
Krek
Pintu kamar mandi terbuka. Nana melangkah keluar dari sana. Ia sudah berusaha untuk tenang namun ketika kakinya melangkah keluar mendadak rasa gugup itu hadir kembali.
Posisi Rama yang sedang duduk bersandar di sandaran ranjang dengan kaos tipisnya semakin membuat Nana panas dingin. Pesonanya memang menjungkir balikkan hati wanita yang sedang melangkah gugup kearahnya. Tatapan mereka bertemu.
Deg
Semakin membuat Nana salah tingkah dan Rama tersenyum kecil merasakan kegugupan istri barunya itu.
"Kemarilah" panggil Rama dengan menepuk sisi ranjang disebelahnya. "Aku tidak akan melakukan apapun, istirahatlah malam ini" karena malam selanjutnya aku tidak akan melepaskanmu batinnya.
Nana mengangguk lalu naik ke atas ranjang berbaring di samping Rama lalu menarik selimutnya, karena merasa gugup ia Membelakangi Rama, ia tak mampu untuk menatap mata suaminya lebih lama lagi.
Apa yang aku pikirkan, ah membuatku malu sendiri, padahal mas Rama tidak meminta haknya.
"Bagaimana kehidupanmu selama ini? " tanya Rama namun Nana enggan untuk menjawabnya. "Berbaliklah, aku ingin melihatmu"
Duh kenapa gak langsung tidur aja sich, udah tahu aku gugup masih saja jahil nanya ini itu.
Nana berbalik lalu menatap Rama. "Aku sangat baik, kau bisa melihatnya sendiri" sahutnya.
Rama menatap bibir wanita yang sedang berbicara padanya membuat ia menelan salivanya.
"Shiiitttt..... " kesal Rama yang merasakan dibawah sana menegang hanya dengan melihat bibir wanitanya. Nana masih menatap Rama bingung setelah mendengar Rama mengumpat.
Rama menatap Nana kembali. "Maaf, sepertinya aku tidak bisa menepati perkataanku tadi"
"Hah...." Nana tidak mengerti dengan perkataan Rama.
Sedetik kemudian Rama mengecup bibir Nana sekilas. Nana terpaku mendapat serangan mendadak, ia masih ternganga sampai sebuah benda kenyal menyentuhnya kembali.
"Aku menginginkanmu malam ini istriku" bisiknya ke telinga wanitanya.
Rama langsung menyerang wanitanya tanpa menunggu jawaban sang pemilik hatinya.
"Mas aku...... belum siap" sergah Nana yang juga tanpa sadar menikmati setiap sentuhan Rama.
__ADS_1
"Kau tidak perlu bersiap, cukup nikmati saja" sahut Rama dengan gairah yang sudah tidak bisa ia tahan.
Rama langsung membuka pakaian yang dikenakan Nana satu persatu sampai tubuh itu polos tanpa sehelai benangpun. Nana berusaha untuk menghentikan Rama namun sepertinya laki - laki yang sudah mengukungnya tidak terkendali. Akhirnya ia hanya bisa pasrah apalagi ia sudah tidak memakai apapun.
"Cantik, kau selalu cantik" seru Rama dengan penuh gairah menatap wanita yang sudah tak berdaya dibawahnya semakin membuat Rama panas dingin segera menyerang sesuatu yang sudah menjadi miliknya kembali. Membuka lebar kedua kaki wanitanya, pandangan mereka sudah dipenuhi kabut gairah.
Rama melakukannya perlahan, sampai deru nafas terdengar dari keduanya. Mereka menikmati malam pertama mereka di pernikahan kedua.
*
*
Sinar mentari yang sudah meninggi mengintip malu - malu di balik jendela. Nana menggerakkan tubuhnya yang terasa berat. Ia berusaha mencari apa yang membuatnya berat, ia meraba bagian perutnya, ia menemukan sesuatu yang keras dan besar.
Apa ini, tangan? Tangan siapa?
Deg
Seketika membuka matanya melihat ke arah seseorang yang berada di sampingnya yang masih tertidur pulas. Hampir saja ia lupa kalau sudah menikah kembali, mengingat kegiatan panas mereka tadi malam membuatnya senyum - senyum sendiri, ternyata cinta untuk sang suami tak berkurang sedikitpun.
Ya, awal Nana mulai mencintai suaminya setelah mereka melakukan malam pertama, setelah itu duniamya hanya Rama meskipun hanya bertepuk sebelah tangan.
Nana ingin merasakan pelukan suaminya kembali setelah sekian lama tak pernah ia lakukan karena mereka sudah bercerai. Ia menutup matanya merasakan hangatnya dekapan suaminya, namun diluar dugaan, milik Rama tiba - tiba on, membuatnya membuka matanya kembali.
"Kau membangunkannya sayang, dan sekarang pedangku ingin makan lagi" lirih Rama.
Tanpa memberi waktu istrinya untuk menjawab, Rama mengulang aksinya yang semalam, mencicipi setiap jengkal tubuh istrinya, membuat suara merdu saling bersahutan sampai akhirnya ia mencapai kenikmatan.
Mereka terbaring lemas setelah menyelesaikannya, Rama mengecup kening Nana lembut.
"Terima kasih, kau selalu membuatku bergairah, saat kau pergi aku harus menahannya, dan kau harus dihukum karena membuatku terlalu lama untuk menahannya"
"Itu bukan salahku, kau yang memberiku surat cerai" bela Nana, enak saja suaminya itu menyakahkannya.
"Tapi kau memutuskan sendiri setekah kita melewati masa satu bulan sebagai sepasang kekasih"
"Kau yang melupakanku setelah kehadirannya" ucap Nana sendu dan lemah karena kelelahan.
__ADS_1
Menatap wanitanya sendu. "Maaf..... sempat melupakanmu, maaf mangabaikanmu, aku mencintaimu istriku" lalu memeluk Nana, kulit mereka bersentuhan membuat keduanya berdesir.
"Aku juga mencintaumu suami keduaku" sahut Nana, lalu terkekeh bersama.
"Begini saja, pedangku suda on lagi"
"Oh no..... ini sudah siang, kita melewatkan sarapan, aku sudah lapar" sahut Nana.
Membuat Rama tertawa lepas lalu melepaskan pelukannya.
"Baiklah aku akan menyiapkan sarapan sekaligus makan siang untuk kita"
"Ck" Nana mencebikkan bibirnya.
Tiba - tiba tubuh polosnya melayang karena ada dua tangan yang menggendongnya.
"Aaaa.... " spontan ia menutup gunung kembarnya.
Suaminya itu menggendongnya tanpa selimut yang membungkus tubuhnya. Rama yang melihat Istrinya menutup gunung kembarnya, mengalihkan tatapannya pada bagian lebih kebawah membuat Nana melototkan kedua matanya sementara Rama tersenyum jahil.
Ditatatap seperti itu, Nana mengangkat kedua tangannya untuk menutup kedua mata suaminya.
"Aku malu, jangan dilihat"
"Ck. aku sudah hafal luar dalam" jawab Rama santai, Nana semakin merona karena malu. Suaminya itu mesum sekali.
"Mandilah dulu, aku akan mandi di kamar mandi yang lain, kecuali kau ingin kita mengulang lagi adegan tadi pagi" ucap Rama setelah sampai di dalam kamar mandi.
"Pergilah, mandi diluar saja" jawab Nana cepat.
"Baiklah tuan putri" sahut Rama membuat hati Nana melambung tinggi diperlakukan seperti itu.
Dulu setelah melakukan hubungan suami istri, Rama tak melihatnya lagi, dia langsung pergi sendiri ke kamar mandi. Meninggalkan dirinya yang masih polos begitu saja. Ada rasa perih dihatinya namun ia mengabaikannya karena cinta itu mulai tumbuh dihatinya.
"Menikah lagi dengan laki - laki yang sama tidaklah buruk" gumamnya lirih setelah Rama keluar dari dalam kamar mandi.
Rama mengambil ponselnya dia atas nakas, lalu menghubungi seseorang untuk membelikannya makanan. Kegiatan panas yang mereka lakukan membutuhkan banyak tenaga, saatnya untuk mengisinya kembali sebelum ia melaksanakan rencana kejutannya untuk sang istri.
__ADS_1
Setelah itu Rama melangkah ke kamar mandi di kamar sebelah untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket. Tak lupa ia tersenyum bahagia selama melangkah. Kebahagian yang sudah lama menghilang dari hidupnya semenjak istrinya itu pergi.