
"Heh.... Nglamun aja, awas dibawa syetan neng" Goda mas anton sembari memukul pundaknya.
"Lagi galau nih mas..... " jawab Nana sesuai suasana hatinya.
"Ngapain galau mending makan aja" timpal Kity. Sembari meletakkan cemilan di atas meja. Nana langsung mencomotnya disusul Anton.
Pengunjung tidak terlalu ramai hari ini hanya beberapa saja, jadi mereka bisa sedikit santai sebelum jam makan siang.
Hubungan mereka semakin akrab, sifat Nana yang supel membuat rekan sejawathya menerimanya dengan tulus. Awalnya Kity bersikap ketus padanya namun Nana selalu menggodanya sampai akhirnya mereka terlihat lebih dekat. Anton dan Kity adalah koki di restoran itu, usia mereka sekitar 26 tahun, namun nasib percintaan mereka tidak semulus itu. Anton seorang duda ditinggal selingkuh oleh istrinya, sementata Kity ditinggal menikah oleh kekasihnya. Cinta yang menyedihkan.
Nana berpikir kalau dirinya lebih baik dari mereka namun kenyataannya, hubungannya juga rumit. Dulu dia hanya kekasih suaminya sendiri, sekarang tambah lagi si kaya dan si miskin. Untung saja Nana masih cantik jadi tidak ada si tampan dan si buruk rupa.
"Kamu diputusin ya?" Tanya Anton. Nana menggelengkan kepalanya dengan mimik cemberut.
"Terus kenapa,wajah murungmu itu jelek sekali" timpal Kity, suka ceplas ceplos kalau sudah membuka mulutnya.
"Ternyata kekasihku orang kaya mbak, aku merasa tidak pantas bersamanya" pantas saja dia menceraikanku lanjutnya dalam hati.
Anton dan Kity tertawa terbahak mendengar ucapan wanita yang lebih muda dari mereka itu. Nana merasa bingung melihat dua rekannya itu menertawakannya.
"Neng, sekarang itu sudah tidak penting, kaya atau miskin, kalau kaya mah itu namanya rezeky nomplok. Selama restu orang tua sudah ditangan, udah pepet terus jangan kasih kendor" Nasehat Anton. Emang gampang menasehati orang tapi susah untuk praktek sendiri, sampai istrinya saja kabur.
"Begitukah? "
"Bejuanglah untuk cintamu kawan" Seru Kity tenang seraya menepuk pundaknya memberikan energi positif.
Sepertinya mereka benar, aku harus berjuang sampai titik penghabisan.
Mereka pun kembali bekerja karena pengunjung berdatangan mengingat jam istirahat tinggal setengah jam lagi. Mereka bekerja dengan semangat.
Jika kita bisa mencintai pekerjaan kita, maka kita akan menjalaninya tanpa beban, namun jika kita tidak bisa mencintai pekerjaan kita apapun itu, lebih baik keluar saja.
*
*
Ditempat lain.
Ia masih mengingat kejadian kemarin saat kekasihnya datang mengantarkan makan siang untuknya. Setelah makan ia juga dapat makanan penutup. Mereka berciuman panas, hampir saja Rama membawa kekasihnya itu ke kamar yang ada diruangannya kalau saja Nana tidak bekerja.
Rama sudah menyuruhnya untuk libur, cuma Nana tidak mau melakukannya, dia harus bertanggung jawab denagn pekerjaannya.
Ceklek.
Dua orang terpaksa masuk sendiri setelah berkali - kali mengetuk pintu namun tidak mendapatkan respon dari seseorang yang berada di dalam ruangan.
__ADS_1
"Pantas saja kau tuli, apa yang kau pikirkan? Jangan bilang kau jatuh cinta lagi?" Seru Rian. Ya Rian dan Damar berkunjung ke kantor Rama. Sifat Rian dan Kity hampir sama tidak bisa mengontrol ucapannya.
"Apa kalian tidak bisa mengetuk pintu dulu sebelum masuk?" Sergah Rama, sahabatnya itu kebiasaan main nylonong aja.
"Kami sudah mengetuk, kau saja tertawa sendiri seperti orang tidak waras saja" balas Rian.
"Aku hanya tersenyum?" Belanya.
"Apa yang membuatmu tersenyum, apa kau sudah melakukan malam yang hot" goda Rian tanpa beban meluncur begitu saja dari mulut beonya.
Perkataan sahabatnya tepat sasaran. Rama terdiam.
"Kau sudah melakukannya, dengan siapa?" Damar menimpali setelah dari tadi terdiam, melihat perubahan wajah Rama yang membenarkan ucapannya.
"Jangan bicara sembarangan" sergahnya menghindari tatapan keduan sahabatnya.
Namun Damar melihat keraguan dari ucapan Rama.
"Jangan bermain api, jika kau tidak bisa mengendalikan dirimu sendiri" Ucap Damar penuh arti. Rama merasa sahabatnya itu mengetahui sesuatu.
Rama tidak mau membahasnya, lagi pula sebentar lagi dia akan bercerai, tidak ada salahnya kan ia menikmati hubungan yang tinggal beberapa hari lagi. Namun Rama lupa satu hal, hati tidak bisa dipermainkan.
"Apa tujuan kalian kemari? " tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Hanya merasa bosan di kantor kami" Jawab Rian apa adanya.
"Uang kami masih banyak" hanya Rian yang menjawab pertanyaan Rama. Damar hanya diam melihat kedua sahabatnya berdebat.
"Kau akan menikah, saat dia kembali? " tanya Damar kemudian. Rama terdiam, seminggu ini dia sedikit melupakan kekasihnya itu.
Dulu Rama berencana menikahi kekasihnya setelah kembali, namun mamanya meminta ia untuk menikahi wanita lain. Rencana itu masih ada jika kekasihnya mau bersamanya. Tapi sekarang bagaiamana perasaannya terhadap Nana.
Damar masih menunggu jawaban Rama, entah apa yang dipikirkan Rama, sehingga tak kunjung mengeluarkan suara emasnya.
*
*
Malam pun tiba, Rama menjemput wanita yang selama satu bulan ini menjadi kekasihnya.
Nana melambaikan tangannya ketika melihat mobil Rama sudah di basement apartemen. Rama segera melajukan mobilnya setelah Nana masuk ke dalam mobil.
"Kita mau kemana? " Tanya Nana karena tadi Rama menghubunginya akan mengajaknya ke suatu tempat dan menyuruhnya untuk berdandan cantik.
Rama melihatnya sekilas seraya tersenyum. Sengaja tidak menjawab pertanyaan wanita disampingnya.
__ADS_1
Nana mengerucutkan bibirnya. Tiba - tiba berubah tersenyum.
Apa mas Rama akan memberiku kejutan. Wah senangnya hatiku.
Nana tersenyum lebar, Rama menangkap senyumam itu.
"Kenapa tersenyum? " Tanya Rama. Nana gelagapan merasa tertangkap basah senyum - senyum tak jelas.
"Ah.... Tidak.... Tidak apa - apa"
Setengah jam berlalu, mereka belum sampai juga.
Drrzttt drtzztttt.. .. .
Ponsel Nana berdering. Melihat ponselnya sembari menyipitkan satu matanya melihat nama yang memanggilnya. Untuk apa dia menghubungiku pikirnya.
Nana memgangkat ponselnya, menatap ke arah Rama.
"Hallo... .. . "
"... . . . . . .. "
"Ya" jawab Nana.
"Dimas menghubungiku, katanya suruh tuan Rama mengaktifkan ponselnya" begitulah pesan Dimas. Ya yang menghubunginya asisten Dimas. Perasaannya mulai tidak enak sepertinya ada hal yang urgent.
"Biarkan saja, aku sengaja mematikan ponselku"
"Sepertinya sangat penting" jawab Nana
"Aku tidak mau ada yang mengganggu malam kita" ucap Rama manis, membuat Nana tersipu malu. Digombalin begitu Nana sudah melayang.
Dan benar saja ponsel Nana berdering kembali, Dimas menghubunginya lagi. Nana memberikan ponselnya pada Rama.
"Ada apa?" tanya Rama tak sabar. Ia merasa kesal pada asistennya itu yang sudah mengganggu malamnya.
Ciiiiiittttttttt.. .. . . .. .
Mobilnya berhenti mendadak. Nana yang terkejut melihat ke arah laki - laki disampingnya. Terlihat kesedihan, kekhawatiran diwajah tampannya.
Nana ingin bertanya apa yang terjadi namun ia urungkan setelah Rama menatapnya.
"Aku harus pergi, bisakah kau pulang sendiri" Ucap Rama setelah sedikit tenang.
"Baiklah" tanpa bertanya Nana turun dari mobil setelah menerima ponselnya kembali.
__ADS_1
Rama segera melajukan mobilnya setelah Nana turun. Nana menatap nanar kepergian mobil kekasihnya itu.
Dia menurunkanku dijalan. Apa itu artinya aku harus berhenti? Kenapa aku ingin menangis.Ini dimana?