tidak ada yang salah disini, hanya takdir saja yang mempermainkan kita"


"Tetap saja aku pernah mengatakan yang tak seharusnya aku katakan terhadap seorang istri"


"Kau melakukannya karena menyayangi mereka, jadi aku bisa memahami itu" jawab Nana bijak.


"Terima kasih sudah berbesar hati"


"Waktumu sudah habis, bisa kita transaksi sekarang"


"Transaksi? "


"Kau bilang mau membeli ponsel" sahut Nana melotot.


Damar menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Itu hanya alasan agar kau mau menemuiku"


"Dan aku percaya padamu"


"Tapi aku tak berniat membeli ponsel" mengangkat ponselnya. "Aku sudah punya"


"Kau mau ingkar janji? kau membuang waktuku, aku bukan orang kaya seperti kalian, bagiku waktu adalah uang"


"Baiklah, aku akan beli"


Kena kau, teknik penjualanku semakin baik.


Nana tersenyum kecil. Mengeluarkan brosur yang sudah ia bawa dari tadi.


"Nih... pilih yang ingin kau beli"


"Yang ini" tanya Nana kembali, memastikan ponsel yang dibeli Damar seharga delapan jutaan.


"Ya, ada masalah? "


Tentu saja tidak, aku sangat senang.


"Tidak... tidak... " Nana tersenyum lembut. "Mari tuan kita lakukan pembayaran" ucap Nana sembari berdiri.


"Ck... kemana keangkuhanmu tadi, kau tiba - tiba ramah" sindir Damar.


Nana mengabaikan ucapan laki - laki yang menjadi pelanggannya itu. "Mungkin itu yang dinamakan uang bisa merubah segalanya tuan" ucap Nana lalu berjalan di depan diikuti Damar.


Kau wanita yang menyenangkan, pantas saja Rama menyukaimu.


Damar tersenyum manis, setelah beberapa detik senyumnya luntur.


"Kenapa ponselnya dua, aku hanya membeli satu" tanya Damar.


"Harganya sama saja" ucap Nana santai. Nana memberinya dua ponsel dengan harga yang sama dengan ponsel yang dipilih Damar sebelumnya.


"Tapi ponselnya berbeda, kwalitasnya pun pastinya beda" Damar tetap kekeh dengan pendiriannya.


"Kalau dua bonusnya lebih banyak" sela Nana membuat Damar terdiam.


"Tapi... "


"Sudahlah, ponsel lamamu lebih bagus, untuk apa ponsel banyak, satu saja cukup"

__ADS_1


Damar tercengang dengan jawaban yang diberikan Nana. Siapa yang tadi menyuruhnya membeli ponsel. Ia menarik kata - katanya kembali.


Kau wanita yang menyebalkan.


"Kau balas dendam padaku nona"


"Kenapa berpikir seperti itu, untuk apa dendam hanya merusak hati saja, aku hanya sedang bekerja tuan Damar" Nana tersenyum penuh arti.


Damar tak mampu berkata - kata lagi, ia menyerah untuk berdebat dengan mantan istri sahabatnya itu.


Wanita yang unik


*


*


Semenjak itu Damar sering menemui Nana meskipun sering Nana tolak.


Nana keluar dari toko tempatnya bekerja. Dia melihat mobil yang setiap hari menunggunya pulang kerja.


"Sebenarnya apa maunya, kenapa selalu menggangguku" gumam Nana kesal.


Tit


Tit


Bunyi klakson mobil dari mobil laki - laki yang beberapa hari ini mengganggunya.


"Masuklah, aku akan mengantarmu" kata Damar setelah melihat Nana melewati mobilnya.


"Terima kasih"


"Ayolah, aku butuh bantuanmu" Damar masih memaksanya.


Nana menghembuskan nafas kasar. "Apa yang bisa kulakukan untukmu"


"Masuklah dulu, aku akan menceritakannya di dalam mobil"


Dengan langkah terpaksa Nana masuk ke dalam mobil Damar dan duduk dikursi depan.


"Apa yang harus ku bantu? " tanya Nana masih kesal, dia tidak habis pikir dengan sahabat mantan suaminya ini. Mungkin kalau dia masih istri Rama Nana akan berpikir Damar mengajaknya selingkuh.


"Aku akan membuka usaha disini?" Ucapnya setelah mobil melaju ke jalan raya.


"Lalu?"


"Aku minta bantuanmu untuk mengurus usahaku"


"Maksudmu kau mau menjadikanku karyawanmu"


"Bisa dibilang sebagai asisten"


"Wah... mimpi apa aku semalam sehingga bisa jadi asisten dengan ilmu dibawah rata- rata"


"Kau terlalu merendah" puji Damar tulus.


"Tapi maaf, aku menolak. Aku karyawan setia dan aku adalah aset berharga ditempatku bekerja. Jadi buang jauh - jauh pikiranmu untuk menyogokku"


Baru saja dipuji, sekarang angkuh lagi. Benar - benar nih wanita.


*

__ADS_1


*


Pak Jo : [ Bos akhir - akhir ini sepertinya ada yang menghalangi saya untuk mengawasi nyonya, ada seorang laki - laki yang sering menemuinya tapi saat ini saya belum bisa mengambil gambar laki - laki itu] begitu pesan yang dikirim anak buahnya beserta foto -foto Nana dan laki - laki itu meskipun wajahnya tak terlihat.


__ADS_2