
Hidup dikampung berbeda dengan kota, setiap apa yang kita lakukan akan selalu menjadi bahan gunjingan untuk mereka, Apalagi mereka sudah tahu status Nana. Janda muda segar begitulah julukannya disana. Tapi tetap saja janda di kampung dianggap sebagai noda, dipandang sebelah mata, dihina sebagai janda genit, padahal dia tidak melakukan apapun, itu sudah lumrah, berbeda dengan di kota. Kalau dikota jadi janda ya biasa saja.
Ibu - ibu kampung tidak pernah libur untuk mencibirnya. Nana melewati mereka begitu saja dengan senyum mengembang di bibirnya. Biarakan saja, anjing menggonggong tanda tak mampu pikirnya. Namun tetap saja perkataan mereka membuat telinganya meradang. Pernah sempat berpikir untuk ngekos aja, tapi sayang uangnya busa buat untuk keperluan sehari - hari, juga rumahnya siapa yang akan menempati.
Nana heran, kenapa artis - artis yang kaya raya kok gak bingung ya punya rumah banyak. Ini satu aja mikirnya pakek panjang.
Terdengar lagi bisikan - bisikan para ibu rempong, bisikan yang terdengar jelas di telinga.
'Kenapa ya Nana diceraikan, padahal kalau dilihat dia cantik'
'Orang kota mana suka orang kampung, paling juga suaminya selingkuh'
'Mungkin juga si Nana tidak bisa melayani suaminya dengan baik, siapa yang tak kenal anak nakal itu'
'Kalian tahu sendiri bagaimana kelakuan dia dulu'
Masih banyak lagi menu yang mereka ghibahkan di pagi hari. Mereka terlalu usil, suka memperhatikan hidup orang lain.
Tapi biarlah, kakau capek ya diam sendiri nantinya, toh aku gak minta makan sama mereka.
"Sudah ndok, jangan di dengar, mereka selalu begitu, anggap saja mereka iri" ucap salah satu tetangga samping rumahnya. Bu Rahma memang baik padanya.
"Ya bu.... " jawab Nana.
"Ini buat sarapan, belum masak kan?"menyerahkan bungkusan pada Nana. Nana memerimanya dengan senang hati, dari dulu bu Rahma sering memberinya makanan.
"Belum buk, terima kasih, Nana selalu ngrepotin ibu" jawab Nana meskipun senang tapi kadang merasa tidak enak mereporkan orang lain.
"Sudah,kayak siapa saja, orangtuamu dulu juga sering membantu ibu, tidak apa - apa, ibu ikhkas berbagi makanan denganmu. Jangan stress ya sama omongan mereka, hiduplah dengan baik, kamu pasti punya alasan kenapa bercerai" bu Rahma mencoba untuk menenangkan Nana.
"Terima kasih bu, perkataan ibu membuat Nana tenang, ternyata masih ada orang baik ya di dunia ini" ucap Nana rersenyum lembut.
Ibu Rahma tersenyum. " Saran ibu jangan terlalu bersedih, carilah calon pengganti mantanmu itu. Carilah pasangan yang bisa di ajak serius. Kau mengerti kan, memang tidak mudah tapi cobalah " ucap Ibu lalu berpamitan pada Nana untuk masuk ke dalam rumahnya lagi.
Ibu - ibu yang sedang belanja masih menatapnya horor.
Dasar ibu - ibu rempong, yang suka ngurusin urusan orang lain, apa mereka tidak capek ya.
*
*
__ADS_1
Keadaan ruangan itu masih gelap, memang sengaja lampu ruangan itu dibiarkan tidak menyala. Duduk bersandar di sofa seraya menghela nafas berat, merogoh ponsel yang berada disaku jasnya. Kegiatannya dikala sepi melanda dengan melihat ponselnya, melihat foto - foto wanita yang pernah menjadi istrinya.
Mengusap wajah wanita itu dengan menggunakan ibu jarinya, tatapannya sendu melihat ponselnya.
"Apa kau juga merindukanku, apa kau memikirkanku? Sepertinya kau bahagia disana?" gumamnya lirih. Dia yang ingin berpisah namun dirinya juga yang tersiksa.
"Mama bolehkah aku menemuinya? " kalau saja ia tidak berjanji pada mamanya untuk tidak menemui Nana, mungkin saat ini ia sudah menemui Nana.
Menyalakan saklar lampu lalu berjalan ke arah kamarnya. Ia baru teringat cctv yang ia pasang di dalam apartemennya kecuali di dalam kamar semua sudut ia beri cctv.
Ia melangkah ke dalam kamarnya, menuju meja kerjanya yang juga berada didalam kamar itu. Dibukanya laptop berwarna hitam itu. Setelah mengotak - atik laptopnya, muncullah semua sudut ruangan didalam kamarnya. Dilayar itu tertulis tanggal dimana hari pertama Nana pindah kesana.
Yang dilakukan Nana pertama kali yaitu membersihkan seluruh apartemen. Nana membersihkan ruang tamu sembari menyanyikan lagu favoritnya, entahlah Rama tidak tahu judul lagu dan penyanyi aslinya, yang jelas ia pernah mendenagr lagu itu sebelumnya.
Nana berjoget sembari mengepel lantai. Rama melongo menatap video mantan istrinya itu.
"Dia mangacaukan apartemenku kenapa dia bisa jadi seperti itu" gumam Rama sembari tersenyum tipis.
Sepertinya dia akan punya mainan baru untuk menghibur harinya, sekaligus mengobati rasa rindunya.
Video keesokan harinya.
Disitu nampak Nana yang berjalan mondar mandir seperti setrika panas. Menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu tersenyum sendiri, sepertinya dia sedang malu.
Nana memegang ponselnya, menulis pesan setelah itu duduk di sofa.
'Oh... bagaimana aku memberi perhatian, aku harus tulis apa, begini nasib tidak pernah pacaran. Sepertinya aku harus cari pacar setelah becerai nanti" ucap Nana di video itu.
"Tidak pernah pacaran, apa sekarang kau sudah punya pacar? " gumam Rama merasa tidak suka dengan ucapan Nana. Lalu menatap video itu lagi.
'Ah kenapa belum dibalas, semangat Nana, jangan putus asa, gagal, coba lagi'
"Begitukah perjuanganmu sayang, dan aku ahhhhhh" mengusap wajahnya frustasi
dengan kedua tangannya.
Dia berhenti memutar video itu, lalu mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja.
"Cari tahu teman pria yang dekat dengannya" perintah Rama pada seseorang yang ia perintahkan untuk mengawasi Nana.
"Baik bos"jawabnya."Bos sampai kapan saya harus membeli ponsel. Ponsel saya sudah banyak nih bos" lanjutnya.
__ADS_1
"Jangan berhenti, belilah setiap hari satu saja agar tidak ada yang curiga"
"Tapi bos..... "
"Berikan pada orang lain"
"Baik bos"
Orang suruhannya merasa heran,, ia mendapat perintah untuk membeli ponsel pada wanita yang ia awasi, setiap hari satu. Kadang Ia menyuruh orang lain yang membeli ponsel untuk menghindari kecurigaan.
Buang - buang uang saja bos.
*
*
Di tempat lain.
Orang suruhan Rama biasa dipanggil pak Jo, ia memasuki toko ponsel dimana Nana bekerja, lalu melihat sekeliling, setelah menemukan wanita yang dicarinya ia berjalan mendekat. Nana yang melihatnya langsung menghampirinya.
Wah.... kujemput kau rezeky.
"Selamat siang pak jo, anda mau membeli ponsel lagi? " tanya Nana segera karena pak Jo itu hanya mau dilayani olehnya. Para rekannya tidak ada yang iri pak Jo lebih memilih dirinya, karena Nana tidak pernah lupa untuk mentraktir mereka. Sistem kerjanya yang bisa menjual akan mendapat bonus lebih banyak.
"Ya" jawabnya singkat.
"Buat siapa lagi pak Jo? kemarin anak dua sudah, keponakan sudah" tanya Nana.
"Buat istri" bohong pak Jo, padahal dia belum menikah. Demi pekerjaan, tidak apa - apa ya bohong demi kebaikan.
"Wah kalau yang ini harus bagus dan elegan pak Jo, biar semakin disayang istri" jawab Nana sembari mengeluarkan jurusnya supaya dagangannya laku, bonusnya lumayan.
"Saya ambil yang nona sarankan"
"Pak Jo kaku sekali, saya ambil dulu pak Jo" Nana mengambil ponsel yang dimaksudnya.
"Ini Pak jo, desingnya elegan, fiturnya banyak, harganya lima juta, istri pak Jo pasti langsung melayang diberi hadiah sebagus ini" puji Nana. Dia tidak tahu saja, tugasnya hanya membeli ponsel entah bagus atau tidak pak Jo tak peduli.
"Saya ambil"
"Tidak dilihat dulu pak Jo" tawar Nana, takutnya ada yang kurang sreg.
__ADS_1
"Tidak perlu" jawab pak Jo singkat dan padat.
"Baiklah pak Jo" Nana sumringah menuju kasir, setelah diproses, Nana mengucapkan terima kasih tak lupa ia memberi follow up untuk kembali ke tokonya kembali.