
Ruangan itu terasa mencekam ketika ia mendapat kiriman foto mantan istrinya. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal kuat, hampir saja benda pipih itu remuk ditangannya.
"Damar" gumamnya lirih, dengan rasa terkejut yang luar biasa ia menatap ponselnya.
Bagaimana bisa sahabatnya bersama mantan istrinya, apa mungkin sahabatnya sendiri mendekati mantan istrinya. Apa mereka saling mengenal sebelumnya. Apa dia melewatkan sesuatu. Bermacam pikiran berkecamuk di kepalanya.
Segera diambilnya kunci mobil yang tergeletak di atas meje kerjanya yang tadi sempat ia minta pada Asistennya. Dengan langkah kaki cepat ia sampai di parkiran, tujuannya satu perusahaan sahabatnya Damar. Ia harus mendapatkan penjelasan dari semua ini. Apalagi Damar sudah tahu dengan hubungan mereka.
Tanpa mengetuk pintu ia masuk ke dalam ruangan bernuansa abu - abu milik sahabatny.
"Wauu..... sebuah kejutan, apa yang membawamu kemari dalam keadaan terburu - buru" sapa Damar yang seketika mendongak melihat Rama masuk tanpa mengetuk pintu. Sungguh itu bukan gaya seorang Rama.
Siapa yang tidak terkejut, apa yang menjadi alasan sahabatnya datang dengan penampilan yang sedikit berantakan.
"Ada apa kawan?" tanya Damar lagi, karena Rama belum menjawab pertanyaannya. Rama hanya menatapnya dengan tatapan yang entahlah.
Setelah masuk Rama melangkah perlahan masuk lebih dalam ke ruangan sahabatnya. Dia hanya menatap sahabatnya itu, entah apa yang akan dia lakukan disana, apa yang akan ia ucapkan? situasinya membuat bingung, di satu sisi ia penasaran alasan Damar mendekati mantan istrinya itu, di sisi yag lain Nana bukan lagi istrinya, jadi mereka sangat berhak untuk saling bertemu, bahkan saling menyukai.
"Tidak..... " Rama spontan sedikit berteriak.
"Apanya yang tidak? " Damar dibuat kebingungan dengan tingkah Rama, masuk tanpa mengetuk pintu, berjalan sambil melamun, sekarang berteriak.
"Aku ingin mengajakmu makan siang" akhirnya itulah kata yang keluar.
Damar melihat jam pada pergelangan tangannya. "Masih jam sepuluh pagi. Apa kau sudah lapar? Kita bisa makan siang disini"
"Tidak buruk, baiklah aku akan menunggu disini, pesankan makanan yang enak" sahut Damar aneh.
Setelah menatap Rama, Damar segera menghubungi sekertarisnya untuk menyiapkan makan siang yang masih belum siang untuk mereka berdua.
Tak lama sang sekertaris membawa beberapa bungkus makanan beserta minuman ke dalam ruangan bosnya.
"Letakkan saja disitu" perintah Damar.
"Baik tuan" jawab sekertarisnya, lalu pergi dari ruangan sang bos.
Rama menatap bungkusan yang ada di atas meja. Lalu menghembuskan nafasnya pelan, menutup matanya sejenak lalu membukanya kembali.
"Ada yang ingin kau jelaskan padaku? " akhirnya ia memutuskan untuk bertanya, ia tak peduli apa yang akan dipikirkan Damar tentangnya.
__ADS_1
"Tentang? " tanya Damar yang mulai mengerti apa penyebab kedatangan mendadak sahabatnya itu.
"Tujuanmu mendekati mantan istriku? "
Kini Damar yang menghembuskan nafas berat. Meskipun ia tahu Rama akan menanyakannya tapi untuk saat ini ia juga tidak tahu alasan kenapa ia mendekati mantan istri sahabatnya itu. Karena kesalahpahaman, rasa bersalah atau ada rasa lain setelah pertemuan pertamanya setelah menjadi mantan istri sahabatnya.
Padahal ia sudah menyuruh anak buahnya untuk membuat orang suruhan Rama sibuk. Ya Damarlah yang membuat pak Jo beberapa hari tidak bisa mengawasi Nana.
"Aku pria single dan dia juga wanita single, apa ada masalah?"
Rama merasa tidak puas dengan jawaban Damar. "Apa kalian saling mengenal sebelumnya?" tanya Rama tak ingin mendebat jawaban yang diberikan Damar.
"Awalnya kami tidak saling mengenal sebelum aku tahu dia istrimu dan yang sekarang mantan istrimu, aku pernah mengantarnya pulang saat malam hari dia duduk sendirian di halte bus" begitulah penjelasan Damar, dia tidak memberirahu bahwa ia pernah menyuruh Nana untuk mundur, karena yang ia tahu Nana adalah orang ketiga antara Rama dan Ara.
Deg
Sendirian, malam hari.
Seketika Rama teringat perbuatannya, ia meninggalkan Nana ditengah jalan setelah ia mendapat kabar kecelakaan tentang Ara.
"Shiiiiittt............ " umpat Rama. Ia melupakan kejadian penting itu, awal terjadinya Nana menandatangani surat cerai itu.
'Kau menyesal? '
Rama teringat pertanyaan Nana. Bagaikan dihantam batu besar, hatinya terasa berdenyut, dialah yang menyebabkan Nana pergi tanpa berpamitan padanya, tanpa bertanya lagi bagaimana kelanjutan hubungan mereka, Nana memutuskan secara sepihak tentang perceraian itu meskipun sebelumnya ia yang ingin bercerai.
Tepat satu bulan waktu yang diminta mantan istrinya dengan harapan perceraian itu tidak akan pernah terjadi, tapi perceraian itu tetap terjadi, di hari terakhir Nana memberikan tanda tangannya tanpa syarat sesuai ucapannya dulu.
"Nana" panggilnya dalam hati.
"Apa kau baik - baik saja? "tanya Damar melihat keterdiaman Rama.
"Ehmmmm..... Aku harus pergi" lalu beranjak berdiri.
"Tapi kau belum menyentuh makananmu"
Rama melirik makanannya lalu menatap Damar kembali. "Aku pergi dulu"
Damar menghembuskan nafasnya pelan melihat kepergian Rama.
__ADS_1
"Semoga dengan begini kau bisa menentukan pilihanmu"
Selain untuk meminta maaf, Damar juga punya rencana untuk mendekati Nana agar Rama bisa menyadari perasaannya sebelum semuanya terlambat. Tapi entahlah apa yang terjadi dengan perasaannya.
*
*
"Aaaaaaaa........... " teriak seorang anak kecil menuju ke arah Nana yang sedang melayani customer dengan eskrim ditangannya dan eskrim itu menempel sempurna di pakaian Nana.
"Maaf tante, April gak sengaja, tadi ada anak nakal yang mengejar April" kata anak perempuan itu menyesal.
Nana menatap anak kecil yang terlihat menggemaskan, sepertinya anak perempuan di hadapannya itu benar merasa bersalah. Usianya mungkin sekitar tujuh tahunan.
Nana berjongkok untuk menyetarakan tingginya dengan anak itu. "Kau ingin tante maafkan?" tanya Nana dan anak kecil itupun mengangguk. "Baiklah, beri tante satu ciuman" Nana memberikan pipinya.
Cup.... anak kecil itu segera mencium Nana, lalu tersenyum memperlihatkan gigi putihnya yang masih utuh.
"Dimana orang tuamu? " tanya Nana. Lalu anak itu menunjuk ke arah restoran yang berada tepat di sebelah toko tempat Nana bekerja. Restoran yang baru buka beberapa minggu yang lalu.
"Kalian sedang makan disana?" tanya Nana.
"Tidak tante, abi bekerja disana"
"Bekerja? "
"Ya tante"
Kenapa membawa anak kecil bekerja dan tidak menjaganya, bagaimana kalau dia berlarian kesana - kemari kemudian ada kendaraan lewat.
Belum berucap tiba - tiba ada seorang laki - laki yang memanggil nama anak permepuan di depannya.
"April" panggil laki - laki itu, sontak membuat kedua wanita besa usia itu menoleh ka arah suara yang memanggil.
"Abi" teriak April lalu berhambur kepelukan abinya. "Abi eskrimku mengenai baju tante itu" menunjuk eskrim yang dipegangnya lalu ke arah Nana.
Abinya April melangkah mendekati Nana.
"Maaf membuat bajumu kotor"
__ADS_1
"Tidak apa - apa" jawabnya lembut. " Tapi lain kali jaga dengan baik kalau membawanya bekerja" lanjutnya sedikit ketus. Nana tidak suka jika ada orangtua yang lalai menjaga anaknya, meskipun ia belum merasakan punya anak.