
Jalanan tampak sepi, Nana melangkahkan kakinya ke arah berlawanan dengan mobil Rama. Dia tidak tahu berada dimana, belum ada taxi yang lewat. Terlihat halte bis, Nana memutuskan untuk menunggu disana. Dengan langkah gontai ia berjalan ke arah halte itu.
Pikirannya kemana - mana, apa yang menyebabkan Rama tega meninggalkan wanitanya ditengah jalan. Matanya berjaca - kaca, tak terasa pipinya sudah basah.
Nana berdiri untuk menghentikan Taxi.
Kenpa tidak ada taxi yang lewat.
Tak lama sebuah mobil berhenti di depannya. Pintu kaca terbuka menampilkan sosok yang ia kenal.
"Naiklah" Ucap Damar.
Ya laki - laki itu adalah Damar, dari kejauhan dia melihat seperti mengenal wanita yang berdiri di di pinggir jalan, setelah melewatinya Damar memundurkan kembali mobilnya setelah ia menyadari bahwa wanita itu adalah Nana.
Dengan ragu Nana naik ke dalam mobil Damar dan duduk disampingnya.
"Kemana aku harus mengantarmu? "tanya Damar setelah mobil melaju.
"Luxury apartemen" jawab Nana.
"Kau tinggal di apartemennya, sejauh mana hubungan kalian, kau tidur dengannya?"
"Haruskah aku menjawab pertanyaanmu itu?"
"Rama meninggalkanmu dijalan?" Nana melihatnya seraya berucap dari sorot matanya 'dari mana kau tahu?'. "Kau bingung bagaimana aku mengetahuinya? " Damar terkekeh pelan.
"Tidak ada yang lucu" seru Nana ketus.
"Aku tahu dimana Rama saat ini, ingin aku antar kesana?"
"Tidak perlu" jawabnya masih ketus, entah kenapa laki - laki disampinya menyebalkan.
"Sepertinya kau wanita baik - baik. " Berhenti sejenak. " Tinggalkanlah Rama"
Dua kali kau menyuruhku meninggalkan Rama, memangnya siapa laki - laki ini.
"Rama dirumah sakit" Lanjutnya.
"Siapa yang sakit?" Tanya Nana mulai khawatir, apa mama atau papa pikirnya. Kenapa ia tidak tahu kalau mertuanya sakit.
"Kekasihnya mengalami kecelakaan. Dia baru kembali dari luar negeri" ucap Damar.
Deg
Nana terdiam. Hatinya bagai dihantam benda keras.
__ADS_1
"Terima kasih" ucapnya setelah sampai di basement apartemen.
"Hemm... . . " Damar memperhatikan wanita yang baru saja melewati mobilnya.
Maaf, bukannya aku tidak melihat ketulusan dalam hatimu, tapi harus ada hati yang dikorbankan.
*
*
Sampai di apartemen, Nana bersandar di pintu yang baru saja di tutupnya. Tanpa diminta air matanya keluar, terdengar tangisan pilu. Tubuhnya terduduk dilantai.
Setelah cukup tenang ia berjalan ke arah meja rias, duduk disana. Membuka laci kecil di meja itu, diambilnya foto kecil yang ia cetak beberapa hari yang lalu, foto saat ia tertidur dipangkuan Rama.
Apa harus menyerah saat ini.
Diambilnya lagi Kertas dari dalam laci.
Masih tinggal satu langkah, aku tidak boleh berhenti di tengah jalan, aku harus melanjutkannya. Baru aku boleh menyerah. Anggap saja hari ini aku tidak tahu apa - apa, dia masih kekasihku, bahkan dia masih suamiku.
Nana menyemangati dirinya sendiri. Berusaha tersenyum saat air matanya tak mau berhenti turun. Menatap pantulan dirinya di dalam cermin . Matanya terlihat bengkak.
Memgambil baju ganti didalam lemari lalu melangkah ke kamar mandi. Mencuci muka sembari menggosok gigi. Setelah selesai keluar dari kamar mandi lalu naik ke ata ranjang, bersandar sembari mengambil ponselnya.
Nana : [Apa yang terjadi? Apa semuanya baik - baik saja]
*
*
Keesokan paginya. Seperti biasa membuat sarapan untuk dirinya sendiri sebelum berangkat bekerja.
Nana : [Sayang aku sudah sarapan, apa kekasihku ini sudah sarapan juga, muaccc... ]
Nana : [Nanti jemput aku ya]
Nana tetap tersenyum meskipun pesannya belum terbaca mulai semalam.
Kembali ke langkah pertama, positif thinking.
*
*
Nana melewati harinya dengan bekerja, mengirim pesan tetap ia lakukan. Wajahnya selalu tampak murung. Kity dan Anton melihat perubahan sikap Nana, namun mereka tidak mau terlalu ikut campur dalam masalah Nana. Setiap ditanya Nana selalu menjawab tidak apa - apa.
__ADS_1
Sudah dua hari tidak ada kabar dari Rama, pesannya hanya dibaca saja. Namun Nana tidak menyerah ia tetap mengiriminya pesan seperti biasanya.
Saat ia sedang bekerja ada seseorang yang datang menemuinya.
"Maaf mengganggumu, tapi ikutkah denganku ke rumah sakit" Ucap Damar sahabat Rama.
"Untuk apa?" tanya Nana, karena ia tahu sahabat Rama yang bernama Danar ini tidak menyukainya.
"Setidaknya temuilah Rama, paksa dia untuk makan" Nana tertawa miris dalam hatinya.
Dia sampai tidak bisa makan sebesar itukah cintanya. Tidak adakah sedikitpun aku dihatinya. Bahkan dia tidak mengingatku sama sekali.
"Tunggu sebentar" jawab Nana akhirnya, ia menyetujui ajakan Damar untuk ke rumah sakit. Ia juga ingin bertemu dengan Damar. Melihat laki - laki yang ia rindukan itu.
Nana sudah mendapatkan ijin dari manajernya. Keluar dari restoran setelah berganti pakaian. Damar sudah menunggunya disamping mobil.
Menghela nafas berat, ia memantapkan langkahnya mengikuti Danar yang berjalan di depannya.
"Masuklah" Ucap Damar setelah sampai di ruangan vip tempat kekasih Rama dirawat.
Dengan memberanikan diri Nana masuk keruangan itu setelah Damar membukanya.
Terlihat laki - laki yang sudah dua hari tidak ia temui, laki - laki itu tampak berantakan, tubuhnya terlihat lebih kurus.
Hanya dua hari tidak bertemu kau sudah seperti ini. Dan itu karena wanita yang terbaring di atas ranjang
Nana berjalan mendekat. Rama mendongak mendengar langkah seseorang.
Tatapan mereka bertemu. Nana memgesampingkan egonya.
"Bagaiamana keadannya?" tanya Nana, melihat wanita yang sangat cantik terbaring lemah diranjang rumah sakit.
"Dia tidak mau bangun" Jawab Rama menatap wanita yang terbaring.
"Kau sudah makan? " Rama tidak menjawab. Nana melangkah ke arah sofa, disana sudah ada sebungkus nasi, membukanya lalu meletakkannya di atas piring.
"Kemarilah, dia akan sangat sedih melihatmu seperti ini, bukankah kau ingin menjadi orang pertama yang dilihatnya ketika dia bangun nanti" Nana berusaha untuk membujuknya, meskipun ia tak yakin akan berhasil tapi dilihat dari tatapan matanya Rama sangat mencintainya.
Rama masih diam, tak berapa lama ia bangkit dari duduknya lalu melangkah ke arah Nana yang sudah menunggunya.
Dengan telaten Nana menyuapi Rama sampai makanan itu habis. Rama meminum air mineral dari tangan Nana.
Mungkin inilah saatnya aku melakukan langkah terakhir, 'jadi pendengar yang baik saat dia berbicara'
"Apa yang terjadi? Ceritalah padaku?" tanya Nana dengan hati yang berdebar, ada rasa takut untuk mendengar ucapan Rama, tapi ia tidak punya pilihan lain, ia juga tidak punya waktu lagi, satu bulannya tinggal beberapa hari lagi.
__ADS_1
"Dia koma, aku yang salah. Seharusnya dia pulang beberapa bulan lagi, tapi dia terpaksa pulang hari itu karena tahu hubungan kita, ia terburu-buru sehingga taxi yang ia tumpangi mengalami kecelakaan karena ingin segera menemuiku. Aku harus bagaimana? Aku membuatnya seperti ini. Akulah penyebabnya"
Tes... tiba - tiba sesuatu jatuh dari mata indahnya tanpa disadari laki - laki disampingnya yang saat ini sedang menutup wajahnya dengan kedua tangannya.