Aku Kekasih Suamiku

Aku Kekasih Suamiku
Bab 14 Aku yang terkejut


__ADS_3

"Meja 18" seru Kity.


"Oke mbak" jawab Nana. Dia mengantarkan makanan yang di pesan pelanggan ke meja yang disebut mbak Kity tadi.


Hari ini lebih ramai dari biasanya, hanya di jam makan saja restoran akan sangat ramai seperti sarapan, makan siang dan makan malam, tapi mulai restoran buka sampai waktu makan siang tiba, bahkan ini sudah jam satu, Nana belum istirahat.


"Aaaa.. .. " Mbak Kity menyuapi Nana sepotong kue. "Ganjal dulu perutmu, kita belum bisa istirahat, hari ini sangat ramai" Lanjut Kity yang juga merasa kelelahan.


"Makasih mbak" jawabnya sembari mengunyah makanannya. Setelah habis Kity menyuapinya lagi sebelum Nana pergi untuk melayani pelanggan baru.


Waktu berlalu, pelanggan sudah mulai berkurang, para pelayan bergantian untuk istirahat, sholat dan makan siang yang terlambat.


"Di depan ada yang mencari mbak Nana, meja 20" Ucap salah satu temannya saat Nana baru saja selesai makan.


"Siapa?" tanya Nana penasaran.


"Tidak tahu mbak, tampan dan berjas rapi" jawab teman Nana itu.


Mas Rama.


"Terima kasih" Ucap Nana senang. Berdiri melangkah menuju meja 20.


Seorang laki-laki memunggunginya, Nana tidak bisa melihat wajah laki - laki itu.


Sepertinya bukan mas Rama, lalu siapa yang menemuiku, aku tidak punya kenalan disini.


"Permisi.... " Sapa Nana sopan. Laki - laki itu mendongak seraya tersenyum.


"Duduklah" Nana terlihat tidak nyaman. "Tidak apa - apa aku sudah meminta ijin pada menajermu" Ucap laki - laki itu.


Dengan canggung Nana duduk di depan laki - laki itu. Ada aturan disana yang melarang pelayan duduk bersama pelanggan disaat jam kerja.


Nana masih menatap canggung pada laki - laki itu, karena mereka tudak saling mengenal sebelumnya.


"Perkenalkan Damar, sahabat Rama" laki - laki itu memperkenalkan dirinya.


"Nana"


"Aku tidak suka berbasa - basi, aku tidak tahu dari mana kau muncul tapi kau bukanlah wanita yang bisa keluar masuk dalam kehidupan Rama" Ucap Damar membuat Nana terdiam.


Sahabatnya saja tidak tahu tentang hubungan kita. Miris sekali.


"Rama sudah punya kekasih dan mereka saling mencintai, jangan membuat dirimu teluka dengan tetap bersamanya" Lanjut Damar.


Nana hanya diam, dia bingung harus menjawab apa.


"Pikirkanlah" Damar berucap kembali setelah beberapa menit terdiam.

__ADS_1


"Terima kasih sarannya, akan aku pertimbangkan, selamat menikmati" Setelah mengucapkannya, Nana pergi dari hadapan Damar.


Nana memegang dadanya setelah tidak terlihat orang lain. Ingin menangis namun berusaha ia tahan. Orang lain tidak perlu tahu permasalahannya.


*


*


Langkah pertama percaya diri dan berpikir positif, Nana mengabaikan ucapan sahabat Rama yang bernama Damar itu.


Memangnya dia siapa, berani menilaiku, aku hanya seorang istri yang ingin mempertahankan rumah tangganya.


Hari ini Nana masuk siang, dia akan mengunjungi Rama di kantornya, ia sudah mengantongi alamat Rama dari Dimas, patner Rama yang selalu ikut dengannya. Nana pikir Dimas adalah wakilnya karena mereka sering terlihat bersama.


Saatnya melaksanakan langkah ke tujuh yaitu memberi kejutan.


Nana membawa makan siang yang ia masak sendiri tadi saat di apartemen.


Nana memberitahu sopir taxi alamat yang ia tuju, setelah sampai Nana turun dari taxi.


"Wauuu.... Jadi di gedung tinggi ini mas Rama bekerja, hebat sekali bisa bekerja di perusahaan besar, pantas saja mas Rama beruang gajinya pasti besar" Gumam Nana melihat gedung yang sama yang ia lihat beberapa minggu yang lalu.


Melangkahkan kakinya masuk ke dalam menuju resepsionis, ia lupa menanyakan Rama bagian apa pada Dimas.


"Permisi, Saya mau bertemu tuan Rama" Ujar Nana pada receptionist cantik itu.


Harus jawab apa? Aku kan mau memberi kejutan. Kalau bilang tidak nanti aku disuruh pulang.


Saat lama berpikir, Dimas berjalan ke arahnya dari arah belakang.


"Nona Nana, mari ikut saya" Nana menoleh kebelakang ke asal suara yang memanggilnya.


Dimas, syukurlah, kau menyelamatkanku.


"Baiklah" Menatap reseptionist itu kembali sembari tersenyum lalu mengikuti langkah Dimas yang sudah melangkah terlebih dahulu. Di luar Dimas akan memanggilnya Nona karena tidak ada yang tahu pernikahan mereka.


Saat menaiki lift khusus, Nana merasa aneh.


Apa jabatan mas Rama lebih tinggi dari kepala manajer.


Keluar dari lift Nana mengikuti Dimas kembali menuju satu ruangan disana.


Pikiran Nana sudah kemana - mana, sepertinya selama ini ia sudah salah sangka, jabatan Rama bukan jabatan biasa.


Dimas mengetuk pintu.


"Masuklah Nona" ucap Dimas membuyarkan lamunannya. Dengan kaku Nana masuk ke pintu yang sudah dibuka lebar oleh Dimas.

__ADS_1


Deg


Apa yang ia pikirkan benar, Rama memiliki jabatan tinggi disana. Laki laki yang duduk di kursi besar itu belum menyadari keberadaan wanita dihadapannya, mungkin Rama pikir dia Dimas.


Kaca mata membingkai matanya, sangat jelas terlihat Rama seorang pekerja keras, berbeda dengannya yang suka bermain - main sehingga mencari pekerjaan kantoran pun susah ia dapatkan. Mungkin sudah nasibnya jadi pelayan.


Dengan langkah pelan ia berjalan ke arah Rama.


"Hi..... " Sapanya canggung. Rama menoleh ke arahnya, sedikit terkejut melihat kekasihnya berada disana.


Mereka sama - sama terkejut.


"Kau kesini, kenapa tidak memberitahuku" tanya Rama, ini pertama kalinya Nana mendatangi kantornya.


"Aku.. "


"Ayo duduklah" Menarik tangan Nana kemudian mendudukkannya di sofa di sampingnya. "Kau membawa makan siang, kebetulan sekali aku lapar" Rama bisa menebaknya dari kotak bekal yang Nana bawa.


Nana membuka kotak makan siang yang ia bawa. " Makanlah.... "


"Suapi dong sayang" pinta Rama manja.


"Cih.... Manja sekali" cibir Nana. Mas Rama yang biasanya cuek ternyata bisa manja juga.


Rama makan dengan lahap sepertinya dia memang lapar.


"Pekerjaanku sangat banyak, aku tidak sempat untuk istirahat" ucap Rama setelah menghabiskan makan siangnya. Nana membersihkan sisa makanan yang tercecer dimeja, lalu memasukkan kembali kotak bekalnya ke dalam tas kecil yang ia bawa.


"Sebenarnya aku kesini ingin memberi kejutan, tapi sepertinya aku yang terkejut" ucap Nana jujur lalu tertawa miris.


"Apa yang kau pikirkan? " tanya Rama mengerti arah pembicaraan kekasihnya itu.


"Kau direktur atau pemilik perusahaan" tanya Nana tidak mau terus penasaran.


"Keduanya salah" jawab Rama. Nana mengerutkan keningnya.


"Lalu apa yang kau lakukan di ruangan besar ini, kau meminjam ruangan orang lain?" Tanya Nana polos.


"Aku ceo disini dan bukan pemilik perusahaan, karena perusahaan ini masih milik ayahku" jawab Rama santai dengan senyum tipis.


Mulut Nana menganga. Horang kaya pikirnya. Nana masih terpaku ditempatnya.


Melihat kekasihnya terdiam, Rama menutup mulut Nana yang menganga kemudian mengecupnya singkat, membuat Nana tersadar dari keterkejutannya.


"Jangan terlalu banyak berpikir" Rama menyentil kening wanita disampingnya.


Sekarang aku merasa rendah dihadapanmu, aku minder berada disampingmu, pantas jika pernikahan kita kau sembunyikan. Siapalah aku.

__ADS_1


Nana tersenyum lembut, sekarang pikirannya bimbang.


__ADS_2