Aku Kekasih Suamiku

Aku Kekasih Suamiku
Bab 8 Melamar pekerjaan


__ADS_3

Mendengar ucapan yang keluar dari wanita cantik di depannya Rama merasa dilema. Satu sisi hatinya belum mencintai Nana. Tapi sisi lain dia sudah setuju untuk menjadi kekasih Nana selama satu bulan, diperjanjian itu tertulis, bersikap seperti kekasih yang saling mencintai.


Rama masih terdiam belum membalas ucapan Nana. Hati Nana merasa tercubit, Rama tidak mau mengatakannya meskipun hanya sekedar pura - pura.


Nana yang sudah mulai baper , segera mengalihkan tatapannya lalu melanjutkan memakan Eskrimnya sampai habis.


"Ada tempat yang masih ingin kau kunjungi"


"Tidak ada " jawab Nana pelan.


"Kalau begitu, kita langsung pulang saja" ujar Rama. Nana mengangguk.


Di depan gedung apartemen.


"Terima kasih untuk hari ini" ucap Nana sebelum membuka pintu mobil.


"Emmm... "


Rama menarik tangan Nana sebelum mereka turun.


Cup


"Kita akan melakukannya setiap akan berpisah, sepasang kekasih biasanya seperti itu" ucapan Rama membuat Nana tersipu malu.


Rama masih menatap wanita yang wajahnya sudah memerah, perlahan Rama mendekatkan bibirnya pada bibir wanita disampingnya.


Tiba - tiba bibir mereka sudah bersentuhan, Nana tidak menolaknya, karena jujur ia merindukan sentuhan Rama yang setiap malam selalu membuatnya mabuk. Bibir mereka saling bertaut, *******, tautan bibir itu terlepas ketika mereka kehabisan nafas. Rama menyentuh bibir Nana yang masih basah.


"Mau lanjut?" goda Rama, seandainya Nana mau dia tidak aka membuang kesempatan itu, toh mereka masih sah. Rama laki - laki normal.


"Kita hanya pacaran, tidak boleh melewati batas" tolak Nana dengan wajah merahnya.


Rama tertawa lepas mendengar jawaban istrinya. "Keluarlah, sebelum aku berubah pikiran"


"Baiklah aku keluar" jawab Nana kikuk segera keluar dari dalam mobil tanpa menoleh lagi.


*


*


Rama meninggalkan apartemen menuju rumah yang ia tempati bersama Nana. Rasanya malas untuk kembali ke kantor.


Rama membuka pintu utama, melangkah masuk lebih ke dalam. Suasana rumah tampak sepi, biasanya ada istrinya yang selalu menyambutnya.


Melanjutkan langkahnya naik ke lantai dua, berjalan menuju kamar. Membuka jasnya lalu masuk ke kamar mandi, agar tubuhnya lebih segar.


Keluar dari kamar mandi, tatapannya tertuju ke atas ranjang, biasanya sudah ada baju ganti tergeletak disana.


"Sepertinya aku terlalu bergantung padanya" gumamnya pelan sembari melanjutkan langkahnya kembali menuju walk in closet, mengambil baju santai dan celana pendek untuk ia kenakan.


Kakinya membawanya menuju balkon, melihat sunset yang sebentar lagi akan tenggelam. Tatapannya jauh, entah apa yang Rama pikirkan.


Rama menghubungi seseorang. Tiba - tiba saja ia teringat orang itu.


"Halo.... sayang.... aku sangat merindukanmu" jawab orang itu dari sambungan teleponnya.

__ADS_1


"Aku juga merindukanmu, bagaimana kabarmu?" tanya Rama


"Aku baik, sebentar lagi aku akan pulang, sabarlah menungguku, aku mencintaimu"


"Hemmmm..... aku juga mencintainmu"


"Ingat jangan terlalu dekat dengan wanita lain"


"Hemmm...... "


"Baiklah, sampai jumpa sayang" sambungan pun terputus.


Maaf, aku menyakitimu, tanpa aku sadari aku selingkuh darimu, aku akan menebusnya jika kau masih mau bersamaku.


*


*


Malam ini sungguh indah dan memabukkan. Sudah sejak tadi, Nana berguling guling di atas ranjang, dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya, kadang tertawa sendirian.


Orang yang melihatnya mungkin akan meragukan Kewarasannya.


"Langkah ketiga yaitu tersenyum dan lakukan kontak mata. Tadi bukankah aku sudah tersenyum dan saling tatap. Langkah ketiga berarti selesai.


"Lanjut langkah ke empat, gunakan kepribadianmu, ini maksudnya.... o.... menunjukkan kesamaan seperti hobi" ucap Nana sembari membaca tulisan di ponselnya.


"Meskipun begitu, langkah sebelumnya harus tetap dilakukan" Nana mencari nama suamiku di dafta kontak. Rama langsung mengangkat teleponnya.


"Hallo.... selamat malam sayang" ucap Nana melalui sambungan teleponnya.


"Kau belum tidur?" melihat waktu diponselnya, ini sudah jam sebelaa malam.


"Belum.... aku merasa gelisah memikirkanmu" jawab Nana.


Deg


Pengakuan Nana membuat lidahnya kelu benarkah yang ia lakukan saat ini pikirnya.


"Kau merindukanku? " tanya Rama


"Sangat"


"Pulanglah, kita tinggal bersama" Rama heran setelah mengucapkannya, hati dan mulutnya tidak sejalan.


"Kalau aku pulang, mas Rama tidak akan merasakna perasaan rindu padaku, apa saat ini mas Rama merindukanku disana, apa mas Rama merasa kehilanganku"


"Rasanya hanya sedikit berbeda saja"


"Oooo..... " Nana kecewa mendengar ucapan Rama.


Kebersamaan mereka selama setahun ternyata tidak berkesan untuk Rama, dengan mudahnya Rama melupakan keberadaannya. Ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan. Lalu bagaimana dengan kehangatan yang Rama berikan saat di atas ranjang. Kenapa dia terlihat berbeda? Apa semua laki - laki seperti itu, bisa melakukannya tanpa cinta.


"Tidurlah, sudah larut" ucap Rama setelah lama terdiam.


"Ya, selamat malam" sambungan pun terputus.

__ADS_1


*


*


Wajah Nana tampak lesu. Wajah yang tadi dipenuhi kebahagiaan mendadak cemberut.


"Baru begitu saja aku sudah down, ini baru sehari aku sudah melow, apa menyerah saja ya.... " menarik selimutnya sampai batas dada.


"Tidak, aku harus semangat, ayo Takhlukkan targetmu" yang dibutuhkan Nana saat ini adalah dukungan. Tapi siapa yang akan mendukungnya. mama Silvi yang dekat dengannya saat ini berada di luar negeri mungkin satu bulan lebih, karena papa Yusuf harus menghandle kerja sama yang diluar negeri.


*


*


Keesokan paginya.


Seperti biasa setiap pagi ia akan menulis pesan untuk kekasih pujaan hatinya. Dengan bernyanyi riang Nana membereskan ruang tamu.


"Pesan - pesan sudah terkirim, hanya tinggal menunggu balasan ayang" Nana tersenyum lebar.


Hari ini ia akan mencari pekerjaan lagi.


"Benar nasehat ayah, belajarlah yang benar Nana, supaya nanti dapat pekerjaan yang bagus" Nana menirukan gaya ayah yang selalu menasehatinya. " Dan lihatlah sekarang, susah sekali mendapatkan pekerjaan, nilai sudah pas pasan, otak juga pas pasan, aaaaa..... "


Nana mendaratkan bokongnya ke sofa. "Kenapa dulu aku hanya sibuk bermain, melakukan hal yang tak berguna, benar penyesalan selalu di akhir, karena kalau di awal namanya pendaftaran"


Nana memutuskan untuk mencari pekerjaan kembali setelah bersiap- siap. Dia sudah mencari informasi lowongan pekerjaan dan sudah mencentang perusahaan mana yang akan ia tuju.


Sampai diperusahaan itu.


"Maaf nona yang kami butuhkan sekertaris bukan tenaga accounting" ucap pak personalia.


"Ya pak, terima kasih" jawab Nana sembari tersenyum.


Setelah satu jam ia sampai diperusahaan yang kedua.


"Kami memang membutuhkan tenaga keuangan tapi baru saja posisi itu sudah terisi, maaf nona"


"Baiklah pak" hanya kata maaf yang ia dapatkan hari ini.


"Sekarang tinggal perusahaan terakhir, semoga nasib baik datang padaku"


Setelah turun dari taxi, Nana melangkahkan kakinya masuk ke gedung itu sembari tersenyum. Senyum itu ibadah loh ya.


"Permisi mbak, saya mau.... " belum selesai perkataannya.


"Melamar pekerjaan" potong mbak di hadapannya.


"Ya mbak"


"Lurus saja, masuk ke pintu sebelah kanan"


"Terima kasih"


Wah sepertinya masih ada lowongan.

__ADS_1


__ADS_2