
Alfa yang pusing mencari Nana, sementara Nana terlelap dalam pelukan suaminya.
Tak lama pesawatpun mendarat dengan lancar dan aman. Getaran pesawat tak mampu untuk membuatnya terbangun, ia masih terlelap. Rama menggendong Nana untuk turun dari pesawat. Sampai di mobil asistennya sudah menunggunya disana.
"Urus dia!" perintah Rama tegas, Dimas menunduk tanda mengerti apa yang harus dia lakukan. Mobilpun melaju meninggalkan Dimas, Rama mengemudikan mobilnya sendiri. Ia langsung menuju hotel terdekat.
Nana belum terbangun juga meskipun mereka sudah sampai di kamar hotel.
"Tidurmu nyenyak sekali setelah membuatku tergoda" Rama menidurkan Nana di atas ranjang, membuka sepatu yang dipakainya.
Rama menyusul berbaring di sebelah Nana, dengan satu tanganya nenyanggah kepalanya. rama menatap wajah cantik istrinya, jarak mereka sangat dekat, Rama membelai pipi mulus istrinya.
Merasa ada yang mengganggu tidurnya, Nana membuka matanya. Saat membuka mata yang terlihat pertama kali adalah wajah tampan sang suami. Nana menatap Rama tanpa ekspresi, sementara Rama menampilkan senyum mautnya yang terlihat menggoda di mata Nana. .
Dengan gerakan cepat Nana mengangkat wajahnya lalu mengecup bibir Rama, saat Nana ingin meletakkan kepalanya kembali Rama menahan tengkuknya, ia tak membiarkan wanitanya melepaskan bibir mereka.
Rama ******* bibir wanitanya, ciuman itu semakin panas lama - lama berubah menjadi cumbuan. Gerakan saling menggoda dan membutuhkan dilakukan mereka. ******* merdu dari keduanya mulai terdengar, keringat membanjiri tubuh mereka. Mereka melakukannya berulang kali sampai terkapar lemas di atas ranjang. Rama memeluk istrinya setelah selesai mengeluarkan hasratnya. Hasrat yang tak bisa ia tahan saat berdekatan dengan sang istri.
*
*
Mentari pagi perlahan mengintip sepasang suami istri yang masih setia menutup matanya. Tak puas mengintip ia masuk di sela jendela untuk melihat pasanagn yang saling berpelukan itu. Mentari pagi merasa cemburu karena kehadirannya tak mendapatkan respon dari pasangan suami istri itu. Akhirnya dengan silau emasnya ia menyilaukan mata pasanagn itu sehingga mereka berdua perlahan membuka matanya.
Matahari berhasil akhirnya mereka terbangun secara bersamaan.
"Morning kiss" Ucap Rama dengan suara seraknya khas bangun tidur setelah mengecup bibir wanitanya sekilas.
Tanpa mengatakan apapun Rama menggendong wanitanya masuk ke kamar mandi, tidak ada hal lain yang mereka lakukan selain membersihkan diri. Karena Rama punya kejutan untuk istrinya, kalau dia khilaf bisa jadi mereka hanya akan diam saja di dalam kamar hotel.
Mereka sudah rapi dengan pakaian yang sudah Rama siapkan sebelum mereka sampai di hotel, perencanaan yang bagus.
"Ayo, kita kerumah mama sekarang" ajak Rama setelah ia melihat istrinya sudah siap.
__ADS_1
"Emmm.... " Nana tampak ragu untuk bertemu dengan mantan calon mertuanya yang sekarang sudah menjadi mertuanya lagi. Dia cemas meskipun mama Silvi sangat baik padanya, entah apa yang di cemaskannya.
"Sudahlah, tidak usah dipikirkan, buang jauh - jauh pikiran burukmu itu" kata Rama seolah bisa membaca pikiran wanitanya.
Rama membawa tangannya, sepanjang jalan Rama tidak pernah melepaskan genggaman tangannya. Ia tidak mau kejadian kemarin terulang kembali, duda gila yang mengejar istrinya. Rama belum membuat perhitungan dengan si duda, karena ada urusan yang lebih penting daripada mengurusi si duda gila.
Memberikan kejutan spesial untuk wanitanya. Yang sudah ia siapkan ketika Rama mengucapkan ijab qobul keduanya dengan wanita yang sama.
*
*
Setelah mengemudikan kendaraannya beberapa menit kemudian mereka sampai di kediaman orangtua Rama. Lalu mereka keluar dari mobil denagn senyum yang mengembang dibibir keduanya.
Pintu terbuka lebar mereka masuk begitu saja. Tiba - tiba Nana merasa gugup, apa yang harus ia katakan pada mama Silvi mendadak dia menjadi menantunya kembali.
"Assalamu'alaikum ma pa" Rama mengucapkan salam diikuti suara lirih Nana.
"Waalaikumsalam" Sahut penghuni rumah.
"Nana baik - baik saja ma, dia tidak melakukan apapun pada Nana, penculiknya baik" Sahut Nana.
"Cihhh.... " Rama berdecih mendengar ucapan Nana.
"Mana ada penculik baik, mungkin belum saja" Seru mama. "Kau tahu sayang saat kau diculik mama ingin segera ke Bali namun anak nakal ini melarang mama untuk kesana, mama tetap diharuskan untuk melakukan sesuatu dalam perasaan khawatir. Mama benat - benar sakit kepala" ucap Mama sembari memegang kepalanya.
"Eh... Mama ingat belum memberimu pelajaran" Menatap ke arah Rama. "Berani sekali kau menikahi Nana tanpa kehadiran mama dan papa" Teriak mama sembari memukul bahu Rama.
"Ma.... Sakit" Rama mengaduh kesakitan pukulan mamanya tidak main - main. Mama Silvi memukulnya sekuat tenaga.
"Rasakan, kau berani sekali meikahinya tanpa memberitahu mama" mama masih marah sementara papa Yusuf hanya melihat istrinya saja.
"Keadaannya tidak memungkinkan ma, kami digrebek orang sekampung ma" sahut Rama.
__ADS_1
"Apa? Kau membuat Nana jelek di mata semua orang disana" Tanya mama terkejut, lalu memukul Rama kembali. "Dasar anak nakal"
"Rama sudah menyelesaikannya ma, Rama sudah menjelaskan kepada mereka kalau Nana anak baik - baik hanya saja mereka tidak percaya katanya Nana anak badung" Rama sedikit menyindir Nana, ia melirik sekilas ke arah Nana yang sedang menggaruk kepalanya, mungkin ada ketombe disana.
Mama Silvi menghembuskan nafas berat. "Kenapa papa diam saja, bantu mama dong pa, anak - anak kita badung semua" keluh mama Silvi.
"Sudahlah, yang penting mereka kembali bersama lagi" seru papa
Papa Yusuf mengelus punggung mama Silvi memberikan ketenangan pada wanita yang sudah sabar mendampinginya.
"Ya sudahlah, mama bahagia kalian bersama lagi, semoga kalian selalu bahagia seperti ini, Rama jagalah istrimu dengan baik, jangan pernah sakiti hatinya"
Rama memeluk mamanya. "Mama tenang saja Rama sangat mencintainya, dan terima kasih mama selalu jadi mama yang terbaik buat Rama"
"Sudah melownya, ayo kita harus bersiap untuk acara nanti malam"
" Ayo kita berangkat" ajak Mama Silvi.
Sebelum berangkat mama Silvi mengambil dua koper yang sudah ia siapkan, satunya ia berikan pada Rama lalu satunya lagi ia berikan pada suaminya.
Nana mengikuti langkah suaminya meskipun ia tidak tahu mau kemana mereka.
Mobil yang dikemudikan suaminya berhenti di sebuah hotel besar.
Kenapa mereka ke hotel? Memangnya acara apa?
Nana hanya bisa bertanya dalam hati, karena suami dan mertuanya terlihat sibuk, entah apa yang mereka lakukan dengan ponsel mereka. Saat suaminya meletakkan ponselnya Nana tak menyiakan kesempatan yang ada.
"Kenapa kita ke hotel? " tanya Nana.
"Masuklah nanti kau akan tahu" jawabnya santai.
Yach jawaban yang tidak memuaskan, sudah penasaran tapi masih dipending.
__ADS_1
Lalu mereka turun secara bersamaan dari mobil. Melangkah bersama ke arah loby hotel. Mereka menerima kunci kamar hotel dari seorang laki - laki yang sepertinya sudah menunggu kedatangan mereka.
Bukannya harus pesan dulu ya ke resepsionis kalau mau menginap. Orang kaya memang bagaikan raja berbeda dengan orang kecil.