Aku Kekasih Suamiku

Aku Kekasih Suamiku
Bab 43 Dia adalah laki - laki yang sama


__ADS_3

SAH


Kata itu terdengar nyaring ditelinga. Namun terasa nyeri dihati. Ia mengulurkan tangannya untuk mencium tangan laki - laki yang kini sah menjadi suaminya itu. Lalu laki - laki itu mencium keningnya lembut.


Dua kali ia menikah dengan laki - laki yang sama, laki - laki yang pernah menorehkan luka dihatinya akankah di pernikahan keduanya ini ia akan bahagia seperti janji laki - laki yang baru saja menjadi suaminya itu.


*


Flashback


Ucapan Rama setelah sah menjadi suami wanita yang pernah ia sakiti dulu.


"Nirwana istriku, aku pernah mengecewakanmu, di pernikahan kedua kita ini aku ingin membahagiakanmu, aku tidak bisa berjanji tapi aku akan berusaha untuk mewujudkannya. Maukah kau menemaniku di kala suka dan duka sampai dunia akhirat"


Nana meneteskan air matanya karena terharu dengan ucapan Rama, lalu ia mengangguk. " ya, aku bersedia"


Semoga apa yang kau ucapkan tulus dari hatimu mas, karena aku tidak tahu harus percaya atau tidak.


Flashback off.


*


*


Pernikahan itu diadakan dirumah Nana, Rama yang menyuruh mereka untuk menyiapkan semua di rumah istrinya itu. Meskipun rumah sewanya lebih besar namun ia ingin memberikan kenangan manis dirumah istrinya.


Nana menatap pantulan dirinya di depan cermin, ia mengenakan kebaya putuh ditambah riasan membuat wajahnya semakin cantik, entah dari mana Rama mendapatkan kebaya itu. Meskipun pernikahannya tiba - tiba tapi yang ia rasakan seperti pernikahan yang sudah direncanakan dari jauh hari.


Makanan yang disediakan juga banyak, entah dari mana makanan itu di dapatkan dalam waktu hitungan jam. Rama mengundang seluruh kampung. Kalau dikampung pernikahannya termasuk sedikit mewah untuk ukuran pernikahan secara agama. Dia memberikan dua jempol pada suaminya untuk urusan mempersiapkan pernikahan mereka.


"Aku sudah mendaftarkan pernikahan kita, Dimas yang akan mengurusnya" ucap Rama membuyarkan lamunannya, seperti bisa membaca pikiran Nana.


Nana menatap Rama yang baru saja masuk ke dalam kamarnya tanpa berbalik. Hanya melihat Rama dari pantulan cermin.


Rama melangkah mendekati Nana lalu berhenti dibelakangnya, tangannya bergerak untuk membantu Nana membuka hiasan di rambutnya.


"Cantik" ucap Rama.

__ADS_1


Mereka saling menatap sembari melihat ke arah cermin.


"Maaf membuatmu dalam posisi seperti ini istriku" maaf karena aku memanfaatkan keadaan yang membuatmu sulit lanjutnya dalam hati.


Deg


Mendengar kata istriku membuat hati Nana menghangat, dulu Rama tidak pernah memanggilnya seperti itu. Malah keberadaannya seperti ada dan tiada.


Nana hanya diam saja, statusnya yang baru masih membuatnya terkejut, meskipun mereka sudah pernah menikah. sebelumnya.


Tapi sekarang keadaannya berbeda, ia dalam fase melupakan laki - laki yang masih berada dibelakangnya dengan tangannya yang melepas satu persatu hiasan yang ada dikepalanya.


"Aku akan mandi terlebih dahulu" ucap Rama setelah selesai melepaskan semua hiasan di kepala wanita yang sekarang sudah sah menjadi istrinya. Nana menganggukkan kepalanya.


Rama membuka jasnya lalu meletakkannya di atas ranjang, lalu membuka kemeja putihnya dan juga meletakkannya asal ke atas ranjang.


Hanya menyisakan kaos tipis lalu ia melangkah ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya, ini sudah jam sebelas malam.


Setelah sepuluh menit Rama keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya memakai handuk, Nana sudah menyiapkan baju santai untuk Rama yang sudah ia ketakkan di atas kasur.


Lalu berganti Nana yang masuk ke dalam kamar mandi, ia membawa sekalian baju gantinya. Biasanya ia berganti di dalam kamar namun sekarang ada penghuni lain di dalam kamarnya.


Rama memegang dua gelas di tangannya, lalu memberikannya satu pada Nana. Ia sengaja mengambilkan Nana air minum. Rumah masih tampak berantakan. Karena acara dadakan itu baru saja selesai. Semua orang yang membantu sudah pulang sejak Rama masuk ke dalam kamar.


"Kau ingin makan?" tanya Rama.


"Apa masih ada kue" sahut Nana dengan bertanya.


"Ada, aku sengaja menyimpan sedikit untukmu" lalu Rama mengambil beberapa kue dari dalam kulkas.


Seperti Rama yang punya rumah, ia yang menyiapkan untuk Nana.


Nana duduk diruang tengah, Rama juga melangkah kesana dengan membawa piring berisi kue ditangannya.


"Makanlah! " meletakkan piring yang dibawanya ke atas meja.


"Terima kasih" sembari mengambil salah satu kue lalu menyantapnya, sejak sore ia belum mengisi perutnya.

__ADS_1


"Kau tidak makan? " tanya Nana sambil mengunyah makanannya.


"Aku sudah makan tadi" jawab Rama sembari menatap istrinya yang sedang makan. Terbit senyum tipis di bibirnya, karena wanita di depannya sudah menjadi istrinya kembali.


Nana menghabiskan makanannya dengan cepat karena ia merasa gugup ditatap seperti itu oleh suami barunya.


"Aku sudah selesai, emmm.... aku mau istirahat dulu" beranjak berdiri melangkah menuju kamar, namun masih selangkah tangannya dicekal laki - laki yang saat ini menatapnya tajam.


"Kau gugup? " tanya Rama datar. Tatapan mereka bertemu.


"Aku..... tidak gugup, untuk apa gugup, kita sudah pernah menikah sebelumnya"


"Benarkah? " Rama juga ikut berdiri, perlahan tangannya menyentuh bahu Nana membuat darahnya berdesir.


Rama mengatur nafasnya jangan sampai ia memakan istri barunya di tempat itu.


Menaikkan dagu wanitanya dengan satu tangannya dan satunya lagi berpindah memegang pinggang kecil wanitanya.


"Aku.... aku lelah" ucapnya terbata, namun tubuhnya menerima sentuhan suaminya.


Rama menyeringai. "Baiklah ayo kita ke kamar" sahutnya ambigu membuat Nana semakin gelisah.


Ke kamar apa kita akan melakukan malam pertama. Oh...... aku gugup sekali.


Rama menggandengnya untuk masuk ke dalam kamar. "Aku mau ke kamar mandi dulu" kata Nana setelah mereka sampai di dalam kamar.


"Hemmmm........ ". Lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Rama memperhatikan isi kamar istrinya, tadi ia belum sempat untuk memperhatikannya. Kamar dengan ukuran lebih kecil dari kamar mereka yang di Jakarta dulu. Kamar girly sekali meskipun warnanya bukan pink. Terdapat beberapa buku diatas rak, meja rias kecil juga berada dikamar itu. Tidak ada sofa di kamar itu. Ukuran ranjang tidak terlalu besar, cukuplah untuk mereka berdua. Rama teringat malam pertamanya dulu, dia begitu bergairah melihat tubuh polos istrinya waktu itu. Apalagi sekarang sudah lama ia tidak melakukan hubungan itu. Rama jadi senyum - senyum sendiri.


*


Di dalam kamar mandi.


Nana memegang dadanya yang berdegup kencang. Mengatur nafasnya agar kembali stabil.


"Bagaimana kalau mas Rama meminta haknya malam ini juga, aku gugup sekali, tenanglah aku sudah terbiasa melakukannya dulu, jadi tidak masalah kan kalau seandainya mas Rama memintanya malam ini" gumam Nana berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Jangan gugup, tenangkan dirimu Nana, dia adalah laki - laki yang sama, sentuhannya pun sama.. Ah... apa yang aku pikirkan, kenapa pikiranku jadi mesum"


__ADS_2