
Nana tersenyum lembut ke arah suaminya. Lalu melanjutnya langkahnya bersama. Semua mata memandang ke arahnya.
"Rama... Duduklah" sapa mama Silvi.
Belum menjawab terdengar suara sepatu yang melangkah dari arah pintu, semua mata mengarah kesana karena kerasnya suara sepatu.
Seorang wanita cantik melangkah masuk ke ruang tengah dengan senyum di bibirnya.
"Sayang kau sudah sampai" tanya salah satu tante Rama.
"Ya tante, maaf terlambat" jawabnya mwrasa bersalah, padahal ia sudah berusaha untuk lebih cepat namun jalanan begitu macet.
"Ini belum mulai acaranya, duduklah dulu" lalu wanita itu duduk disebelah tantenya.
"Titi ini keluarga tante. Ini Titi putri sahabatku yang kebetulan menginap dirumah karena orangtuanya keluar negeri"
Lalu tante yang bernama Hilmy itu memperkenalkan keluarganya satu persatu.
"Titi ini Rama keponakan tante dan disebelahnya istri Rama namanya Nirwana, Rama Nana ini Titi.
"Sakam kenal, maaf harus datang ke acara kekuarga kalian" ucapnya merasa tak enak namun tatapan kagumnya pada Rama membuat Nana tak suka.
*
*
Acara pun dimulai, mereka hanya berbincang ringan saja, tentang keluarga, bisnis, dan jyga keseharian. Nana merasa jengah dengan tatapan wanita yang daritadi mencuri pandang pada suaminya.
Apalagi statusnya yang masih single. Membuat Nana frustasi setelah melihat tantenya seperti ingin mendekatkan wanita itu pada suaminya.
Apa - apain ini, mereka pikir aku akan tinggal diam, meskipun aku belum punya anak, aku Nirwana tidak akan menyedekahkan suamiku sendiri.
"Titi tolong berikan ini pada Rama" ucap sang tante.
"Baik tante" jawab Titi Ramah, lalu ia berjalan sedikit untuk menuju ke tempat Rama duduk.
Mereka semua dapat melihatnya dan mendengar semuanya tapi mereka hanya diam saja. Saat sampai di dekat Rama. Tidak ada yang berminat untuk menegurnya. Mama Silvi hanya melihatnya saja.
"Ini..... " ucap Titi belum selesai.
"Terima kasih, kau sangat baik" Nana yang menerima piring dari tangan Titi. Sementara Rama hanya fokus dengan ponselnya. Nana mengambil sepotong kue dari piring yang diberikan wanita yang entah dari mana asalnya lalu menyuapi suaminya.
Rama bukannya tidak tahu dengan apa yang terjadi, hanya saja ia suka melihat perubahan wajah sang istri, sekaligus ia ingin melihat apa yang akan dilakukan sang istri.
Dan apa yang dilakukan Nana membuatnya bahagia, karena itu artinya dia sangat berharga bagi sang istri.
__ADS_1
"Aku ingin pergi dari sini, kau mau ikut" bisik Rama ke telinga wanitanya.
"Tidak enak meninggalkan tamu, apa kata mereka nanti"
"Kau tenang saja, aku punya cara untuk keluar dari sini" mereka saling berbisik.
"Baiklah aku ikut, kau terlalu memaksa"
Lalu Rama menatap mama tercinta, tanpa sengaja mama melihat ke arah Rama. Dan ia hafal betul tatapan Rama yang seperti itu.
Mama Silvi mendesah pelan. Terpaksa ia harus berakting.
Mama berpura - pura menoleh ke kanan kiri mencari Rama. Padahal Rama duduk tidak terlalu jauh.
"Rama, bisakah mama minta tolong" tanya Mama Silvi.
"Ya, tentu" sahut Rama singkat.
"Tolong ambilkan pesanan kue mama ditoko langganan mama, kamu masih inget kan"
"Ya, aku akan berangkat sekarang" jawab Rama lalu berdiri tak lupa menarik tangan sang istri.
Titi melihat kepergian Rama dengan wajah kecewa.
Senyum terukir kembali diwajahnya, namun semyum itu tiba - tiba luntur ketika pesanan kue datang diantar kurir.
"Astaga aku lupa kalau memesan lewat kurir" ucap mama Silvi sedikit keras agar terdengar oleh semua orang. "Maklum faktor usia jadi sering lupa" lanjutnya sambil cengengesan.
"Sebaiknya kau hubungi Rama agar segera kembali" kata tante Hilmy.
"Baiklah" sahut mama Silvi. memgambil ponselnya di atas meja lalu mengetik pesan pada putranya.
Mama : [ Bersenang - senanglah, jangan pulang kerumah, menginaplah di hotel]
Sebenarnya itu hanya alasan Mama Silvi menyuruh Rama keluar untuk mengambil kue yang sudah ia pesan, Rama yang meminta bantuannya untuk keluar dari sana. Ibu dan anak yang kompak. Papa yang tahu akal bulus istrinya hanya geleng - geleng kepala.
Rama tersenyum membaca pesan dari sang mama.
"Mama memang yang terbaik" gumam Rama yang juga di dengar Nana.
"Kau tega sekali meninggalkan mereka" seru Nana yang juga tidak bisa berbohong kalau dia juga senang keluar dari pertemuan itu.
"Apapun akan aku lakukan agar istriku senang" rayu Rama
"Apanya senang? Aku merasa tidak enak lada kelurgamu"
__ADS_1
"Benarkah sayang, terus kenapa tadi kau cemberut saat ada wanita yang mendekatiku"
"Dia kecentilan, sudah tahu ada aku disampingmu, masih saja usaha" ucap Nana kesal.
Rama tertawa mendengar kekesalan sang istri.
*
*
Enam bulan sudah berlalu sejak pertemuan keluarga itu. Tante Hilmy masih sering menghubungi suaminya. Sebenarnya suami tante Hilmy yang saudara sepupu mama Silvi. Tante Hilmy masih berusaha untuk mendekatkan suaminya dengan putri sahabatnya.
Namun Rama selalu mengabaikannya. Tentunya itu membuat istrinya senang.
Hari ini Nana akan ke kantor Rama untuk mengantar makan siang. Entah kenapa sang suami ingin makan masakan kampung, sayur asem, tahu goreng dan pepes tongkol. Nana dengan senang hati memasak buat suami tercinta.
"Porsi makanku biasa saja, tidak ada yang berubah, tubuhku juga biasa saja, pipiku tidak terlalu chubby tapi kenapa perutku sedikit membesar, mungkin ini efek kurang olahraga" gumam Nana melihat pantulan dirinya di depan cermin. Dia merasa aneh saat memakai dress perutnya terlihat sedikit membuncit.
Nana sampai di perusahaan Rama. Ia kesana diantar sopir lalu ia turun dari dalam mobil. Semua karyawan sudah tahu siapa dirinya. Meskipum ia istri bos Nana tidak merasa sombong. Ia menyapa ramah setiap bertemu denga karyawan suaminya.
Nana menuju lift khusus petinggi perusahaan. Saat sampai di depan pintu ruang kerja suaminya, ia mengetuk pintu dulu. Ia segera masuk setelah mendengar suara suaminya yang menyuruhnya masuk.
Rama masih sibuk dengan pekerjaannya saat Nana masuk ke dalam ruangannya. Karena tak ada pergerakan dari seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangannya, Rama pun mendongak menatap lurus kedepan.
Tidak ada sekertarisnya, lalu ia menatap ke arah kanan terlihat istrinya duduk manis di sofa dengan senyum jahilnya.
Rama bangun dari duduknya lalu menghampiri sang istri. Entah kenapa Rama merasa hari ini istrinya terlihat cantik.
"Kau sangat cantik" ucap Rama setelah mendudukkan bokongnya ke sofa di sebelah istrinya.
"Istrimu ini memang selalu cantik" sahut Nana sedikit membanggakan dirinya membuat Rama terkekeh kecil. Lalu menyentuh pipi sang istri, mengelusnya lembut.
"Kau sedikut gendutan" Rama mencubit pipinya gemas.
Nana tersentak "Aku tidak gendut" sergahnya cepat.
"Ya kau sexy dan sedikit berisi"
Nana melotot sempurna. "Aku tidak gendut" sergahnya lagi. Sedikit berisi dan gendut apa bedanya pikir Nana.
...****************...
Yuk mampur ke novel teman author,
__ADS_1