
Ada ketegangan di meja makan. Mereka bertiga duduk dalam diam dengan Nana yang nenatap tajam pada laki - laki yang membawakan mereka makanan atas perintah suaminya.
"Ada yang mau dijelaskan padaku?" tanya Nana tanpa mengalihkan tatapannya pada laki - laki itu dan beralih menatap suaminya.
"Dia asistenku selama ada disini?" jawab Rama singkat.
"Saya hanya asisten sementara bos nyonya" sahut laki- laki yang tak lain adalah pak Jo.
Nana memukulkan sendoknya ke atas meja menghasilkan bunyi tuk tuk tuk.
Menutup matanya sejenak lalu membukanya kembali. Ia ingin mengatakan apa yang ada dipikirannya.
"Membeli ponsel hampir setiap hari, apa kau juga disuruh oleh bosmu itu? " tanya Nana menatap pak Jo tajam.
Ia sempat terkejut saat ia membuka pintu pak Jo yang juga ia kenal sebagai pelanggan yang sering membeli ponsel di toko tempat ia kerja, berdiri dan memberikan makanan yang katanya dipesan oleh sang suami.
Ia menghentikan langkah pak Jo yang ingin pergi. "Tunggu, masuklah"
*
*
Menatap Rama sejenak sebelum berucap. " Ya nyonya bos"
"Bosmu pelit sekali, kenapa hanya membeli satu ponsel?"
"Hah? " pak Jo ternganga ia pikir Istri bosnya itu akan marah.
"Kalau membeli lebih dari satu aku akan mendapat bonus yang banyak, mungkin bonusku bisa mencapai sepuluh juta" ucap Nana membuat pak Jo menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Saya hanya disuruh nyonya" belanya.
Menatap Rama. "Jadi apa sebenarnya misi mas Rama datang ke kota ini, sepertinya aku salah paham dengan berpikiran mas Rama mengalami kebangkrutan"
"Aku tidak pernah bilang aku bangkrut, aku masih sangat kaya" sombongnya.
"Ck. tentang misi yang pernah mas katakan itu bagaimana?" tanya Nana lagi
"Aku sudah menyelesaikannya, dan sukses besar"jawab Rama dengan tersenyum bangga.
"Ohhhh..... " Nana hanya ber oh ria, entah misi apa yang dikerjakan suaminya itu.
"Misi menikahimu kembali"
"Apa? " Nana terkejut mendengar perkataan suaminya. Misi mendapatkannya.
Terbersit sebuah pikiran buruk dipikirannya. "Apa pernikahan kita ini ulah mas Rama" tebak Nana, ia akan sangat marah jika suaminya berkata iya.
"Tidak, aku tidak sepicik itu. Tapi aku hanya memanfaatkan keadaan, disaat ada kesempatan seperti itu tidak mungkin kan aku sia - siakan. Aku hanya mengikuti apa yang mereka tuduhkan" jelas Rama tanpa merasa bersalah.
__ADS_1
Nana menghela nafasnya pelan. Bingung harus berkata apa lagi.
*
*
"Haruskah kita berangkat sore ini, tidak bisakah ditunda dulu, aku belum meminta ijin untuk mengambil libur, aku juga belum memberi keterangan kenapa kemarin tidak masuk kerja"
"Jangan khawatir, aku sudah mengurus semuanya, kau sudah tidak bekerja disana lagi, aku sudah menyuruh pak Jo memgurus semuanya, mulai saat ini kau bukan karryawan toko lagi tapi pemilik toko" ucap Rama sembari memberikan dokumen kepemilikan toko mainan yang dibelinya.
Dari awal membeli toko itu sudah atas nama Nana, ia ingin memberikan toko itu untuk Nana. seandainya pun ia tidak berhasil untuk menikahi Nana kembali ia tetap akan memberikan toko itu.
"Kenapa kau tidak bertanya dulu padaku, kau memutuskan semuanya sendiri"
"Maaf... aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan sehak dulu, maaf telau membuatmu susah. Tapi sedikit saja lihat pengorbananku. Aku harus kembali ke Jakarta karena pekerjaanku tidak bisa menunggu lagi. Dan kau sebagai istriku, ikutkah bersamaku"
Deg
Apa dia sudah keterlaluan. Hanya karena masalah pekerjaan. Bukankah seharusnya dia sudah tahu resikonya menikahi seorang Rama. Tidak mungkin kan mereka ringgal terpisah.
Aku tidak mau kita tinggal terpisah.
"Baiklah, maaf aku tidak berpikir ke arah sana, setidaknya biarkan aku berpamitan pada teman - temanku" ijin Nana.
"Aku tidak akan melarangmu" sahut Rama.
"Terima kasih, lalu bagainana dengan tokonya? " tanya Nana kembali.
"Aku akan mengelolanya, terima kasih idenya, aku akan mempercayakannya pada teman kerjaku"
*
*
Setelah berpamitan pada teman- temannya, Nana dan Rama segera berangkat ke Bali. mereka akan honeymoon. Waktu dini hari mereka sampai di Bali. Mereka langsung istirahat karena kelelahan.
Pagi hari mereka terbangun, lebi tepatnya Rama yang terbangun terlebih dahulu lalu ia membangunkan istrinya itu.
"Ayo bangun, kita sholat subuh dulu"ajak Rama. Lalu mereka beranjak dari tempat tidur karena waktu sholat hampir habis.
"Sayang.... " panggil Rama membuat Nana menoleh ke arahnya setelah mereka selesai sholat.
"Ya mas? "
"Mulai saat ini bersandarlah padaku, libatkan aku selalu dalam setiap urusanmu" ucap Rama tegas.
"Baiklah suamiku" sahut Nana sembari tersenyum manis. "Apakah hari ini kita akan jalan - jalan? " tanya Nana.
"Kau ingin jalan - jalan? " tanya Rama balik lalu Nana menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Baiklah, ayo bersiap" Nana bahagia mendengarnya, padahal tadi ia sudah berpikir Rama akan mengurungnya didalam kamar hotel seharian.
Ia tidak terkejut dengan hotel tempatnya menginap karena harganya pasti fantastis tapi tidak bagi seorang Rama. Kamar hotel itu cukup luas dengan kolam renang pribadi. Tidak akan ada yang melihat kita meskipun hanya memakai bikini.
"Sudah siap sayang? " tanya Rama yang sempat melihat istrinya itu melamun. "Apa yang kau pikirkan?" tanya Rama.
"Berpaa harga hotel ini semalam? " tanya Nana membuat Rama tersenyum tipis.
"Kau ingin membayarnya? " tanya Rama menggoda.
"Tidak, aku hanya bertanya saja, aku tidak ingin melukai harga dirimu dengan membayar hotel ini"
Rama tertawa lepas, ucapan wanita di depannya ini sungguh membuatnya terpingkal.
"Terima kasih karena telah menjaga harga diriku, aku yang akan membayar harga hotel ini" sahutnya kemudian.
Lalu mereka berjalan bergandengan tangan keluar dari kamar hotel.
Mereka tampak bahagia. Rama sedikitpun tak melepaskan pegangannya pada tangan istrinya itu. Mereka tertawa dan bercanda sampai tak menyadari jika sedari tadi ada seseorang yang memperhatikannya dengan tatapan horor.
"Jadi kalian punya hubungan" gimamnya lirih.
*
*
"Kau lelah sayang?"
"Hemmm.... "
"Ayo kembali kita bisa melanjutkannya besok"
"Baiklah, ayo kita kembali" ucapnya sembari menggandeng tangan Nana.
Setelah makan malam Rama tak Melepaskan Nana sedikitpun. Mereka melakukan kegiatan panasnya kembali entah sudah berapa kali sampai mereka akhirnya telelap dengan sendirinya.
"Sudah pagi" Nana berusaha menggerakkan badannya. Mencari sosok yang sudah menjadi suaminya itu.
Terdengar suara air. Sepertinya suaminya sedang berenang. Setelah mencuci muka ia keluar menuju kolam renang.
"Turunlah" seru Rama.
Nana melangkahkan kakinya masu ke dalam air sampai sebatas bahu.
"Dingin sekali?"
"Butuh kehangatan" tanya Rama. Nana berhambur memeluk tubuh Rama. "Masih dingin?"
"Ya"
__ADS_1
"Mungkin kita perlu melakukan pemanasan" ucao Rama.
Rama langsung mengecup bibir ranum wanitanya lalu ********** memberikan gigitan kecil. Dan kegiatan panas pun terulang kembali.