
Dengan langkah pasti dan senyum yang terkembang di bibirnya. Penuh percaya diri Nana membuka pintu itu.
Jleb
Apa ini?
Raut wajahnya pias, yang melamar disana seperti ikut audisi saja. Banyak sekali mungkin lebih dari 70 orang.
Ia bingung, mau masuk tapi enggan mau mundur
Ia butuh pekerjaan. Akhirnya perlahan ia melangkah masuk mencari tempat yang kosong, tempat untuk ia berdiri, karena kursi yang tersedia tidak banyak.
"Mau melamar sebagai apa? " tanya wanita di dekatnya mungkin masih seumuran dengannya.
"Sebagai staf accounting" jawab Nana, wanita yang tadi bertanya hanya manggut - manggut saja.
Satu jam
Tiga jam
Lima jam pun berlalu.
Nana melangkah gontai keluar dari gedung perusahaan itu. Personalia mengatakan akan menghubunginya beberapa hari lagi. Nana masih berjalan menyusuri jalan, ia berhenti di sebuah warung bakso yang tak jauh dari sana, tadi siang ia hanya makan cemilan.
"Pak baksonya dua porsi dan es teh satu" pesan Nana sebelum duduk di meja yang ia pilih. Ia butuh tambahan tenaga ekstra, untuk melanjutkan hidup.
"Baik nona, ditunggu" jawab tukang bakso.
"Sepertinya aku tidak cocok tinggal di kota besar" lirihnya. Hari ini melelahkan batin Nana.
Jika memang harus bercerai mungkin aku akan pulang kampung, mulai saat ini aku harus mengandalkan diriku sendiri. Semangat Nana, kurangi mengeluh banyak bersyukur. Bukankah Allah akan menambah nikmatnya.
Tak lama bakso yang ia pesan sudah tersaji di meja.
"Terima kasih mas" ujar Nana pada mas yang mengantar baksonya. Lalu dengan lahap Nana menyantap makanannya. Ia memakan tahu, siomay dan menghabiskan kuahnya terlebih dahulu, setelah hanya tersisa pentolnya saja, Nana menambah kecap, saos dan sambal, lalu lanjut melahap sisa pentolnya... emmmm mantap....
Setelah selesai, Nana membayar baksonya lalu melanjutkan langkahnya kembali. Hari ini uangnya habis karena naik taxi. kali ini ia memutuskan untuk naik angkot saja.
Ia berhenti di sebuah swalayan yang sudah sekat dengan apartemennya. Saat akan memasuki swalayan, ia melihat kertas pemgumuman disebuah kaca restoran. 'Dibutuhkan karyawati segera'. Restoran itu lumayan besar.
Dengan langkah seribu, Nana mengurungkan niatnya untuk masuk ke swalayan, melangkah menuju restoran itu, kemudian bertanya pada salah satu pelayan. Pelayan itu memberi Nana arahan untuk menuju ruangan manajer yang berada di ruang belakang.
Nana masuk ke dalam ruangan itu setelah mengetuk pintu.
"Permisi pak, saya membaca pengumuman di depan kaca bahwa disini membutuhkan karyawati segera, saya mau melamar pak"
"Duduklah, perkenalkan dirimu dulu" titah pak manajer itu.
Setelah perkenalan singkat dan interview ringan Nana diterima bekerja disana karena kebetulan karyawan restoran itu ada yang mengundurkan diri karena kecelakaan. Restoran semakin ramai jadi pihak restoran memutuskan untuk menambah karyawan khususnya perempuan.
__ADS_1
"Mulai besok pagi mulailah bekerja, apa kau keberatan? " tanya Pak Ali sang manajer.
"Tidak sama sekali pak, besok saya akan datang pagi" jawab Nana penuh semangat.
"Baiklah, sampai bertemu besok pagi"
Nana keluar dari ruangan itu dengan perasan bahagia.
"Yes, besok aku mulai bekerja, akhirnya dapat juga, Alhamdulillah ya Allah, terima kasih" ucap Nana tersenyum lebar, matanya sudah berkaca - kaca setelah berulang kali ditolak sekarang ia diterima.
Nana sudah merasakan bagaimana susahnya mencari pekerjaan. Bolak balik ditolak rasanya itu wauuuuww.
Dengan perasan bahagia Nana menghubungi kekasihnya. Sudah tiga kali memanggil tapi ponsel Rama berada dipanggilan yang lain.
"Dia sangat sibuk, aku tulis pesan saja" gumamnya lirih. Hari ini ia tidak boleh absen bertemu dengan kekasihnya, waktunya hanya satu bulan.
Nana : [Sayang, nanti malam nonton yuk]
Sampai di apartemen, Nana membersihkan dirinya di dalam kamar mandi, sebelum melaksanakan sholat ashar.
Maaf ya Allah, hamba terlambat sholatnya.
Setelah sholat Nana membaca alquran sebentar, hatinya merasa tenang dengan membaca ayat-ayat alquran. Nana keluar dari kamar setelah melipat mukenahnya kembali.
Menonton televisi adalah kegiatannya dikala bosan. Beberapa menit kemudian TVnya yang menonton Nana. Nana tertidur pulas.
Pintu apartemen terbuka. Sosok laki - laki yang mengenal letak apartemen dengan baik masuk ke dalam apartemen itu. Melangkah ke arah televisi yang masih menyala namun tidak ada istrinya disana, Rama hendak mematikan televisi namun ia urungkan setelah melihat ke arah sofa didepan televisi istrinya tertidur lelap.
Sepertinya dia sangat lelah. Apa yang dilakukannya seharian ini.
Mendekati istrinya lalu duduk disofa yang masih kosong tepat diatas kepala Nana.
Mengajakku nonton tapi malah molor.
Rama masih menatap wajah istrinya lalu membelai lembut rambut panjang istrinya. Senyum tersungging di bibirnya.
Ternyata kau cantik juga.
Rama menyentuh hidung istrinya. Entah bagaimana Rama juga ikut terlelap di sofa itu bersama Nana. Dengan posisi Nana yang tertidur di paha Rama dan Rama dengan posisi duduknya. Mereka mengarungi dunia mimpi bersama.
Merasa lehernya pegal, Nana terbangun. Membuka matanya lalu mendongak.
Mas Rama
Merasa belum percaya, Nana mengucek kembali matanya, masih Rama yang ia lihat. Setelah kesadarannya terkumpul penuh, baru dia menyadari kalau itu memang kekasihnya.
Nana mengambil ponsel yang ada diatas meja dengan salah satu tangannya tanpa mengubah posisinya. Nana mengabadikan momen langka itu.
Cekrak Cekrek. Nana berpose dengan berbagai gaya.
__ADS_1
Setelah itu Nana membalik tubuhnya menghadap ke perut Rama, berkali - kali mencium perut itu.
Bahagiaku sederhana, bersamamu aku bahagia.
Pergerakan Nana mengganggu Rama yang sudah terlelap. Rama membuka matanya, melihat kebawah, ke arah istrinya yang sedang memeluk perutnya. Senyum tipis terlihat di bibirnya.
"Kau sudah bangun?" suara bariton kekasihnya menghentikan gerakannya, mendadak Nana diam. Perlahan membalik tubuhnya lalu duduk sejajar dengan Rama. Nana merasa sedikit gugup.
"Kapan datang?" menjawab dengan pertanyaan.
"Sejak air liurmu menetes" jawab Rama santai.
"Ck... bohong... mana mungkin secantik ini ileran" ucapnya sembari menyentuh pipinya, takut - takut beneran ada iler disana, ternyata Rama hanya menggodanya saja.
Rama terkekeh pelan.
"Apa kau masih ingin nonton? " tanya Rama karena tadi Nana mengajaknya nonton.
"Aku merasa lelah"
"Apa yang kau lakukan hari ini?" tanya Rama lagi melihat kekasihnya yang kelelahan.
"Aku mencari pekerjaan, kau tahu aku melamar ke tiga perusahaan hari ini" cerita Nana bersemangat.
"Kau diterima?"
Nana menggelengkan kepalanya.
"Bekerjalah diperusahaanku"
"Bagaimana kalau kau dipecat karena ketahuan punya hubungan denganku, kalau perusahaan besar biasanya dilarang pacaran sesama rekan kerja"
"Begitukah? "
"Hemmm.... Tapi.... " Nana menjedda ucapannya. "Besok aku mulai bekerja, bekerja di restoran"
"Selamat, ayo kita rayakan"
"He.... aku belum gajian, nanti aku akan mentraktirmu setelah menerima gaji pertama"
"Baiklah... " Rama berdiri, melangkah menuju kamar disebelah kamar Nana.
"Mau kemana?"
"Mandi, mau ikut? " tanya Rama menggoda. Nana memanyunkan bibirnya.
"Jangan menggodaku" jawabnya pelan yang masih mampu di dengar oleh Rama. Nanti aku tidak tahan lanjutnya dalam hati.
Rama melihat wajah Nana yang sudah memerah, membuat Rama terkekeh kecil.
__ADS_1