
Hari ini berat sekali. Pertemuan keluarga seharusnya membuatnya bahagia karena silaturahmi itu dianjurkan untuk menjaga hubungan baik, bisa menambah rezeky dan umur panjang. Dalam suatu pengajian dijelaskan seperti itu.
Tapi entah kenapa hari ini ia malas sekali, karena yang akan terjadi pasti seperti sebelumnya. Ditanya kapan hamil? Kenapa tak kunjung hamil? kenapa tidak ikut program hamil? Masih banyak lagi pertanyasn seputar hamil. Kalau sebelumnya masih bisa jawab, karena ingin pacaran dulu, masih muda dan banyak lagi alasan yang lain. Bahkan petemuan sebelumnya ia bahkan dibilang mandul.
Entah pertemuan kali ini apa yang akan mereka hadiahkan padaku.
Pertemuan itu diadakan di kediaman mertuanya, acara itu bergilir, dan sekarang kebetulan giliran dirumah mama mertuanya. Nana sudah berada disana mulai tadi malam. Keluarga yang jauh sudah hadir sehari sebelum acara.
Sebagian keluarga sudah hadir, semua keluarga dari pihak papa dan mama yang hadir di acara itu.
Pertemuan keluarga memang dilakukan beberapa bulan sekali untuk mempererat hubungan persaudaraan.
Nana keluar dari dalam kamar yang ditempatinya jika menginap dirumah mertuanya. Ia langsung berjalan menuju dapur untuk membantu menyiapkan hidangan. Disana juga ada mama Silvi dan beberapa saudara yang lain.
"Bagaimana apa sudah isi? " tanya salah satu saudara dari mama mertuanya.
"Belum tan, kami masih berusaha?" jawab Nana sopan.
"Tante doakan semoga segera diberikan rezeky, karena dengan adanya anak akan memperkuat hubungan pernikahan"
"Makasih tante" sahut Nana tersenyum bahagia. Kalau begini kan enak dengernya bikin hati adem pikir Nana.
"Jadi Nana belum hamil juga, kenapa tidak melakukan program hamil saja, atau mungkiin di antara kalian ada yang tidak sehat" ucap tante yang lainnya, tante dari pihak papa, saudara jauh sebenarnya karena papa juga anak tunggal.
Hah ini nih yang bikin hati panas.
Nana tak menjawab dia hanya tersenyum saja.
"Kamu sudah periksa ke dokter kandungan, mungkin saja kamu yang tidak sehat, karena di kelurga kami semuanya punya keturunan dan semuanya sehat" celetuk saudara yang lain.
Nana terdiam. Dia tak tahan untuk berlama-lama disana. " Terima kasih sarannya tante, nanti saya akan memberitahu mas Rama. Saya permisi dulu"
Nana meninggalkan dapur yang melewati ruang tengah. Mama Silvi sempat melihat ke arah Nana, dia sudah tahu apa yang terjadi karena ini bukan yang pertama kalinya.
Nana masuk ke dalam kamar, ia butuh waktu untuk menenangngkan diri.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan jika aku tidak bisa hamil, keluarga masvRama tetap butuh keturunan meskipun mas Rama bisa menerima jika kami tidak punya anak" gumam Nana.
"Haruskah aku berbagi suami, aku tidak bisa, aku tak kan kuat, maaf jika aku egois dalam hal ini" Dia tidak suka poligami, jika itu terjadi mungkin ia akan memilih berpisah.
"Sudah dua tahun pernikahan kami yang kedua, semoga rezeky itu segera datang" doanya dalam hati.
Ceklek
Nana mengalihkan perhatiannya pada suara pintu kamar yang terbuka. Rama melangkah masuk ka dalam kamar dengan tersenyum manis.
"Mas, sudah pulang? " sapa Nana sembari berdiri lalu mencium tangan suaminya.
"Aku merindukanmu" bukannya menjawab Rama malah mengecup bibir wanitanya sekilas lalu memeluknya erat. Nana pun membalas pelukan suaminya.
Inilah yang Nana sukai, perasaan dicintai suami, tidak mungkin ia mau berbagi dengan wanita lain. Rama hanya miliknya.
"Mandilah dulu, lalu kita keluar bersama" kata Nana.
"Tidak mandipun aku masih terlihat tampan" ucap Rama sedikit sombong yang langsung mendapat cubitan manis dari sang istri.
"Biarin.... wekkk" ejek Nana yang melihat wajah cemberut suaminya.
"Ihhhhhh..... " Rama menarik bibir Nana membuat Nana mencebik kesal.
"Aku akan mandi sebentar, tunggulah disini" ucap Rama lalu berjalan ke kamar mandi. Nana sudah menyiapkan baju ganti untuk suaminya.
Tak lama Rama keluar dari kamar mandi dengan gaya sensual membuat Nana ternganga karena terpesona.
"Tutup mulutmu, jangan sampai ada serangga masuk " goda Rama.
Sial, memalukan. Padahal aku sudah sering melihat roti sobeknya, tiap hari malah.
Karena sudah ketahuan lebih baik tercebur sekalian.
Nana berdiri lalu berjalan mendekati sang suami yang sedang mengambil baju ganti.
__ADS_1
"Ada hidangan lezat di depan mata, akan sangat rugi jika dilewatkan" bisiknya ke telinga Rama. Nana menarik sedikit handuk Rama lalu mengelus bokong suaminya membuat Rama mendesah pelan.
Saat Rama hendak berbalik, Nana berlari sekencang mungkin ke arah pintu lalu segera membukanya tanpa berbalik lagi.
Sentuhan iistrinya membuat mulutnya mengeluarkan suara ******* pelan, istrinya berani sekali menggodanya. Saat ia merasa tegang ia hendak menyerang sang istri namun ia terbelalak melihat sang istri berlari kencang.
Rama menggeleng kepalanya sembari tersenyum lucu melihat tingkah sang istri yang total banget ingin mengerjainya.
"Kau harus bertanggung jawab" gumamnya setelah pintu tertutup.
Rama berusaha untuk menenangkan pedangnya yang terlanjur bangun. Tak lama ia pun keluar dari dalam kamar namun langkah kakinya terhenti melihay istrinya hanya berdiri di balik tembok. Tepatnya menguping pembicaraan keluarganya yang berada di ruang tengah. Rama mendekat untuk mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Rama sudah dua tahun menikah dan dia belum punya anak. Jangan sampai keturunan perwira tidak punya keturunan" ucap para tetua.
"Mereka baru dua tahun menikah paman" sahut papa yusuf. "Biarkanlah mereka bersenang - senang lebih dulu"
"Kau jangan menganggap remeh, meskipun istrimu yang sekarang tidak bisa memberimu keturunan tapi kau sudah punya Rama. Sementara Rama belum punya anak sampai saat ini" sambung tertua tang lain.
"Jika Nirwana tidak bisa memberi keturunan, maka dia harus rela Rama menikah lagi"
Deg
Nana terdiam, mungkin ini yang dinamakan sakit tak berdarah. Tak terasa bulir bening terjatuh dari kedua sudut matanya. Ia segera menghapusnya, tidak ada yang boleh melihatnya bersedih.
Namun sang suami sudah terlanjur melihatnya.
"Iya aku setuju kalau Rama harus menikah lagi"
Papa Yusuf terdiam, ia tak bisa melawan langsung para tetua. Ditatapnya sang istri yang daritadi hanya diam saja dengan wajah sedihnya. Yusuf mengerti bagaimana perasaan sang istri, apalagi pembahasan kali ini tentang keturunan.
"Keputusan tetap ditangan Rama, aku akan selalu mendukung keputusan putraku dan tidak ada yang berhak mencampurinya" ucap oapa Yusuf tegas.
Rama masih menatap istrinya, dapat ia lihat saat wanitanya menghapus sesuatu di pipinya lalu sedetik kemudian sang istri merubah ekspresi wajahnya, berusaha terlihat biasa saja dengan senyum di wajahnya.
Beberapa memit kemudian Nana berjalan ke arah dimana keluarganya sedang berkumpul. Rama menyusul langkah Nana cepat agar mereka bisa sampai disana secara bersamaan. Nana menoleh ke arah samping saat ada sebuah tangan melingkar di pinggangnya.
__ADS_1