
Setelah mengantar sarapan dan sarapan bersama Nana pergi dari rumah Rama, ia tidak mau ada omongan miring tentang mereka, mengingat mereka sama - sama single.
Para tetangga suka sekali berbuat usil, gak bisa liat orang senang sedikit saja. Kita akan dihakimi jika kita salah, benarpun kita juga tetap salah, lebih baik diam saja dari pada melawan pasukan emak - emak.
Dan benar saja setelah Nana keluar dari rumah Rama banyak emak - emak yang mengintipnya, padahal tadi pas masuk gak ada orang sepi - sepi aja. Nana berjalan santai mengabaikan tatapan para emak yang lagi kepo. Lihat saja besok pasti dah jadi bahan gosip. Nana mempercepat langkahnya menuju rumahnya, untung emak - emak di gang rumahnya tidak ada yang tahu. Segera Nana membuka pintu rumahnya ia ingin istirahat sebentar sebelum berangkat kerja.
*
*
"Saatnya mencari setumpuk rupiah, semangat. Aku adalah wanita hebat, motivasi diri itu penting" Nana terkekeh pelan.
Saat ia mengendarai sepeda motor maticnya tepat di gang depan emak - emak sedang berkumpul.
Hadeh.... ngapain siang - siang gini ngrumpi, mendingan rebahan di kasur. Lah tapi kenapa mereka ngliatin aku kayak mau makan orang.
Ah cuekin aja
Nana menyapa para emak dengan menundukkan kepalanya sembari tersenyum manis ketika melewati mereka.
Entah apa yang mereka bicarakan setelah Nana melewatinya yang pasti ia sempat mendengar kata janda, mungkin mereka membicarakannya, namun Nana memilih mengabaikan mereka. Ia tak mampu melawan kekuatan emak - emak berdaster.
Keluar dari gang ia sampai di jalan raya, saat hendak menyebrang tiba - tiba ada seseorang yang naik ke boncengan sepedanya.
"Aku nebeng ke toko ya" ucap seseorang dari belakangnya, seketika Nana menoleh kebelakang karena terkejut.
Ia mengerutkan keningnya melihat Rama duduk manis dibelakangnya, senyummya seperti tak punya salah.
"Mau kemana?" tanya Nana ketus.
Sudah bikin kaget, eh dianya cengengesan.
"Mau ke toko, mobilku habis masa sewanya lupa mau perpanjang" Rama menjelaskan namun Nana tidak mudah mempercayainya.
Apa iya seperti itu, aku tidak yakin.
Malas berdebat lagi, takutnya juga ia terlambat karena ia selalu berangkat tepat waktu kalau masuk siang. Akhirnya Nana melajukan sepeda motor kesayangannya.
Tidak ingin ada yang melihatnya, juga malas untuk menjelaskan Nana menurunkan Rama di tokonya baru ia ke toko tempatnya bekerja.
"Kenapa harus berhenti disini, aku bisa jalan dari tokomu itu" kata Rama, padahal sekalian ia ingin pamer pada duda sok kegantengan itu.
"Tidak apa, selamat bekerja" sahut Nana tersenyum manis. Ia tidak mau moodnya rusak kalau terlalu lama berdebat dengan Rama. Setelah mengucapkannya ia melajukan sepedanya kembali, Rama masih memanggilnya namun Nana mengabaikannya entah apa yang dikatakannya Nana tidak bisa mendengar dengan jelas.
"Tante..... " sampai di toko Nana disambut April dengan wajah riangnya.
"Hallo cantik,, makan apa tuh? kayaknya enak tante mau dong" goda Nana.
__ADS_1
"Ini telur gulung tante.. beli di ujung jalan sana, enak banget, nih buat tante" Nana membuka mulutnya ketika April menyuapinya.
"Emmmmm..... enak, kapan - kapan tante juga mau beli"
"April gak boong kan, tapi jangan bilang abi ya"
"Kenapa? " tanya Nana bingung.
"April gak boleh jajan sembarangan apalagi di pinggir jalan" April terkekeh setelah mengucapkannya.
Nana manggut - manggut.
Begitu ya kalau anak pemilik restoran, makan ini gak boleh itu gak boleh, takut sakitlah, ini, itulah... Kalau orang biasa mah boleh - boleh aja selama itu masih halal.
"Tante nanti kalau sudah pulang kerja ikut April ya? "
"Mau kemana malam - malam? tante pulang jam sembilan malam"
"Nanti April kesini lagi,, da... da... tante" April langsung pergi tanpa menjawab pertanyaannya..
Nana menghembuskan nafasnya pelan, disaat toko sepi tidak ada yang bisa dilakukan, hanya berjalan kesana kemari, rasanya lebih capek jika toko sepi, kalau rame capeknya gak terasa.
Lebih enak sibuk sama customer dari pada kesana kemari tidak jelas, yang lain malah terlihat ngantuk.
Kalau sepi begini jadi pengen dekat kasur.
"Nana kok diem, kasih komentar dong" gerutu Ola yang melihat Nana hanya diam saja malah terlihat cuek.
"Mau komentar apa? "
sahutnya santai.
"Apa ajalah... "
"Seperti toko kita dikelilingi duda tampan gitu"
"Ah.... tepat sekali" ucap teman yang lainnya sembari tertawa lebar. Yang juga diikuti teman yang lainnya.
Nana malas untuk menanggapinya jadi hanya Ola dan yang lain antusias membicarakan duda yang ada di depan.
Dia dudaku, maksudnya mantan suamiku.
*
*
"Ayo tante..... " April menarik tangannya ketika ia menutup toko. Toko sudah tutup jadi waktunya untuk pulang. Tiba - tiba tangannya ditarik April.
__ADS_1
Jadi tadi siang April serius.
"Mau kemana?" tanya Nana penasaran mau kemana malam - malam begini.
"Makan malam tante" jawab Nana.
"Sama abi juga?" tanya Nana.
"Iya tante"
"Tante gak usah ikut ya" tolak Nana.
"Tante gak mau sama April" April sudah tampak cemberut.
"Bukan, hanya saja..... "
"Ayo...... " ajak Abinya April yang sudah berdiri di depan pintu restorannya.
April mengajaknya makan direstoran abinya. Nana merasa tidak enak harus bergabung. Nana nampak bingung harus melangakah apa diam saja di tempat. April masih memegang tangannya.
"April yang memintanya, dia ingin makan malam bersama tante Nana kesayangannya" ucap Alfa dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Tante kesayangan apanya.
"Apa om juga boleh ikut April? " tanya Rama yang tiba - tiba muncul dari arah belakang Nana.
"Boleh kok om" jawab April riang.
Alfa merasa tidak mengenal laki - laki dihadapannya itu, tapi apa yang bisa ia lakukan kalau April sudah setuju.
Lalu mereka bertiga masuk ke dalam restoran, Alfa sudah masuk terlebih dahulu. Nana duduk bersama April sementara Rama duduk disebelah Alfa. Mereka tampak canggung, untung saja ada si kecil April yang bisa mencairkan suasana.
Makanan sudah terhidang di atas meja banyak sekali makanan yang disajikan seperti sengaja dipersiapkan. Makanannya juga terlihat lezat.
"Tante suka makanan apa? " tanya April, lalu Nana melihat ke arah meja yang dipenuhi makanan enak.
"Tante tidak pemilih dalam makanan, ini semua kelihatan enak" jawab Nana jujur, memang makanan di depannya menggugah selera.
"Ini yang masak abi tante, ya kan bi? " ucap April lalu beralih menatap abinya sembari bertanya.
Alfa tersenyum "April selalu merepotkanmu, aku tidak bisa selalu menemaninya, jadinya dia datang padamu, anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku telah menemani April"
Nana tersenyum. "Tidak masalah, dia anak yang baik, lagipula hanya sesekali aku menaninya, ini terlalu berlebihan" sahut Nana masih dengan bahasa yang sopan.
"Ya ini sangat berlebihan, om juga bisa menemani April kalau April mau" sahut Rama yang merasa jengah dengan pria disebelahnya itu. Ia merasa laki - laki disebelahnya itu memanfaatkan April.
"Benarkah om? " tanya April girang, ia akan punya banyak teman bermain pikirnya.
__ADS_1
"Tentu" jawab Rama membuat laki - laki disebelahnya mengepalkan tangannya.